RADAR TULUNGAGUNG - Pernah melihat laut bercahaya biru di malam hari atau kunang-kunang berkelip di hutan?
Fenomena tersebut adalah contoh bioluminesensi, yaitu kemampuan makhluk hidup menghasilkan cahaya dari tubuhnya.
Cahaya alami ini tidak hanya indah dipandang, tetapi juga memiliki fungsi biologis penting.
Baca Juga: Psikologi di Balik Teori Konspirasi, Kenapa Banyak Orang Percaya?
Artikel ini membahas fakta-fakta menarik tentang bioluminesensi secara ilmiah.
Apa Itu Bioluminesensi?
Bioluminesensi adalah kemampuan makhluk hidup menghasilkan cahaya alami dari tubuhnya melalui reaksi kimia.
Cahaya ini terbentuk ketika molekul yang disebut luciferin bereaksi dengan oksigen dengan bantuan enzim luciferase, sehingga menghasilkan sinar yang biasanya berwarna biru, hijau, atau kuning.
Baca Juga: Manfaat Bersepeda untuk Hilangkan Stres dan Menjaga Kesehatan Mental
Bioluminesensi Berbeda dengan Fosforesensi
Banyak orang sering salah paham dan mengira bioluminesensi sama seperti benda yang bercahaya dalam gelap.
Perbedaannya adalah fosforesensi terjadi karena suatu benda menyerap cahaya lalu memancarkannya kembali.
Sedangkan bioluminesensi adalah cahaya yang benar-benar dihasilkan langsung oleh makhluk hidup melalui proses kimia di dalam tubuhnya.
Bioluminesensi Lebih Sering Ditemukan di Laut
Fenomena bioluminesensi paling banyak ditemukan di laut, terutama pada organisme laut dalam.
Sekitar 80 persen makhluk bioluminesen hidup di lautan, mulai dari plankton kecil, ubur-ubur, cumi-cumi, hingga ikan predator laut dalam.
Hal ini terjadi karena cahaya matahari tidak bisa menembus laut dalam, sehingga banyak makhluk hidup menggunakan cahaya dari tubuh mereka untuk bertahan hidup.
Baca Juga: Menu Sarapan Sehat dan Bergizi yang Bikin Energi Penuh Seharian
Contoh Hewan dengan Bioluminesensi
Banyak makhluk hidup di darat maupun laut memiliki kemampuan bioluminesensi.
Contohnya adalah plankton jenis dinoflagellata yang membuat laut berkilau biru di malam hari.
Mereka adalah kunang-kunang yang bercahaya untuk mencari pasangan, cumi-cumi yang memancarkan cahaya sebagai kamuflase, ubur-ubur laut dalam yang menggunakan cahaya untuk mengecoh predator, dan ikan anglerfish yang memakai cahaya di kepalanya sebagai umpan untuk memikat mangsa.
Baca Juga: Begini Fakta Salju di Gunung Bromo, Fenomena Embun Beku Eksotis
Fungsi Bioluminesensi di Alam
Cahaya alami ini bukan sekadar indah, tetapi juga berfungsi penting bagi kelangsungan hidup. Bioluminesensi membantu hewan menarik mangsa, seperti ikan anglerfish yang menggunakan cahaya untuk memikat ikan kecil.
Ada pula yang menggunakannya untuk menghindari predator, misalnya ubur-ubur yang mengeluarkan kilauan cahaya mengejutkan musuh.
Fungsi lainnya adalah untuk komunikasi, contohnya kunang-kunang yang berkedip dengan pola tertentu agar bisa berinteraksi dan kawin.
Beberapa hewan juga menggunakan bioluminesensi untuk kamuflase, sehingga tubuhnya menyatu dengan lingkungan sekitar dan tidak mudah terlihat.
Warna Cahaya Tergantung Lingkungan
Warna cahaya bioluminesensi bisa berbeda-beda, namun paling umum adalah biru dan hijau.
Cahaya biru-hijau dipilih secara alami karena panjang gelombangnya mampu menembus air laut lebih jauh dibanding warna lain.
Sementara itu, di darat, seperti pada kunang-kunang, cahaya cenderung berwarna kuning kehijauan karena sesuai dengan sensitivitas mata serangga lain yang menjadi target komunikasinya.
Bioluminesensi Juga Bisa Berbahaya
Tidak semua bioluminesensi aman atau hanya sebatas pemandangan indah.
Beberapa jenis plankton bercahaya, khususnya dinoflagellata, dapat menyebabkan fenomena red tide atau pasang merah yang beracun.
Ledakan populasi organisme ini bisa melepaskan racun yang berbahaya bagi ikan, hewan laut lainnya, bahkan manusia yang mengonsumsi hasil laut dari wilayah tersebut.
Bioluminesensi Menginspirasi Teknologi
Fenomena bioluminesensi juga banyak dipelajari oleh ilmuwan karena memiliki potensi besar untuk teknologi masa depan.
Baca Juga: Wayang Kulit Masihkah Diminati Anak Muda di Era Digital? Ternyata Masih Ada Harapan
Protein bercahaya dari ubur-ubur, misalnya, digunakan dalam penelitian biologi molekuler untuk melacak aktivitas sel.
Para peneliti juga mengembangkan gagasan memanfaatkan mekanisme bioluminesensi alami untuk menciptakan sumber cahaya ramah lingkungan, seperti lampu hidup yang hemat energi.
Bioluminesensi adalah fenomena alam yang luar biasa, di mana makhluk hidup menghasilkan cahaya alami dari tubuhnya.
Dari plankton yang membuat laut berkilau, hingga kunang-kunang yang menghiasi malam, bioluminesensi bukan hanya indah tetapi juga penting untuk bertahan hidup.
Selain menjadi bagian unik dari keanekaragaman hayati, fenomena ini juga membuka peluang besar dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.***
Editor : Vidya Sajar Fitri