RADAR TULUNGAGUNG - Gerhana bulan adalah salah satu fenomena astronomi yang selalu menarik perhatian banyak orang.
Saat bulan tampak meredup bahkan berubah warna menjadi kemerahan, langit malam menjadi lebih istimewa untuk dinikmati.
Lalu, apa sebenarnya gerhana bulan itu? Bagaimana proses terjadinya, dan apa saja jenis-jenisnya? Berikut penjelasan lengkapnya.
Apa Itu Gerhana Bulan?
Gerhana bulan terjadi ketika posisi bumi berada di antara matahari dan bulan. Akibatnya, cahaya matahari yang seharusnya mengenai permukaan bulan terhalang oleh bayangan bumi.
Peristiwa ini hanya bisa terjadi saat bulan purnama dan tidak setiap bulan karena kemiringan orbit bulan.
Proses Terjadinya Gerhana Bulan
1. Matahari, bumi, dan bulan sejajar dalam satu garis lurus.
2. Bumi menutupi sinar matahari yang seharusnya sampai ke bulan.
3. Bayangan bumi jatuh ke permukaan bulan, membuat bulan tampak redup atau berubah warna.
Jenis-Jenis Gerhana Bulan
Fenomena ini terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
Gerhana Bulan Total: seluruh permukaan bulan tertutup bayangan bumi. Pada fase ini, bulan biasanya tampak merah (dikenal sebagai blood moon).
Gerhana Bulan Sebagian: hanya sebagian permukaan bulan yang tertutup bayangan bumi.
Gerhana Bulan Penumbra: bulan hanya melewati bayangan luar bumi (penumbra), sehingga perubahannya tidak terlalu jelas.
Fakta Menarik tentang Gerhana Bulan
- Tidak berbahaya untuk dilihat langsung dengan mata telanjang, berbeda dengan gerhana matahari.
- Warna merah saat gerhana bulan total terjadi karena pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer bumi.
- Fenomena ini bisa menjadi momen langka, karena tidak selalu muncul setiap bulan.
Kapan Gerhana Bulan Bisa Disaksikan?
Gerhana bulan terjadi beberapa kali dalam setahun, namun tidak selalu terlihat dari semua wilayah di bumi.
Di Indonesia, masyarakat cukup sering bisa menyaksikan fenomena ini karena posisi geografis yang strategis.
Baca Juga: Fenomena Gerhana Bulan Memasuki Fase Awal, Begini Penjelasan Ilmiahnya
Gerhana bulan bukan hanya indah, tetapi juga sarat makna ilmiah dan budaya.
Banyak masyarakat menjadikannya momen untuk berkumpul, mengamati langit, atau sekadar menikmati keajaiban alam.
Jadi, jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan fenomena gerhana bulan berikutnya! ****
Editor : Dharaka R. Perdana