RADAR TULUNGAGUNG – Malam ini langit mulai menampilkan salah satu fenomena astronomi yang mempesona dan selalu dinanti-nanti, yaitu gerhana bulan.
Saat ini, Minggu, (7/9) pukul 23.30, fase awal gerhana sudah terlihat, di mana bayangan samar mulai menutupi permukaan bulan. Hal ini biasa disebut fase penumbra.
Gerhana bulan terjadi ketika bumi berada di antara matahari dan bulan, sehingga cahaya matahari yang biasanya menerangi bulan terhalang oleh bayangan bumi.
Dalam fase awal ini, bulan mulai masuk ke dalam penumbra bumi, yaitu area bayangan luar yang membuat cahaya bulan tampak meredup.
Pada tahap ini, perubahan tampak samar, hanya sedikit redup. Pada fase ini, bulan belum sepenuhnya gelap karena sebagian cahaya matahari masih sampai ke permukaan bulan.
Secara sederhana, Umbra adalah bayangan inti bumi, gelap total, yang menimbulkan gerhana sebagian atau total.
Sedangkan Penumbra adalah bayangan luar bumi, cahaya masih ada, tetapi berkurang intensitasnya.
Ciri-cirinya, perubahan cahaya sangat halus, seperti bulan terlihat sedikit lebih redup, terutama di sisi yang mulai masuk ke penumbra.
Tidak selalu disadari banyak orang sering melewatkan fase ini karena perubahan warnanya samar, berbeda dengan fase umbra yang jelas terlihat.
Fase penumbra bisa berlangsung lebih lama dibanding fase lainnya, karena bulan melewati area penumbra yang cukup lebar.
Fase penumbra terjadi karena bumi memiliki atmosfer dan ukuran bayangan yang besar.
Saat matahari menyinari bumi, bayangan yang dihasilkan tidak hanya berupa satu garis lurus, tetapi terdiri dari dua bagian yaitu, Bayangan inti (umbra) dan Bayangan samar (penumbra).
Bulan yang melewati penumbra masih mendapat cahaya matahari tidak langsung, sehingga hanya sedikit meredup.
Fase penumbra adalah tahap peralihan sebelum bulan masuk ke bayangan inti bumi.
Walaupun terlihat samar, fase ini menandai awal gerhana bulan dan menjadi bagian penting dari keseluruhan rangkaian fenomena.
Berbeda dengan gerhana matahari yang membutuhkan kacamata khusus, gerhana bulan aman dilihat dengan mata telanjang.
Bahkan, fenomena ini bisa menjadi momen edukasi menarik bagi masyarakat maupun pelajar untuk lebih mengenal astronomi. ****
Editor : Dharaka R. Perdana