TULUNGAGUNG - Di tengah gempuran gaya hidup modern, alat makan yang serba praktis, dan budaya makan instan, ada satu kebiasaan sederhana yang tetap bertahan di banyak rumah warga Tulungagung.
Kebiasaan itu adalah makan dengan tangan.
Bagi sebagian orang, mungkin terlihat kuno atau kurang higienis, tetapi bagi masyarakat Tulungagung, cara makan ini justru menyimpan makna mendalam dan kenikmatan yang sulit tergantikan.
1. Rasa Makanan Lebih Nikmat
Orang Tulungagung sering bilang “mangan nganggo tangan iku luwih enak, luwih kerasa”.
Ada sensasi berbeda ketika nasi hangat dipadukan dengan lauk sederhana langsung disentuh tangan.
Tekstur makanan lebih terasa, dan lidah seakan mendapat pengalaman makan yang lebih lengkap.
Pecel Tulungagung, misalnya, terasa lebih gurih ketika disantap dengan tangan ketimbang dengan sendok.
Baca Juga: Jangan Sepelekan Kekurangan Minum Air Putih, Simak Manfaatnya untuk Tubuh dalam Jumlah Cukup
2. Tradisi yang Turun-Temurun
Kebiasaan ini juga erat kaitannya dengan budaya Jawa.
Sejak dulu, orang desa terbiasa makan lesehan dan menggunakan tangan.
Anak-anak kecil biasanya belajar makan dengan tangan dari orang tua mereka.
Tradisi ini akhirnya terus diwariskan, bukan hanya sebagai cara makan, tetapi juga bagian dari identitas budaya.
3. Simbol Kebersamaan
Makan dengan tangan sering kali dilakukan saat acara keluarga atau kumpul warga.
Lauk pauk diletakkan di atas tampah atau daun pisang besar, lalu disantap bersama-sama.
Di momen itulah rasa kebersamaan semakin terasa.
Tidak ada sekat, semua orang bisa makan dari wadah yang sama. Sederhana, tetapi hangat.
4. Lebih Praktis dan Apa Adanya
Bagi petani atau pekerja di ladang, makan dengan tangan adalah pilihan paling praktis.
Tidak perlu repot membawa sendok garpu, cukup cuci tangan lalu langsung menikmati bekal.
Cara ini juga dianggap lebih jujur dan alami, sesuai dengan kehidupan masyarakat Tulungagung yang dekat dengan kesederhanaan.
5. Ada Nilai Kesehatan Juga
Beberapa penelitian menyebutkan, makan dengan tangan bisa merangsang sistem pencernaan karena ada interaksi langsung antara saraf di ujung jari dengan makanan.
Selain itu, dengan catatan tangan dalam keadaan bersih, makan dengan tangan justru bisa membantu tubuh mengenali makanan lebih baik.
Bagi warga Tulungagung, makan dengan tangan bukan sekadar kebiasaan, tapi juga pengalaman.
Rasanya lebih nikmat, suasananya lebih akrab, dan nilai budayanya tetap melekat.
Mungkin, inilah alasan mengapa meskipun zaman terus berubah, kebiasaan sederhana ini tetap dipertahankan.
Pada akhirnya, makan dengan tangan adalah tentang rasa syukur, kesederhanaan, dan kehangatan.
Hal-hal yang justru sering hilang di tengah kehidupan modern yang serba cepat.***
Editor : Vidya Sajar Fitri