Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mengupas Karomah dan Gaya Dakwah Nyeleneh Gus Miek: Wali Penakluk Kemaksiatan yang Melampaui Nalar

Mohammad Dzakwan Wahyu Nur Fauzan • Senin, 20 Oktober 2025 | 04:46 WIB

 

KH. Hamim Tohari Djazuli, yang lebih akrab disapa Gus Miek
KH. Hamim Tohari Djazuli, yang lebih akrab disapa Gus Miek

RADAR TULUNGAGUNG – Sosok ulama legendaris asal Kediri, KH. Hamim Tohari Djazuli, yang lebih akrab disapa Gus Miek, hingga kini tetap menjadi panutan dan misteri bagi banyak kalangan masyarakat, termasuk di Jawa Timur.

Kewalian Gus Miek telah diakui secara luas, bahkan oleh tokoh besar seperti Gus Dur, yang menyatakan bahwa beliau memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang biasa.

Selain dikenal sebagai kyai yang nyeleneh, Gus Miek juga merupakan pendiri majelis zikir besar: Dzikrul Ghofilin dan Jantiko Mantab.

Namanya yang melegenda tidak hanya muncul dari ceramah di mimbar pesantren, tetapi justru dari jalur dakwah kulturalnya yang unik, menjangkau preman, bandar judi, hingga komunitas di diskotik.

Pendekatan dakwah Gus Miek yang penuh kebijaksanaan dan kasih sayang ini menjadikannya teladan dalam merangkul mereka yang dianggap tersesat.

Gus Miek lahir pada 17 Agustus 1940 di Kediri. Dia putra ketiga dari pasangan KH Ahmad Djazuli Utsman, pendiri Pesantren Al-Falah Ploso Kediri, dengan Nyai Hj Rodhiyah.

Nama aslinya adalah Chamim Tohari Djazuli, namun karena saudara-saudaranya sulit mengucapkan Chamim saat kecil, dia akhirnya dipanggil Gus Miek.

Jaringan jamaah yang dibentuk oleh Gus Miek menyebar luas, mengadakan Semaan Al-Quran dan Dzikrul Ghofilin yang selalu dipadati oleh jamaah yang datang dari berbagai penjuru tanah Jawa.

Mereka bersabar mendengarkan pembacaan Al-Quran 30 juz, mengharap doa dan siraman rohani dari kiai kharismatik ini.

Majelis ini awalnya bernama Jama’ah Mujahadah Lailiyah pada tahun 1962, yang kemudian berkembang menjadi Dzikrul Ghafilin, dan selanjutnya Gus Miek juga merintis Sema’an Alquran Jantiko Mantab (Jantiko man taba).

Baca Juga: Mengenang Sosok Karismatik KH Achmad Asrori Al Ishaqy RA, Sang Mursid Tarekat Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah Al Utsmaniyyah

Sifat nyeleneh Gus Miek sudah terlihat sejak masa kecilnya. Dia dikenal sebagai pribadi yang pendiam, suka menyendiri, dan bila berjalan selalu menundukkan muka, seolah mencerminkan kerendahan hatinya.

Namun, di balik keanehannya, dia memiliki hati yang sangat halus dan lembut. Tingkah lakunya penuh kesopanan yang membuat orang yang berada di dekatnya merasa teduh dan damai.

Salah satu keunikan masa kecil Gus Miek adalah hobinya yang aneh. Dia sangat senang mengamati penjual wenter (cat warna) di pasar dan baru pulang saat penjual itu tutup, menirukan gaya berjualan sambil berteriak di rumah.

Selain itu, dia juga senang melihat orang memancing di belakang pondok. Konon, para pemancing menyukai kehadirannya karena ikan-ikan akan bergerombol saat Gus Miek datang.

Gus Miek kecil juga memiliki suara yang merdu dan bacaan Al-Quran yang fasih, mendayu-dayu, dan menyejukkan hati pendengarnya, lebih menonjol dibandingkan saudara-saudaranya.

Dalam pendidikan formal, dia sempat disekolahkan di Sekolah Rakyat tetapi tidak tamat karena sering membolos.

Meskipun dikenal sering keluyuran dan bermain-main, ketika Gus Miek disuruh mengaji oleh ayahnya, ia hanya memanggul kitabnya dan mengelilingi KH. Djazuli sebanyak tiga kali, lalu mengatakan bahwa dirinya sudah mempelajarinya. Sang ayah hanya diam dan tersenyum melihat tingkah Gus Miek.

Baca Juga: Asy-Syekh Mustaqim bin Husein, Ulama Besar dan Pendiri Pondok PETA Tulungagung yang Jarang Diketahui Publik

Pada usia 13 tahun, Gus Miek sempat mondok di Ponpes Lirboyo, Kediri, di bawah asuhan KH Mahrus Ali. Namun, masa nyantrinya di sana hanya bertahan 16 hari. Kepulangannya yang mendadak sempat membuat orang tuanya resah.

Untuk membuktikan kesungguhan belajarnya, Gus Miek kemudian menggantikan semua jadwal pengajian yang biasa diampu oleh ayahnya di Ploso.

Kitab-kitab berat yang diajarkan meliputi Fathul Qarib, Fathul Mu’in, Jam’ul Jawami’, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Tafsir Jalalain, Iqna’, hingga Ihya’ Ulumuddin. Pada titik inilah, orang tuanya mulai mengakui adanya karamah atau kelebihan kewalian pada diri anaknya.

Setelah itu, Gus Miek memutuskan untuk kembali belajar ke Lirboyo, di mana dia tetap menunjukkan kebiasaan unik: meletakkan kitab di atas meja dan hanya tidur-tiduran saat santri lain mengaji.

Ajaibnya, ketika guru menanyakan materi yang disampaikan, beliau selalu mampu menjawabnya dengan memuaskan.

Baca Juga: Menilik Sejarah Peradaban Islam di Tulungagung, Makam Kyai Bedalem

Karomah Gus Miek seringkali diceritakan melampaui logika. Salah satu kisah terkenal adalah ketika berada di tepi Sungai Brantas dan tergelincir, terseret oleh pusaran air saat banjir.

Setelah dicari-cari oleh santri ayahnya, Gus Miek muncul dari tengah sungai, berdiri di atas air yang hanya mencapai mata kakinya.

DIa menjelaskan bahwa saat itu berada di atas punggung ikan yang sangat besar, yang diyakininya sebagai ikan peliharaan gurunya, yaitu Nabi Khidir.

Kisah karomah lain yang sering disaksikan adalah terkait dakwahnya di tempat kemaksiatan. Dia dikenal kerap mendekati komunitas yang jauh dari agama.

Pernah suatu ketika menantang peminum berat untuk berlomba minum alkohol di sebuah warung di Perak Jombang.

Para peminum berat akhirnya menyerah karena mabuk, sementara Gus Miek masih santai. Pemilik warung kemudian menemukan botol minuman Gus Miek yang masih tersisa, dan setelah dicicipi, ternyata minuman keras di dalamnya telah berubah menjadi air putih.

Gus Miek juga sering mendapatkan kritik atas gaya syiarnya yang "anti-mainstream" ini. Metode dakwah beliau yang nyeleneh sering kali bertentangan dengan tradisi kiai pada umumnya, termasuk kritik dari KH Ahmad Siddiq.

Namun, dia tetap fokus pada syiar jalannya. Uniknya, KH Ahmad Siddiq, yang awalnya menentang tradisi suluk Gus Miek, akhirnya menjadi kawan karibnya dan bersama-sama mengembangkan Dzikrul Ghafilin di Jember.

Baca Juga: PBNU Bakal Menempuh Jalur Hukum atas Tayangan Trans7, Dinilai Lecehkan Dunia Pesantren dan Ponpes Lirboyo Kediri

Gus Miek mengajarkan bahwa dakwah tidak hanya soal ceramah di mimbar, tetapi bagaimana merangkul mereka yang tersesat dengan ketulusan.

Gus Miek wafat pada 5 Juni 1993, bertepatan dengan bulan Dzulhijjah. Jenazah beliau dimakamkan di Pemakaman Tambak, Kediri, diiringi ratusan ribu kaum muslimin.

Hingga kini, makam Gus Miek menjadi tempat ziarah, dan warisan spiritualnya, khususnya Majlis Dzikrul Ghofilin dan Jantiko Mantab, terus hidup dan berkembang. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#KH Hamim Tohari Djazuli #gus miek #dzikrul ghofilin #Pondok Ploso