Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Gerhana Bulan Pernah Dikaitkan dengan Kematian Tokoh Besar pada Zaman Jahiliyah, Berikut Beberapa Hadis Meriwayatkan

Dharaka R. Perdana • Senin, 8 September 2025 | 06:15 WIB

Ilustrasi gerhana bulan total yang bakal menyambangi Indonesia. (FREEPIK)
Ilustrasi gerhana bulan total yang bakal menyambangi Indonesia. (FREEPIK)

RADAR TULUNGAGUNG - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut gerhana bulan total akan berlangsung pada Minggu malam  (7/9/2025) hingga Senin (8/9/2025) dini hari.

Pada masa awal Islam, sebagian orang memaknai fenomena alam ini dengan beragam tafsir. Ada yang menyebutnya pertanda kematian Ada pula yang memahaminya sebagai pertanda terjadinya sebua peristiwa.

Benarkah demikian? Fenomena gerhana bulan, dalam ajaran Islam merupakan tanda kebesaran Allah SWT.

Baca Juga: Masyarakat Sering Menabuh Kentongan Saat Gerhana Bulan, Ternyata Ini Makna Sebenarnya dalam Budaya Jawa

Di momen tersebut, disyariatkan melaksanakan shalat sunnah gerhana bulan atau dikenal dengan sebutan shalat khusuf.

Pada mulanya, sebelum Islam hadir menerangi peradaban masyarakat jazirah Arab, penduduk setempat percaya bahwa peristiwa gerhana, baik bulan atau matahari berkaitan erat dengan kematian tokoh pembesar.

Baca Juga: Gerhana Bulan Total Bakal Selesai Jelang Subuh, Berikut Urutan Fase Gerhana Hingga Bentuknya Utuh Kembali

Keyakinan tersebut terekam dalam beberapa riwayat hadis. Salah satunya riwayat Ibnu Hibban dalam kitab sahihnya :

فإن رجالًا يزعمون أن كسوف هذه الشمس وكسوف هذا القمر، وزوال هذه النجوم من مطالعها، لموت رجال عظماء من أهل الأرض، إنهم قد كذبوا. ولكنها آيات من آيات الله عز وجل

“Orang-orang menduga bahwa gerhana matahari atau bulan dan fenomena bintang jatuh disebabkan kematian seorang tokoh pembesar di muka bumi, sungguh mereka telah berbohong. Padahal, gerhana adalah salah satu dari sekian tanda kebesaran Allah SWT…” (Sahih Ibnu Hibban, juz 7 hlm 101 no Hadis 2856).

Baca Juga: Sederet Pantangan yang Dilarang Dilakukan saat Gerhana Bulan, Masyarakat Tulungagung Masih Mempercayainya?

Bahkan, dalam satu riwayat ada momen di mana satu-satunya anak Nabi Muhammad SAW dari selain Khadijah, bernama Ibrahim, putra Nabi dari Mariah al-Qibtiyyah, meninggal tepat bersamaan dengan peristiwa gerhana matahari.

كَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ مَاتَ إِبْرَاهِيمُ فَقَالَ النَّاسُ كَسَفَتْ الشَّمْسُ لِمَوْتِ إِبْرَاهِيمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوا وَادْعُوا اللَّهَ

“Pada masa Rasulullah ﷺ pernah terjadi gerhana matahari, yaitu di hari meninggalnya putra beliau, Ibrahim. Orang-orang lalu berkata, “Gerhana matahari ini terjadi karena meninggalnya Ibrahim!” Maka Rasulullah ﷺ pun bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana, maka salat dan berdoalah kalian kepada Allah.” (HR al-Bukhari no Hadis 985)

Adapun awal mula disyariatkannya shalat gerhana, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Misalnya, Syekh al-Qardhawi mengatakan bahwa shalat gerhana dilaksanakan pada tahun kesepuluh Hijriah bertepatan dengan kematian Ibrahim putra Nabi.

Sementara para ulama pengikut Madzhab Syafi’i, menyatakan bahwa shalat gerhana matahari pertama kali disyariatkan pada tahun kedua Hijriyah.

Sementara gerhana bulan pada tahun lima Hijriyah. (Kitab al-Fiqh al-Manhaji ‘Ala Madzhab al-Imam as-Syafi’i, juz 1 hlm 239).

Baca Juga: Langit Tulungagung Bakal Berawan Malam Ini, Masyarakat Tetap Berkesempatan Melihat Gerhana Bulan Total?

Hikmah

Adapun hikmah disyariatkannya shalat gerhana, pertama, untuk menanamkan rasa takut kepada Allah agar seorang hamba meningkatkan ketaatan kepada-Nya. Ini, jelas disabdakan Rasulullah ﷺ:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ، وَلَلَكِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan keduanya tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang. Akan tetapi dengan peristiwa itu Allah Ta’ala ingin membuat para hamba-Nya takut.”

Lebih jauh, dengan disyariatkannya shalat gerhana, secara langsung mematahkan mitos jahiliyyah.

Dugaan mereka bahwa gerhana berkaitan dengan kematian seseorang, dibantah, dan mendorong peradaban masyarakat ke arah pembuktian sains, bukan keyakinan berdasarkan takhayul semata. ****

 

Editor : Dharaka R. Perdana
#jahiliyah #kematian tokoh #gerhana bulan total