RADAR TULUNGAGUNG- Pernahkah kamu mendengar anggapan bahwa perempuan lebih tahan sakit dibandingkan laki-laki?
Banyak orang percaya hal ini karena perempuan harus menghadapi menstruasi setiap bulan, bahkan proses persalinan yang dikenal sebagai salah satu rasa sakit paling hebat di dunia.
Namun, benarkah perempuan memang memiliki ketahanan lebih terhadap rasa sakit?
Ternyata, jawabannya bukan sekadar mitos, melainkan juga sudah diteliti secara ilmiah.
Perbedaan Biologis antara Perempuan dan Laki-Laki
Tubuh perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan yang cukup signifikan, termasuk dalam hal sistem hormon dan cara otak memproses rasa sakit.
Beberapa penelitian menemukan bahwa perempuan memiliki ambang toleransi yang berbeda, sehingga rasa sakit bisa dihadapi dengan cara yang unik.
- Peran Hormon Estrogen
Hormon estrogen yang dominan pada tubuh perempuan ternyata berpengaruh pada sistem saraf dan cara tubuh merespons nyeri.
Estrogen dapat membantu meningkatkan ketahanan tubuh terhadap rasa sakit tertentu, meskipun pada kondisi lain justru bisa memperparah rasa sakit, misalnya saat sindrom pramenstruasi (PMS).
- Proses Melahirkan dan Adaptasi Tubuh
Salah satu alasan kuat kenapa perempuan dikenal lebih tahan sakit adalah proses melahirkan.
Saat persalinan, tubuh melepaskan hormon endorfin alami yang berfungsi sebagai “obat penghilang rasa sakit”.
Adaptasi ini membuat perempuan memiliki daya tahan luar biasa ketika menghadapi rasa sakit yang sangat intens.
- Perbedaan Cara Otak Memproses Nyeri
Penelitian menunjukkan bahwa otak perempuan dan laki-laki memproses rasa sakit dengan cara berbeda.
Pada perempuan, area otak yang mengatur emosi sering kali lebih aktif, sehingga rasa sakit bisa “diterima” dengan mekanisme psikologis tertentu.
Dengan kata lain, meski terasa sakit, perempuan lebih mampu mengendalikan respons emosionalnya.
Faktor Psikologis dan Sosial
Selain faktor biologis, daya tahan perempuan terhadap rasa sakit juga dipengaruhi oleh lingkungan dan kebiasaan hidup.
- Mental dan Empati yang Lebih Kuat
Perempuan cenderung terbiasa menghadapi tantangan emosional sejak dini, misalnya ketika harus mengatur perasaan, menghadapi stres, hingga multitasking.
Hal ini membuat mereka lebih kuat secara mental dalam menahan rasa sakit.
- Norma Sosial dan Budaya
Di banyak budaya, perempuan diajarkan untuk kuat dan tidak mudah mengeluh, terutama saat menjalani peran sebagai ibu dan pengasuh.
Kebiasaan ini membuat daya tahan terhadap rasa sakit terbentuk seiring waktu.
Jadi, benar adanya bahwa perempuan memiliki ketahanan lebih besar terhadap rasa sakit, baik karena faktor biologis seperti hormon dan sistem saraf, maupun karena faktor psikologis serta sosial.
Tidak heran jika perempuan sering disebut “tangguh” bukan hanya secara emosional, tetapi juga fisik.
Perempuan bukan hanya lebih tahan sakit, tapi juga memiliki kekuatan luar biasa untuk tetap bertahan, tersenyum, dan menjalani hidup meski menghadapi tantangan besar.***
Editor : Vidya Sajar Fitri