TULUNGAGUNG - Di beberapa sudut rumah di Tulungagung, masih bisa kita temukan kasur yang bentuknya sudah gembung sebelah, kainnya dijahit tambal-sulam, tapi tetap setia jadi tempat tidur favorit keluarga itulah kasur kapuk legendaris.
Kasur kapuk ini bukan cuma soal fungsi, tapi soal kenangan di Tulungagung. Ada yang sudah diwariskan dari kakek-nenek, bahkan katanya, umurnya lebih tua dari cucu-cucunya.
Meski bentuknya sudah nggak simetris, dan kalau ditiduri bunyinya kadang "krek-krek", tapi tetap empuknya nggak ngalah. Sensasinya beda dengan spring bed modern di Tulungagung yang lebih hangat, lebih akrab, lebih "rumah".
Di kampung, kasur kapuk sering jadi sumber becandaan keluarga.
Ada yang bilang, kalau tidur di kasur kapuk, bisa tahu siapa yang paling berat badannya, soalnya bagian itu langsung jeblos duluan.
Ada juga yang cerita, kasur kapuknya udah pernah “disunat” alias dibongkar dan diisi ulang kapuknya saking sayangnya.
Uniknya, meski zaman sudah berubah dan kasur busa atau spring bed makin merajalela, kasur kapuk masih punya tempat spesial.
Selain karena bisa dirapikan ulang, juga karena tampilannya yang klasik dan estetik kadang dibalut kain motif bunga atau garis warna-warni khas zaman dulu.
Buat generasi muda, kasur ini sering jadi latar foto-foto nostalgia atau konten lucu di media sosial.
Kasur kapuk Tulungagung bukan sekadar tempat tidur.
Ia adalah penjaga memori, saksi bisu masa kecil, tumpuan saat begadang, sakit demam, atau ngobrol ngalor-ngidul sampai ketiduran.
Ia bukan sekadar barang, tapi bagian dari warisan rumah tangga Indonesia yang hangat dan penuh cerita. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah