RADAR TULUNGAGUNG - Fenomena gerhana masih akan terjadi pada September ini usai gerhana bulan total yang baru saja usai, yakni gerhana matahari.
Apakah masyarakat Tulungagung dan sekitarnya bakal menyaksikan fenomena gerhana matahari ini?
Dilansir dari https://science.nasa.gov pada 21 September 2025 fenomena langit ini akan menghiasi sebagian wilayah Bumi.
Gerhana matahari kali ini bukan gerhana total atau cincin, melainkan gerhana matahari sebagian atau parsial yang akan terlihat di Australia, Antartika, Samudra Pasifik, dan Samudra Atlantik.
Walau tidak terlihat di Indonesia, fenomena ini tetap menarik bagi para astronom dan penggemar langit karena memperlihatkan momen langka ketika Bulan melintas di depan Matahari.
Menurut catatan astronomi, gerhana matahari terjadi ketika posisi Matahari, Bulan, dan Bumi sejajar sempurna sehingga bayangan Bulan menutupi cahaya Matahari.
Dalam kasus gerhana matahari sebagian, Bulan hanya menutup sebagian piringan Matahari sehingga penampakan tetap terang, namun dengan bentuk Matahari yang tampak “tergigit”.
Fenomena pada 21 September 2025 ini menjadi pembuka rangkaian gerhana matahari berikutnya.
Setelah itu, pada 17 Februari 2026, dunia akan menyaksikan gerhana matahari cincin yang terlihat jelas di Antartika, dan sebagian di Afrika, Amerika Selatan, Samudra Atlantik, Pasifik, hingga Samudra Hindia.
Sementara puncaknya terjadi pada 12 Agustus 2026, saat gerhana matahari total akan terlihat di Greenland, Islandia, Spanyol, Rusia, dan sebagian Portugal, dengan pengamatan gerhana sebagian bisa dinikmati di Eropa, Afrika, Amerika Utara, hingga Samudra Arktik.
Para pakar mengingatkan, meski gerhana matahari menjadi peristiwa langit yang indah, pengamatan harus dilakukan dengan aman menggunakan kacamata khusus gerhana atau filter teleskop yang sesuai.
Karena melihat langsung ke arah Matahari tanpa pelindung bisa merusak retina mata secara permanen.
Fenomena gerhana matahari 21 September 2025 ini menjadi salah satu bukti betapa menakjubkannya keteraturan gerakan benda langit, sekaligus pengingat akan kebesaran alam semesta. ****
Editor : Dharaka R. Perdana