RADAR TULUNGAGUNG - Fenomena astronomi yang menakjubkan, gerhana bulan total (GBT) atau yang dikenal juga dengan sebutan "Blood Moon", akan segera menghiasi langit Indonesia pada 7 September mendatang.
Peristiwa gerhana bulan total yang langka ini memberikan kesempatan bagi seluruh masyarakat di Indonesia, serta di wilayah Eropa, Australia, Afrika, dan Asia untuk menyaksikan pemandangan Bulan yang akan tampak berwarna jingga, merah, atau bahkan coklat gelap.
Untuk mengetahui gerhana bulan total ini dengan jelas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Menurut Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA), fenomena gerhana bulan ini akan berlangsung dengan total durasi yang cukup panjang, mencapai 5 jam 27 menit.
Ini adalah satu-satunya gerhana bulan total sekaligus yang terakhir dapat diamati dari wilayah Indonesia sepanjang tahun ini.
Judhistra Aria Utama dari Laboratorium Bumi dan Antariksa, Program Studi Fisika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menjelaskan bahwa gerhana bulan total terjadi ketika seluruh permukaan Bulan masuk ke dalam bayang-bayang gelap Bumi.
Peristiwa ini terjadi saat posisi Matahari, Bumi, dan Bulan sejajar atau berada di satu garis lurus, menyebabkan Bulan masuk ke bayangan inti (umbra) Bumi.
Warna merah yang khas pada Bulan selama fenomena ini, yang menjulukinya sebagai Blood Moon, disebabkan oleh cahaya Matahari yang dipantulkan permukaan Bulan dibiaskan oleh atmosfer Bumi.
Gelombang cahaya merah dan jingga, yang memiliki panjang gelombang lebih panjang dibandingkan biru dan ungu, berhasil menembus atmosfer Bumi, sementara gelombang biru dan ungu tersebar sebelum dapat menembus.
Akibatnya, Bulan tampak kemerahan atau jingga, dengan tingkat kemerahan yang bisa bervariasi tergantung pada jumlah debu atau awan di atmosfer Bumi.
Memahami proses ini adalah langkah awal yang baik sebelum mempelajari lebih lanjut tentang cara melihat gerhana bulan total.
Untuk Anda yang berada di Indonesia, khususnya di wilayah barat, semua fase gerhana bulan total ini dapat diamati. Fenomena ini akan dimulai pada pukul 22:28 WIB pada 7 September dan berakhir pada 03:55 WIB pada 8 September.
Fase total, yaitu saat Bulan benar-benar terperangkap dalam umbra Bumi dan menampilkan warna merah darahnya, akan berlangsung selama 1 jam 22 menit, yaitu dari pukul 00:30 WIB hingga 01:52 WIB.
Penting untuk dicatat bahwa di Papua bagian timur, Bulan mungkin akan terbenam sebelum seluruh proses gerhana selesai.
Secara umum, gerhana bulan total lebih mudah dilihat dibandingkan gerhana matahari karena dapat diamati oleh siapa saja yang berada di sisi malam Bumi selama peristiwa berlangsung. Jadi, cara melihat gerhana bulan ini terbilang cukup mudah dan aman.
Baca Juga: Kenapa Air Laut Asin tapi Air Sungai Tawar Padahal Saling Berhubungan? Ini Penjelasan Ilmiahnya!
Masyarakat dapat menyaksikan gerhana bulan total ini dengan mata telanjang tanpa memerlukan alat bantu atau pelindung mata khusus.
Untuk mendapatkan pemandangan yang optimal, disarankan untuk mengamatinya di lokasi dengan cuaca cerah, tidak hujan, tidak berawan, dan minim polusi cahaya.
Meskipun tidak wajib, penggunaan binokular dapat membantu Anda melihat fitur-fitur Bulan dan perubahan warnanya dengan lebih jelas.
Binokular juga memungkinkan Anda melihat pita biru kehijauan di Bulan pada awal dan akhir fase total, yang disebabkan oleh bagian atas atmosfer Bumi yang kaya ozon menyaring panjang gelombang merah.
Teleskop juga dapat digunakan jika Anda ingin melihat fitur-fitur Bulan dalam detail yang lebih halus atau untuk fotografi.
Jika Anda berencana memotret, kamera bahkan kamera ponsel dapat digunakan, dan tripod serta baterai cadanga akan sangat membantu menjaga stabilitas dan memastikan Anda tidak kehabisan daya.
Bagi masyarakat yang ingin merasakan pengalaman pengamatan bersama, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan mengadakan pengamatan publik di dua lokasi di Indonesia.
Lokasi pertama adalah di Stasiun Meteorologi Komodo Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, yang akan dibuka pada 7 September 2025 pukul 19:00-21:30 WITA. Lokasi kedua adalah di Lapangan dr. Murdjani, Banjarbaru, dengan seremonial pada waktu yang sama.
Kedua acara ini bersifat terbuka untuk umum. Apabila Anda tidak dapat hadir secara langsung, BMKG juga menyediakan opsi untuk menikmati gerhana bulan total melalui siaran langsung online yang dapat diakses melalui link https://gerhana.bmkg.go.id/.
Ini adalah cara melihat gerhana bulan secara alternatif jika Anda terkendala lokasi atau cuaca.
Fenomena gerhana bulan tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga memiliki nilai historis dan ilmiah yang signifikan.
Sejarah mencatat bagaimana penjelajah Benua Amerika, Christopher Columbus, pernah memanfaatkan pengetahuannya tentang gerhana bulan total pada 29 Februari 1504 untuk mengelabui suku Arawak di Jamaika.
Dengan menunjukkan Bulan purnama yang tampak merah darah, ia berhasil menakuti penduduk asli agar bersedia menyediakan perbekalan untuk armadanya.
Secara ilmiah, gerhana bulan telah lama menjadi alat penting untuk memahami Bumi dan pergerakannya di luar angkasa.
Filsuf Yunani kuno, Aristoteles, mengamati bayangan bulat Bumi pada Bulan saat gerhana, yang membuktikan bahwa Bumi berbentuk sferoid.
Astronom Yunani Hipparchus juga menemukan fenomena presesi atau goyangan sumbu Bumi dengan membandingkan posisi bintang selama gerhana bulan.
Bahkan, para astronom modern menggunakan catatan gerhana kuno untuk menentukan laju perlambatan rotasi Bumi.
Baca Juga: Terlalu Sering Overthinking? Ini Dampak Nyata bagi Otak dan Mental
Selain menjadi tontonan, gerhana bulan total juga memberikan kesempatan edukasi. Siswa dan pengamat dapat menggunakan Skala Kecerahan Gerhana Bulan Danjon (Danjon Scale of Lunar Eclipse Brightness) untuk mengamati dan mengklasifikasikan kecerahan serta warna Bulan selama gerhana.
Skala ini membantu dalam memahami variasi penampilan Bulan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti awan, debu, dan partikel di atmosfer Bumi.
Berbeda dengan gerhana matahari yang memerlukan pelindung mata khusus dan hanya terlihat di area terbatas dalam waktu singkat, gerhana bulan lebih aman dan mudah diamati secara luas.
Ini menjadikannya peristiwa yang sangat dianjurkan untuk disaksikan oleh semua kalangan, menambah wawasan kita tentang keajaiban alam semesta. ****
Editor : Dharaka R. Perdana