TULUNGAGUNG - Di berbagai sudut Tulungagung, pemandangan orang memancing di pinggir sungai kecil dengan joran sederhana masih mudah ditemui.
Meski hasil tangkapannya sering kali hanya beberapa ekor ikan wader, nila, atau mujair, memancing tetap jadi kegemaran banyak warga.
Lalu, apa sih yang membuat memancing di sungai kecil dekat rumah tetap digandrungi?
1. Bukan Soal Ikan, tapi Soal Rasa
Bagi sebagian orang, memancing di sungai bukan soal berapa banyak ikan yang didapat, melainkan soal kepuasan batin.
Duduk di tepi air yang mengalir, merasakan angin sore, sambil menunggu umpan disambar ikan ada sensasi ketenangan tersendiri yang sulit tergantikan.
2. Murah dan Merakyat
Tak perlu modal besar untuk bisa memancing di sungai kecil.
Cukup membawa joran bambu atau alat seadanya, ember kecil, dan umpan sederhana seperti cacing atau pelet.
Semua orang bisa ikut menikmatinya, mulai dari anak-anak sampai orang tua.
3. Wadah Sosialisasi
Sungai kecil sering jadi tempat berkumpulnya warga.
Di sela menunggu ikan menyambar, obrolan ngalor-ngidul soal pekerjaan, keluarga, atau kabar desa pun mengalir begitu saja. Kadang, mancing lebih mirip “nongkrong” dengan bonus ikan.
4. Warisan Kebiasaan Lama
Kebiasaan mancing di sungai sudah turun-temurun di Tulungagung.
Dari kecil, banyak anak yang diajak bapaknya mencoba peruntungan di sungai depan rumah.
Tradisi sederhana ini terus diwariskan hingga sekarang.
5. Kepuasan yang Tak Tergantikan
Meski ikan yang didapat tak seberapa, ada rasa bangga tersendiri saat berhasil membawa pulang hasil pancingan.
Bahkan, ikan kecil sekalipun terasa lebih nikmat dimakan karena ada perjuangan dan cerita di baliknya.
Jadi, mancing di sungai kecil dekat rumah bukan sekadar mencari ikan, tapi mencari suasana, kebersamaan, dan kepuasan batin.
Inilah salah satu wajah sederhana kehidupan masyarakat Tulungagung yang tetap bertahan di tengah hiruk pikuk zaman modern.***
Editor : Vidya Sajar Fitri