Tren Tingwe, Solusi Hemat Para Ahli Hisap di Tengah Melambungnya Harga Rokok Pabrikan
Mohammad Dzakwan Wahyu Nur Fauzan• Selasa, 16 September 2025 | 00:06 WIB
proses linting rokok dewe atau biasa disebut tingwe
RADAR TULUNGAGUNG – Fenomena tingwe alias rokok linting dhewe (sendiri) kembali menyita perhatian masyarakat di Tulungagung.
Ketika harga rokok pabrikan terus naik karena kenaikan cukai dan biaya produksi, tingwe muncul sebagai alternatif yang dianggap jauh lebih terjangkau oleh banyak penikmat.
Tingwe bukan hanya soal hemat. Bagi sebagian orang, ini juga tentang mempertahankan cita rasa tembakau tradisional dan kontrol atas bahan yang digunakan.
Sejak beberapa tahun terakhir, kenaikan cukai rokok semakin signifikan, membuat harga rokok kemasan menjadi beban bagi sebagian warga.
Di tengah situasi itu, warga perokok aktif di Tulungagung mulai melirik tingwe karena harga tembakau yang relatif murah dibanding rokok siap pakai.
Misalnya, pelanggan dapat membeli satu ons tembakau tingwe dengan harga sekitar Rp 10.000 hingga Rp 15.000 tergantung jenis tembaku dan kualitasnya.
Pada sisi lain, harga rokok pabrikan di eceran untuk satu bungkus bisa jauh lebih tinggi, tergantung merek, jenis dan lokasi pembeliannya.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa rokok eceran bisa mencapai beberapa ribu rupiah untuk hanya beberapa batang. Perbandingan inilah yang membuat tingwe dianggap “lebih hemat banyak.”
Menggali Detail: Seberapa Jauh Perbedaan Harga Tingwe vs Rokok Pabrikan
Berdasarkan riset masyarakat di Tulungagung, berikut data nyata yang bisa menjadi pembanding:
Seorang penggemar tingwe menyebutkan bahwa satu ons tembakau tingwe dibanderol paling murah sekitar Rp 10.000, yang jika dilinting bisa menghasilkan minimal sekitar 80 batang atau lebih.
Tapi ada jenis tembakau tingwe khusus seperti Tambeng yang harganya bisa jauh lebih tinggi, yaitu Rp 60.000 hingga Rp 120.000 per ons, tergantung kualitas, aroma, dan lama simpanannya.
Bandingkan dengan rokok pabrikan: harga ecerannya untuk satu bungkus (jenis biasa) bisa jauh melebihi biaya yang dikeluarkan untuk membeli tembakau tingwe sejumlah ons yang sama.
Misalnya, jika satu bungkus rokok dijual sekitar Rp 20.000 – Rp 25.000 atau lebih, maka membungkus sendiri dengan tembakau tingwe jauh lebih hemat untuk jumlah batang yang bisa dihasilkan sendiri.
Dampak dan Persepsi Masyarakat
Pertumbuhan minat terhadap tingwe tidak hanya disebabkan oleh faktor harga, tetapi juga oleh beberapa hal berikut:
Selera dan kebiasaan: Banyak perokok mengatakan bahwa rasa tembakau natural yang digunakan dalam tingwe lebih “otentik” dibandingkan rokok pabrikan. Ada juga tambahan varian aroma dan campuran seperti cengkeh, kemenyan, atau aroma buah yang dipilih sesuai selera.
Ekonomi keluarga: Dengan kondisi ekonomi yang tidak menentu, tingwe menjadi alternatif agar bisa tetap merokok tanpa menguras kantong.
Hemat bukan hanya pada harga tembakau, tetapi juga fleksibilitas dalam mengonsumsi — bisa menggulung sesuai kebutuhan.
Varian harga: Tidak semua tingwe sama. Ada yang murah, ada yang premium. Misalnya tembakau lokal biasa, atau tembakau Tambeng, ada kualitas tinggi yang membuat harga jauh berbeda.
Ini berarti tidak semua orang yang memilih tingwe otomatis mendapat harga rendah, tergantung preferensi dan daya beli.
Meski tingwe menawarkan banyak kelebihan dari sisi harga dan fleksibilitas, ada beberapa catatan dan tantangan yang harus diperhatikan:
Regulasi cukai: Tembakau tingwe sebagian besar tidak melalui proses cukai seperti rokok pabrikan, sehingga regulasi dan pengawasan berada di area abu-abu. Hal ini menimbulkan isu legalitas dan potensi masalah bagi konsumen maupun petani.
Kualitas dan kesehatan: Karena pengolahan dan bahan bisa sangat bervariasi, kualitas tembakau tingwe tidak selalu standar. Ada risiko dari penggunaan bahan tambahan yang tidak terkontrol.
Budaya dan stigma: Meski kini banyak generasi muda yang mencoba, tingwe kadang masih dianggap sebagai pilihan “darurat” oleh sebagian masyarakat. Stigma terhadap kegiatan melinting sendiri terkadang kuat.
Perbandingan harga antara tingwe dan rokok pabrikan menunjukkan bahwa tingwe memang jauh lebih hemat dalam banyak kasus, terutama jika membeli tembakau biasa.
Untuk masyarakat Tulungagung dan sekitarnya, tingwe bukan sekadar alternatif murah, tetapi juga cara untuk mempertahankan tradisi, selera, dan kontrol atas apa yang dikonsumsi.
Namun, untuk benar-benar memahami dampaknya dalam skala lokal (Tulungagung), perlu dilakukan survei langsung di toko/toko tembakau di Tulungagung.
Khususnya mengenai harga tembakau tingwe lokal, harga rokok pabrikan yang sering dibeli, serta data konsumen tingwe vs rokok pabrikan. Ini untuk menghindari generalisasi yang mungkin tidak selalu akurat di semua lingkungan. ****