RADAR TULUNGAGUNG – Fenomena Supermoon atau purnama super pada Rabu (5 November 2025) besok bakal menarik perhatian masyarakat di seluruh Indonesia.
Bulan bakal tampak lebih besar dan terang karena berada di titik terdekatnya dengan Bumi, sekitar 356.980 kilometer.
Meski terlihat menakjubkan, Supermoon memiliki sejumlah dampak ilmiah terhadap Bumi. Namun, para ahli menegaskan bahwa fenomena ini tidak berbahaya dan tidak memicu gempa bumi maupun bencana besar.
1. Tarikan Gravitasi Meningkatkan Pasang Surut Laut
Dampak paling nyata dari Supermoon adalah kenaikan tinggi muka air laut. Ketika Bulan berada lebih dekat ke Bumi, gaya gravitasi yang ditimbulkan menjadi lebih kuat.
Hal ini menyebabkan air laut tertarik lebih tinggi dibandingkan biasanya, menghasilkan fenomena pasang maksimum (spring tide).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa peningkatan pasang ini dapat memicu banjir rob di wilayah pesisir.
Daerah yang perlu waspada antara lain pesisir utara Jawa, Sumatra bagian timur, Kalimantan, dan Nusa Tenggara.
“Supermoon memang memperkuat gaya pasang surut laut. Masyarakat pesisir diimbau tetap waspada terhadap potensi rob, terutama saat air laut pasang tinggi,” tulis BMKG dalam keterangannya, Selasa (4/11).
Rata-rata kenaikan muka air laut saat Supermoon berkisar 10–30 sentimeter lebih tinggi dibanding pasang normal.
2. Pengaruh terhadap Atmosfer dan Daratan
Selain pada laut, tarikan gravitasi Bulan juga sedikit memengaruhi atmosfer dan kerak Bumi. Namun, pengaruh ini sangat kecil dan tidak signifikan secara geofisika.
Penelitian dari US Geological Survey (USGS) dan NASA menyebutkan bahwa gaya gravitasi tambahan saat Supermoon tidak cukup kuat untuk memicu gempa bumi, tsunami, atau letusan gunung api.
Perubahan tekanan atmosfer atau gaya vertikal pada daratan hanya terjadi dalam skala mikroskopis dan tidak terdeteksi secara kasat mata.
3. Cahaya Bulan Lebih Terang dan Mempengaruhi Kondisi Langit Malam
Karena jaraknya lebih dekat, intensitas cahaya Bulan meningkat hingga 30 persen. Akibatnya, langit malam tampak lebih terang dan membuat bintang-bintang redup sulit terlihat.
Beberapa pengamat astronomi menyebut, kondisi ini bisa sedikit mengganggu observasi benda langit redup, namun justru menjadi momen ideal untuk mengamati permukaan Bulan dengan jelas, baik dengan mata telanjang maupun teleskop.
Fenomena Supermoon memberikan efek ilmiah yang menarik tanpa menimbulkan bahaya serius bagi Bumi.
Dampak paling signifikan hanyalah kenaikan pasang laut sementara, sementara perubahan atmosfer atau daratan terjadi dalam skala sangat kecil dan aman.
Jadi, masyarakat dapat menikmati Supermoon 5 November 2025 dengan tenang, sambil tetap waspada bagi yang tinggal di wilayah pesisir. ****
Editor : Dharaka R. Perdana