RADAR TULUNGAGUNG – Di tengah kemajuan teknologi audio dan maraknya hiburan rakyat termasuk di Tulungagung, muncul dua istilah yang kini semakin populer di tengah masyarakat Tulungagung: sound system dan sound horeg.
Untuk diketahui warga Tulungagung, keduanya sama-sama mengacu pada perangkat tata suara, namun perbedaan di antara keduanya sangat mencolok.
Sayangnya, tak sedikit warga Tulungagung yang masih mencampuradukkan keduanya, sehingga menimbulkan kesalahpahaman hingga polemik di masyarakat.
Tulungagung dikenal sebagai daerah yang rutin menggelar berbagai event formal maupun keagamaan.
Baca Juga: Mengenal Thomas Alva Edi Sound Horeg alias Memed, Sosok Viral yang Disebut Anomali Dunia Maya
Dalam konteks ini, sound system merupakan perangkat tata suara profesional yang digunakan untuk memperkuat suara dalam acara seperti seminar, konser musik, pengajian, pernikahan, dan pertemuan resmi.
Sistem ini biasanya dirancang secara teknis oleh tenaga ahli dengan perhitungan akustik yang presisi sesuai kebutuhan ruang dan jumlah audiens.
Di Tulungagung, penggunaan sound system yang profesional dapat ditemukan di gedung pertemuan, hotel, aula sekolah, dan tempat ibadah.
Ciri khas dari sound system adalah kualitas suaranya yang jernih, seimbang, dan tidak mendominasi satu frekuensi saja terutama bass.
Pengoperasiannya pun melibatkan teknisi berpengalaman agar hasilnya optimal dan tidak mengganggu lingkungan sekitar.
Berbeda dengan sound system, istilah sound horeg lebih akrab di telinga masyarakat desa di wilayah seperti Tulungagung.
Sound horeg merujuk pada sistem tata suara yang identik dengan volume sangat keras, dominasi bass ekstrem, dan tampilan visual yang mencolok.
Sistem ini biasa ditemukan dalam hajatan pernikahan, pesta ulang tahun, acara joget malam, hingga konten-konten viral di media sosial.
Di beberapa desa Tulungagung, sound horeg sering menjadi pusat hiburan tersendiri.
Tidak jarang, panitia acara sengaja menyewa sistem suara dengan belasan speaker besar hanya untuk unjuk kekuatan suara.
Aspek teknis sering kali diabaikan, yang penting adalah dentuman bass yang bisa terasa hingga jarak ratusan meter.
Tak sedikit pula warga yang menjadikan sound horeg sebagai ajang lomba atau kontes adu suara keras.
Meski kontroversial, sound horeg di Tulungagung tidak sepenuhnya negatif.
Baca Juga: Ekspresi Datar Saat Main Sound Horeg, Operator Ini Viral Bikin Warganet Terhibur
Di sisi lain, keberadaannya turut menggerakkan ekonomi lokal.
Banyak pemuda yang membuka jasa sewa sound, teknisi rumahan yang menyediakan instalasi speaker, hingga vendor kecil yang menyuplai kebutuhan panggung.
Bagi masyarakat desa, sound horeg bukan hanya soal hiburan, tapi juga simbol status sosial dan semangat kebersamaan.
Namun, dampak negatif dari sound horeg juga tidak bisa diabaikan.
Di beberapa wilayah Tulungagung, dentuman suara yang berlebihan telah menimbulkan keluhan warga, mengganggu kenyamanan lingkungan, bahkan memicu konflik antar tetangga.
Baca Juga: Sound Horeg Dinilai Ganggu Kenyamanan, Warganet Soroti Volume yang Ekstrem
Anak-anak sulit tidur, orang tua terganggu istirahatnya, dan hewan peliharaan pun menjadi stres. Tak heran jika Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun angkat bicara.
MUI menegaskan bahwa penggunaan sound horeg yang berlebihan dan mengganggu ketenangan bisa masuk dalam kategori yang diharamkan.
Pernyataan ini bukan tanpa alasan. Selain menyebabkan kebisingan ekstrem, penggunaan sound horeg yang tidak terkontrol juga bisa merusak struktur rumah, meningkatkan potensi kekerasan, hingga merangsang perilaku tidak senonoh dalam acara joget terbuka.
Lalu, bagaimana solusinya? Di Tulungagung, sudah saatnya dibuat regulasi yang jelas mengenai penggunaan perangkat suara, khususnya untuk acara publik.
Pemerintah desa bisa mulai menyusun peraturan lokal yang mengatur batas maksimal volume, waktu penggunaan, dan zona larangan.
Misalnya, tidak boleh menggunakan sound horeg setelah pukul 22.00 atau di dekat fasilitas umum seperti rumah sakit dan sekolah.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat Tulungagung juga menjadi kunci.
Masyarakat perlu diberi pemahaman mengenai pentingnya tata suara yang ramah lingkungan. Bahwa hiburan tidak harus merusak ketenangan.
Bahwa tradisi bisa tetap berjalan tanpa mengorbankan kenyamanan bersama.
Di sisi lain, para penyedia jasa sound juga perlu dibekali pelatihan agar mampu mengelola sistem suara secara profesional.
Tulungagung patut menjadi contoh daerah yang mampu memadukan antara modernitas dan kearifan lokal.
Dalam konteks ini, membedakan antara sound system dan sound horeg menjadi langkah awal menuju harmoni.
Baca Juga: MUI Pusat Angkat Bicara Terkait Fenomena Sound Horeg dan Fatwa Haram
Perangkat suara adalah alat, bagaimana ia digunakan bergantung pada niat dan pemahaman penggunanya.
Dengan pendekatan yang bijak, sound horeg sebenarnya bisa tetap menjadi bagian dari hiburan rakyat Tulungagung tanpa menimbulkan masalah.
Jadikan dentuman bukan sebagai sumber konflik, tapi sebagai gema kegembiraan yang membaur dengan kearifan lokal dan nilai-nilai sosial yang menghormati sesama. ****
Editor : Dharaka R. Perdana