TULUNGAGUNG – Pernahkah tiba-tiba merasa seperti sudah pernah mengalami sebuah kejadian, padahal peristiwa itu baru saja terjadi?
Sensasi inilah yang dikenal dengan istilah dejavu.
Banyak orang mengalami dejavu dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika berada di suatu tempat, bertemu seseorang, maupun mendengar percakapan yang terasa begitu akrab.
Fenomena dejavu sering menimbulkan rasa penasaran, bahkan ada yang mengaitkannya dengan hal mistis.
Namun, para ahli menegaskan bahwa dejavu adalah fenomena yang dapat dijelaskan secara ilmiah.
Meski penyebab pastinya masih terus diteliti, ada sejumlah teori yang cukup masuk akal untuk menjelaskan mengapa momen baru bisa terasa begitu familiar.
1. Gangguan Proses Memori di Otak
Dejavu diyakini terjadi karena adanya gangguan kecil dalam proses penyimpanan memori.
Informasi baru yang seharusnya masuk ke memori jangka pendek justru salah dikenali sebagai memori lama.
Kesalahan singkat ini menimbulkan sensasi seolah-olah peristiwa baru tersebut sudah pernah dialami.
2. Peran Memori Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Secara normal, informasi diproses melalui memori jangka pendek sebelum akhirnya tersimpan dalam memori jangka panjang.
Pada dejavu, proses ini berjalan terlalu cepat sehingga otak keliru menempatkan memori baru seolah sudah tersimpan sebelumnya.
3. Kemiripan dengan Pengalaman Masa Lalu
Banyak kasus dejavu muncul karena situasi baru memiliki kemiripan dengan pengalaman lama.
Misalnya, tata letak ruangan, aroma tertentu, atau pencahayaan yang menyerupai suasana di masa lalu.
Kemiripan detail kecil ini cukup untuk memicu rasa familiar.
4. Hubungan dengan Kondisi Psikologis
Faktor psikologis seperti stres, kelelahan, atau kurang tidur dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami dejavu.
Kondisi tersebut membuat otak lebih mudah melakukan kesalahan dalam mengenali informasi yang baru diterima.
5. Faktor Neurologis
Baca Juga: Layar Laptopmu Tiba-tiba Mati Tanpa Tahu Penyebabnya? Begini Cara Menghidupkannya Lagi
Penelitian menunjukkan bahwa dejavu lebih sering dialami oleh orang dengan aktivitas listrik otak yang tinggi.
Penderita epilepsi lobus temporal misalnya, kerap mengalami dejavu sebelum atau sesudah serangan.
Hal ini terjadi karena otak mengirim sinyal ganda yang menimbulkan sensasi seolah-olah suatu peristiwa sudah terjadi sebelumnya.
6. Perspektif Ilmiah dan Mistis
Secara ilmiah, dejavu dipandang sebagai hasil dari cara kerja otak yang kompleks.
Namun, dalam budaya tertentu, dejavu masih dikaitkan dengan firasat, pertanda, hingga pengalaman spiritual.
Meski tidak terbukti secara medis, pandangan ini tetap bertahan karena pengalaman dejavu terasa nyata dan sulit dijelaskan dengan logika semata.
Teori Jalan Hidup yang Sudah Ditentukan
Baca Juga: Jasad Mulai Membusuk, Seorang Pria Tua di Kauman Tulungagung Ditemukan Tak Bernyawa di Dalam Rumah
Selain penjelasan ilmiah, terdapat pula keyakinan populer bahwa sebelum lahir manusia sudah “diperlihatkan” garis besar jalan hidupnya ketika masih berada di alam kandungan.
Dejavu dianggap sebagai momen ketika seseorang tanpa sadar mengingat kembali potongan kecil dari perjalanan hidup tersebut.
Walau tidak memiliki dasar ilmiah, pandangan ini tetap berkembang karena memberi makna filosofis dalam memandang kehidupan.
Fenomena dejavu pada akhirnya memperlihatkan betapa kompleksnya otak manusia dalam mengolah ingatan.
Peristiwa baru bisa terasa akrab karena otak terkadang salah memproses informasi atau menghubungkannya dengan pengalaman lama yang mirip.
Meski sering membuat heran, dejavu bukanlah sesuatu yang berbahaya.
Dengan memahami fenomena ini, dejavu dapat dilihat sebagai bagian dari keunikan otak manusia.
Bukan pertanda buruk, melainkan pengalaman menarik yang menunjukkan betapa luar biasanya cara kerja pikiran.
Jadi, ketika mengalaminya, cukup disadari bahwa itu adalah bagian dari kekayaan pengalaman manusia dalam memahami ingatan dan kesadaran.***
Editor : Vidya Sajar Fitri