TULUNGAGUNG - Di siang yang terik di Tulungagung, suara gemericik es batu yang diserut dari gerobak kecil sering jadi penanda datangnya penyelamat dahaga penjual es cendol.
Dengan senyum ramah dan seruan khas, penjual es cendol hadir di pinggir jalan, membawa segelas kesegaran dan secuil nostalgia masa lalu.
Es cendol bukan sekadar minuman, melainkan juga potongan kecil dari kehidupan sederhana yang manis.
Dari tepung hijau yang kenyal, gula merah yang harum, hingga santan gurih yang menggoda, semuanya berpadu dalam gelas plastik sederhana.
Setiap sendoknya seolah menyimpan cerita masa kecil pulang sekolah, menunggu di depan rumah, dan mendengar lonceng kecil dari gerobak yang lewat.
Bagi penjual es cendol, roda gerobak bukan hanya alat mencari nafkah, tapi juga sahabat setia dalam perjalanan hidup.
Penjual es cendol berkeliling dari kampung ke kampung, dari pasar ke sekolah, menyapa wajah-wajah yang sudah akrab.
Panas siang bukan halangan, karena senyum pembeli dan ucapan “segerrr banget, Pak!” jadi hadiah yang tak ternilai.
Di tengah hiruk pikuk modernitas, penjual es cendol di pinggir jalan tetap setia menjaga cita rasa tradisi.
Mereka mengingatkan kita bahwa kebahagiaan tak selalu tentang kemewahan, kadang ia hadir dalam segelas es cendol dingin yang dinikmati di bawah rindangnya pohon, ditemani angin sore Tulungagung yang lembut.
Manisnya kehidupan sederhana itu nyata sesederhana cendol yang terus berputar di gerobak, tapi tak pernah kehilangan rasa.***
Editor : Vidya Sajar Fitri