TULUNGAGUNG - Di banyak dapur rumah di Tulungagung, ada satu benda yang tak tergantikan meski usianya sudah lebih tua dari sebagian penghuninya wajan aluminium berwarna coklat kehitaman, hasil dari kerak, jelaga, dan sejarah panjang pemakaian.
Meski bentuknya sudah penyok, warnanya gosong, dan gagangnya hampir lepas, wajan ini tetap jadi andalan ibu-ibu saat memasak.
Rasanya tak lengkap masak sambal atau goreng tempe kalau tidak pakai wajan ini.
Wajan ini bukan sekadar alat dapur. Ia adalah simbol keawetan, kesetiaan, dan kenangan dapur masa lalu.
Ada yang sudah menggunakannya selama puluhan tahun, bahkan diwariskan turun-temurun. Tak jarang, bagian pegangannya dibalut kain bekas, kawat, atau bahkan diganjal kayu agar tetap bisa digunakan.
Yang menarik, meski kini banyak pilihan wajan modern berbahan anti lengket, stainless steel, hingga wajan listrik, posisi wajan tua ini tak tergoyahkan.
Ia tetap jadi pilihan utama saat butuh rasa masakan yang ‘asli rumah’ atau sekadar nostalgia masa kecil.
Fenomena ini juga sering dijadikan bahan konten di media sosial. Wajan tua dijadikan bintang utama, lengkap dengan narasi lucu seperti “Gosongmu tak mengurangi cintaku” atau “Wajan ini lebih kuat dari hubungan LDR.”
Banyak netizen yang langsung merasa relate dan ikut memamerkan wajan legendaris mereka di kolom komentar.
Wajan coklat tua ini bukan hanya soal fungsi, tapi juga soal emosi dan memori. Ia adalah saksi bisu bagaimana sebuah rumah tangga bertumbuh, bagaimana ibu memasak untuk keluarga, bahkan bagaimana dapur menjadi tempat kumpul dan cerita.
Di Tulungagung, wajan ini tak hanya ada di rumah-rumah lama. Di banyak warung makan sederhana, wajan seperti ini masih digunakan untuk memasak dalam porsi besar. Katanya, makin lama dipakai, makin ‘jadi’ rasanya.
Jadi, kalau kamu main ke Tulungagung dan melihat wajan tua tergantung di dapur rumah atau warung, jangan anggap remeh.
Bisa jadi, itu adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sudah menghidangkan ribuan piring makan hangat dan kenangan masa kecil yang tak tergantikan. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah