Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tak Hanya Gerhana Bulan Total, Ada Berbagai Fenomena Langit di Bulan September 2025 Yang Tak Kalah Menarik

Mohammad Dzakwan Wahyu Nur Fauzan • Selasa, 9 September 2025 | 05:00 WIB
Ilustrai Para Pengamat Satronomi
Ilustrai Para Pengamat Satronomi

TULUNGAGUNG - Bulan September 2025 menjanjikan tontonan menarik bagi masyarakat di Tulungagung dan seluruh Indonesia.

Berbagai fenomena langit di bulan September ini akan menghiasi angkasa, menawarkan keindahan alam semesta yang langka.

Sorotan utama adalah Gerhana Bulan Total pada 7-8 September, menampilkan "bulan darah" yang memukau dan dapat disaksikan dari seluruh Nusantara.

Fenomena Gerhana Bulan Total ini, yang dapat diamati dengan mata telanjang dari Sumatera hingga Papua, hanyalah pembuka kemeriahan.

Sepanjang September, serangkaian fenomena langit lainnya akan terjadi, meliputi okultasi bulan, konjungsi planet, oposisi Saturnus, gerhana matahari sebagian, dan ekuinoks.

Ini merupakan kesempatan emas bagi siapa saja untuk menyaksikan langsung keajaiban alam semesta dan memperkaya wawasan astronomi.

Secara ringkas, fenomena langit di bulan September 2025 meliputi Gerhana Bulan Total (7-8 September), Okultasi Bulan Pleiades (12 September), pertemuan Venus-Bulan-Regulus serta Okultasi Bulan Venus (19 September), Oposisi Saturnus (21 September), Gerhana Matahari Sebagian (21 September), dan Ekuinoks September (22 September).

Setiap peristiwa ini membawa pesona unik, menjadikan bulan ini tak terlupakan bagi pengamat langit dan masyarakat umum yang penasaran.

Gerhana Bulan Total: "Bulan Darah" di Langit Indonesia (7-8 September)

Gerhana Bulan Total terjadi saat seluruh bagian Bulan masuk ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi, sehingga cahaya Matahari tidak lagi langsung mengenai permukaannya.

Akibatnya, Bulan akan tampak gelap kemerahan, sering disebut sebagai blood moon.

Fenomena langit langka ini akan terjadi pada Minggu malam, 7 September 2025, hingga Senin dini hari, 8 September 2025, dan dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia jika cuaca mendukung.

Gerhana ini merupakan salah satu gerhana total yang terlihat dari hampir seluruh belahan dunia bagian timur dan akan berlangsung cukup lama.

Jadwal fase gerhana dalam Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB) adalah sebagai berikut:

Penumbra mulai (P1) pukul 22:28 (7 Sep), saat bayangan samar Bumi mulai menyentuh Bulan.

Gerhana sebagian mulai (U1) pukul 23:26 (7 Sep), bayangan gelap mulai terlihat di permukaan Bulan.

Totalitas mulai (U2) pukul 00:30 (8 Sep), ketika Bulan sepenuhnya masuk ke bayangan umbra.

Puncak gerhana (Greatest Eclipse) terjadi pukul 01:11 (8 Sep), fase tergelap gerhana.

Totalitas berakhir (U3) pukul 01:53 (8 Sep), Bulan mulai keluar dari umbra.

Gerhana sebagian berakhir (U4) pukul 02:56 (8 Sep), dan Penumbra berakhir (P4) pukul 03:55 (8 Sep), menandakan gerhana selesai sepenuhnya.

Gerhana ini berlangsung selama lebih dari 5 jam (dari P1 hingga P4), dengan durasi totalitas sekitar 83 menit.

Bulan akan berada di konstelasi Aquarius. Pengamatan dapat dilakukan dengan mata telanjang, tanpa perlu teleskop atau kacamata khusus, meskipun teropong kecil dapat meningkatkan pandangan.

Okultasi Bulan Pleiades: Bulan Menutupi Gugus Bintang (12 September)

Pada dini hari tanggal 12 September, Bulan akan melewati gugus bintang Pleiades (magnitudo 1,6), sehingga bintang-bintangnya untuk sementara waktu tertutup dari pandangan.

Peristiwa Okultasi Bulan ini diperkirakan terjadi sekitar pukul 03:30 WIB hingga 05:50 WIB.

Okultasi ini akan terlihat di antara garis bujur 20°BT dan 90°BT serta garis lintang 20°LU dan 60°LU, mencakup wilayah Afrika bagian utara, Eropa Timur, dan Asia Barat.

Di luar wilayah tersebut, Bulan akan melintas dalam jarak 1° dari Pleiades.

Karena bulan akan berada dalam fase cembung muda, cahayanya tidak akan lebih terang dari bintang-bintang Pleiades yang lebih terang.

Konjungsi dan Okultasi Bulan Venus: Pertemuan Langit yang Memukau (19 September)

Tanggal 19 September akan dihiasi oleh pertemuan langit yang menarik.

Venus (magnitudo -3,9), Regulus (magnitudo 1,4), dan Bulan sabit akan bertemu di rasi bintang Leo.

Pertemuan langit ini akan terlihat di seluruh Bumi pada pagi hari. Formasi segitiga tersebut dapat diamati dengan mata telanjang.

Selain itu, antara pukul 17:34 WIB hingga 21:26 WIB, Bulan akan melintas di depan Venus, Bintang Fajar yang cemerlang.

Okultasi bulan yang langka ini akan terlihat dari Afrika, Eropa, Rusia bagian barat, Kanada, Greenland, dan Asia.

Pengamat di luar wilayah ini akan melihat Venus dalam jarak 0°48' dari Bulan.

Oposisi Saturnus: Planet Bercincin di Puncak Kecerahan (21 September)

Pada tanggal 21 September, Saturnus mencapai oposisi yang menandai visibilitas terbaiknya tahun ini.

Pada titik ini, Planet bercincin tersebut akan berada di seberang Matahari di langit, terbit saat matahari terbenam, dan bersinar sepanjang malam pada titik paling terangnya, dengan magnitudo 0,6.

Carilah Saturnus di rasi bintang Pisces, di mana ia akan mengungguli bintang-bintang di dekatnya dengan cahaya keemasannya yang konsisten.

Ini adalah momen ideal untuk mengamati Saturnus, bahkan dengan teleskop kecil.

Gerhana Matahari Sebagian: Waspada dan Aman dalam Pengamatan (21 September)

Di hari yang sama dengan oposisi Saturnus, 21 September juga akan menyajikan Gerhana Matahari Sebagian bagi sebagian dunia.

Bulan akan melintas di depan Matahari, menutupi hingga 85,5% cakramnya.

Gerhana ini diperkirakan terjadi antara pukul 00:29 WIB dan 04:53 WIB.

Penting untuk dicatat bahwa gerhana ini tidak akan terlihat dari Indonesia.

Wilayah yang dapat menyaksikannya adalah Australia, Selandia Baru, Antartika, dan Kepulauan Pasifik.

PERINGATAN SANGAT KRUSIAL:

- Jangan pernah menatap Matahari secara langsung tanpa perlindungan yang tepat.

- Gunakan kacamata gerhana bersertifikat atau filter surya yang aman.

- Kacamata hitam atau optik biasa tidak akan memberikan perlindungan yang memadai dan sangat tidak aman untuk pengamatan gerhana matahari.

Ekuinoks September: Penanda Awal Musim Baru (22 September)

Melengkapi serangkaian fenomena September, tanggal 22 September akan menandai terjadinya Ekuinoks September.

Ekuinoks adalah momen ketika sumbu Bumi tidak miring ke arah maupun menjauhi Matahari.

Ini mengakibatkan durasi siang dan malam hampir sama panjang di seluruh dunia.

Bagi Belahan Bumi Utara, ekuinoks ini menandai dimulainya musim gugur astronomis, sementara di Belahan Bumi Selatan, ekuinoks menandai hari pertama musim semi.

Dengan begitu banyak peristiwa langit yang menakjubkan, bulan September 2025 benar-benar akan menjadi bulan yang luar biasa bagi para pengamat langit.

Dari Gerhana Bulan Total yang memukau seluruh Indonesia hingga peristiwa langka seperti okultasi dan oposisi planet, langit malam dan siang hari akan penuh kejutan.

Pastikan Anda memanfaatkan momen-momen ini untuk mengamati dan mempelajari lebih lanjut tentang keajaiban di atas kita, selalu dengan memperhatikan keselamatan, terutama saat mengamati fenomena matahari.

Momen-momen ini tidak hanya menjadi tontonan alam yang memukau, tetapi juga sarana edukasi astronomi yang menarik bagi masyarakat luas.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#Fenomena langit 2025 #september 2025 #Gerhana bulan 2025 #fenomena langit