TULUNGAGUNG - Kalau kita jalan-jalan ke kampung-kampung di Tulungagung, ada satu pemandangan yang hampir selalu muncul yakni kandang ayam di halaman belakang rumah.
Entah itu kandang ayam kampung, ayam jago, atau sekadar beberapa ekor untuk hobi, rasanya susah menemukan rumah desa tanpa suara kokok ayam di pagi hari.
Lalu, kenapa banyak orang Tulungagung masih memelihara ayam di rumah, padahal zaman sudah modern?
1. Kebutuhan Dapur Harian
Buat orang desa, ayam kampung itu aset.
Telurnya bisa jadi lauk sederhana, dagingnya bisa dimasak sewaktu-waktu tanpa harus beli ke pasar.
Jadi, memelihara ayam bukan sekadar hobi, tapi juga bentuk kemandirian dapur.
2. Tabungan Hidup
Bagi sebagian orang Tulungagung, ayam itu ibarat tabungan berjalan.
Kalau ada acara mendadak misalnya hajatan kecil, tamu datang, atau butuh tambahan uang ayam bisa langsung dijual atau dipotong. Praktis dan cepat.
3. Hiburan Sederhana
Bagi bapak-bapak, memelihara ayam jago kadang jadi hiburan tersendiri.
Lihat ayam berkokok gagah atau sekadar memberi makan ayam bisa jadi kegiatan melepas penat.
Bahkan, ada yang sampai merawat ayamnya dengan penuh kasih layaknya hewan peliharaan.
4. Simbol Kesederhanaan Hidup Desa
Baca Juga: Mie Ayam Bukan Asli Nusantara, Ternyata Adaptasi dari Budaya Negeri Asia Timur Ini
Kandang ayam di belakang rumah juga menggambarkan bagaimana orang desa hidup dekat dengan alam.
Semua serba sederhana, tidak ribet, dan tetap bermanfaat.
Suara ayam jadi alarm alami, bahkan kadang bikin suasana kampung terasa lebih hidup.
5. Warisan Kebiasaan dari Dulu
Memelihara ayam sudah turun-temurun dari orang tua hingga ke anak cucu.
Bukan cuma soal hasil, tapi juga kebiasaan yang dijaga.
Anak-anak yang tumbuh di desa biasanya juga terbiasa melihat, bahkan ikut membantu memberi makan ayam sejak kecil.
Jadi, jangan heran kalau ke Tulungagung dan mampir ke rumah warga, hampir pasti ada suara ayam dari belakang rumah.
Dari kebutuhan dapur sampai gaya hidup sederhana, kandang ayam memang sudah jadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakatnya.***
Editor : Vidya Sajar Fitri