Rahasia Kenapa Pedagang di Tulungagung Suka Pakai Terpal Biru, Ternyata Alasannya Sederhana

Yoga Dany Damara • Dipublikasikan Senin, 22 September 2025 | 05:40 WIB
Jadi, jangan heran kalau ke Tulungagung dan melihat lautan terpal biru di berbagai sudut kota. Lebih dari sekadar peneduh, ia sudah jadi ikon dagang rakyat yang sederhana tapi penuh makna.
Jadi, jangan heran kalau ke Tulungagung dan melihat lautan terpal biru di berbagai sudut kota. Lebih dari sekadar peneduh, ia sudah jadi ikon dagang rakyat yang sederhana tapi penuh makna.

TULUNGAGUNG - Kalau Anda jalan-jalan ke Tulungagung, ada satu pemandangan yang hampir selalu muncul yakni terpal biru.

Entah itu di pasar tiban, lapak dadakan pinggir jalan, sampai acara hajatan desa, terpal biru ini seakan sudah jadi “seragam resmi” pedagang.

Tapi, kenapa sih harus terpal biru?

1. Murah dan Mudah Didapat

Di toko bangunan maupun pasar, terpal biru paling mudah ditemukan dengan harga terjangkau.

Pedagang nggak perlu repot cari warna lain, karena stok biru biasanya melimpah.

2. Tahan Cuaca

Tulungagung terkenal panas kalau siang dan bisa tiba-tiba hujan deras di sore hari.

Nah, terpal biru dipercaya lebih kuat menahan panas matahari sekaligus air hujan, sehingga barang dagangan tetap aman.

3. Simbol Lapak Dadakan

Entah kenapa, biru ini sudah terlanjur melekat dengan suasana “lapak dadakan”.

Begitu ada terpal biru terbentang di pinggir jalan, orang-orang langsung paham pasti ada yang jualan.

Mulai dari sayuran, mainan anak, sampai baju murah meriah.

4. Warna yang Mencolok

Biru cerah mudah terlihat dari jauh.

Pedagang suka karena bisa menarik perhatian orang lewat tanpa harus pakai papan reklame atau spanduk.

5. Jadi Bagian dari Budaya Lokal

Lama-lama, terpal biru bukan cuma soal fungsi. Ia jadi bagian dari wajah keseharian Tulungagung.

Dari pasar kaget pagi hari sampai hajatan malam, warna ini seperti benang biru yang menghubungkan banyak momen warga.

Jadi, jangan heran kalau ke Tulungagung dan melihat lautan terpal biru di berbagai sudut kota.

Lebih dari sekadar peneduh, ia sudah jadi ikon dagang rakyat yang sederhana tapi penuh makna.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : DIOLAH
pedagang tulungagung terpal biru