Menurut teori ini, dejavu muncul akibat adanya gangguan ringan pada aktivitas listrik di otak. Gangguan tersebut menimbulkan impuls atau aliran listrik yang tidak sepenuhnya normal, mirip dengan kondisi yang dialami penderita epilepsi.
Namun, berbeda dengan epilepsi, gangguan listrik ini hanya berlangsung sesaat dan tidak memengaruhi fungsi otak secara keseluruhan.
5. Kelelahan dan Stres
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa kelelahan dan stress dapat memicu kemungkinan mengalami dejavu.
Dejavu biasanya hanya berlangsung beberapa detik. Dejavu lebih sering dialami ketika seseorang sedang lelah atau stres.
Fenomena ini tidak berbahaya, tetapi jika terjadi sangat sering dan disertai gejala lain, sebaiknya konsultasikan ke dokter.
Dejavu sering kali dianggap sebagai pertanda mistis atau supranatural oleh sebagian orang, misalnya dikaitkan dengan pengalaman masa lalu, reinkarnasi, atau firasat.
Baca Juga: 21 Agustus, Sejarah Pencurian Lukisan Fenomenal Mona Lisa yang Menggemparkan Dunia
Namun, secara ilmiah dejavu dijelaskan sebagai fenomena psikologis dan neurologis yang berkaitan dengan cara otak memproses memori dan persepsi.
Jadi, dejavu bukan pertanda mistis, melainkan respons otak yang membuat kita merasa seolah-olah pernah mengalami suatu peristiwa, padahal sebenarnya baru pertama kali mengalaminya.***