TULUNGAGUNG - Selama ini ikan pembersih lumut atau ikan sapu-sapu dikenal sebagai “asisten alami” para penghobi akuarium.
Perannya membersihkan lumut di kaca dan dasar kolam membuat ikan ini dianggap bermanfaat.
Namun di balik fungsinya yang terlihat sederhana, ikan pembersih lumut atau ikan sapu-sapu justru menyimpan masalah besar ketika populasinya lepas ke alam liar.
Ikan pembersih lumut (Hypostomus plecostomus) berasal dari Amerika Selatan dan dibawa ke Indonesia sebagai ikan hias.
Sayangnya, banyak yang melepaskannya ke sungai saat ukurannya membesar. Dari situlah masalah bermula.
Di alam liar, ikan ini dikenal sangat tangguh.
Ia mampu hidup di air keruh, miskin oksigen, bahkan di saluran air tercemar.
Sifatnya yang kuat membuat ikan lokal seperti mujair, nila, dan wader tak mampu bersaing.
“Ikan ini memakan lumut, sisa pakan, bahkan telur ikan lain. Akibatnya, populasi ikan lokal menurun drastis,” ujar seorang peneliti perikanan dari Universitas Gadjah Mada dalam sebuah wawancara.
Masalah lain muncul karena ikan sapu-sapu gemar menggali dasar sungai untuk mencari makan atau tempat bertelur.
Aktivitas ini mengakibatkan dasar sungai tergerus, air menjadi keruh, dan habitat ikan asli rusak.
Tak heran, di beberapa daerah masyarakat mulai menyebut ikan ini sebagai ikan hama beton karena sulit dikendalikan.
Di dalam akuarium, ikan ini hanya berguna saat masih kecil.
Namun ketika tumbuh besar, perilakunya berubah.
Ia menjadi agresif, memakan pakan ikan lain, bahkan menempel dan melukai tubuh ikan yang lebih lemah.
Selain itu, kotorannya yang banyak justru membuat air lebih cepat keruh.
Baca Juga: Daftar Jamur yang Bisa Dimakan Beserta Manfaatnya bagi Kesehatan dan Kekebalan Tubuh
Bagi penghobi ikan, kondisi ini tentu berbalik arah: ikan yang semula dianggap pembersih justru menjadi sumber masalah baru.
Kasus ikan pembersih lumut ini menjadi pengingat bahwa tak semua ikan hias aman dilepas ke alam.
Sebab, setiap spesies punya peran ekologis dan daya adaptasi yang berbeda.
Saat tidak terkendali, ikan tersebut bisa merusak ekosistem dan mengancam keberlangsungan ikan lokal.***
Editor : Vidya Sajar Fitri