Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Populasi Hiu dan Pari Terus Menurun, BRIN Soroti Ancaman Penangkapan Berlebih dan Pentingnya Identifikasi Genetik

Dharaka R. Perdana • Senin, 17 November 2025 | 05:47 WIB

Populasi  hiu di berbagai belahan dunia mengalami penurunan. (FREEPIK)
Populasi hiu di berbagai belahan dunia mengalami penurunan. (FREEPIK)

RADAR TULUNGAGUNG – Kondisi populasi hiu dan pari di Indonesia kian mengkhawatirkan. Tren penurunan populasi yang terjadi secara global juga dirasakan di perairan nasional.

Penangkapan berlebih, perubahan lingkungan, hingga kerusakan habitat disebut sebagai faktor utama menurunnya populasi dua kelompok ikan bertulang rawan tersebut.

Di sisi lain, tingginya nilai ekonomi dan kebutuhan pangan membuat permintaan hiu dan pari tetap besar, baik di wilayah pesisir maupun perkotaan.

Hal itu disampaikan Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan (PRZT) BRIN, Andhika Prima Prasetyo, dalam gelaran Applied Zoology Summer School #13 yang disiarkan melalui kanal YouTube BRIN Indonesia, Sabtu (15/11).

Baca Juga: 25 Siswa dan Guru Keracunan Program MBG di Ketapang, Menu Hiu Goreng Picu Dugaan Kandungan Merkuri

Menurut Andhika, hiu, pari, skate, dan chimera merupakan kelompok ikan bertulang rawan atau Chondrichthyes. Menariknya, sirip termahal justru bukan berasal dari hiu, tetapi dari jenis pari kikir dan pari kekeh.

“Perbedaan pari dan skate terletak pada reproduksinya. Pari melahirkan, sementara skate bertelur. Sedangkan chimera atau hiu hantu jarang terlihat karena hidup di kedalaman,” ujarnya.

Ia menambahkan, perbedaan utama keempat kelompok tersebut juga dapat dilihat dari letak dan jumlah insang. Hiu memiliki celah insang di samping, sementara pari berada di bagian bawah tubuh.

Andhika menegaskan, ancaman terbesar populasi hiu dan pari di Indonesia berasal dari penangkapan berlebih di wilayah tropis yang memiliki tingkat biodiversitas tinggi, namun jumlah spesies relatif sedikit.

“Status kerentanan hiu dan pari secara global menunjukkan peningkatan. Bahkan spesies laut yang sudah dinyatakan punah berasal dari Indonesia, yaitu pari Jawa,” ungkapnya.

Baca Juga: Apakah Paus Bermigrasi lewat Banda Neira Setiap Oktober–November? Ini Fakta Ilmiah dan Pengamatan Lapangannya

Pemanfaatan hiu dan pari pun sangat beragam, mulai dari konsumsi domestik, pengobatan, hingga kebutuhan akuarium. Hampir seluruh bagian tubuh dimanfaatkan, mulai dari sirip, daging, kulit hingga isi perut.

Indonesia Salah Satu Eksportir Terbesar Dunia

Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan perdagangan hiu dan pari terbesar di dunia, berada di bawah Spanyol dan India. Data menunjukkan penangkapan hiu menurun sejak 2000, tetapi penangkapan pari justru meningkat.

Produk sirip hiu dan pari banyak diekspor ke Hong Kong, sementara produk daging pari sebagian besar dikirim ke Malaysia. Kulit pari bahkan dimanfaatkan menjadi dompet, sepatu hingga sarung pedang.

Namun pembatasan perdagangan menghadapi tantangan besar, mulai dari tingginya volume perdagangan, variasi produk olahan, identifikasi spesies, keterbatasan anggaran, kondisi geografis, hingga tingginya jumlah komoditas yang perlu diawasi.

Teknologi Genetika Jadi Harapan Baru

Andhika menilai, pendekatan genetik dapat menjadi solusi penting dalam konservasi dan pengelolaan perikanan hiu dan pari di Indonesia.

Teknik ini mampu membantu identifikasi spesies, penelusuran asal geografis, hingga memperkuat penegakan hukum.

Baca Juga: Ini Kekhasan Paus Balin dibanding Paus Bergigi, Bertubuh Raksasa dan Mampu Migrasi Ribuan Kilometer

“Teknik molekuler kini berkembang pesat, mulai dari barcoding konvensional, mini barcoding, PCR-RFLP, real-time PCR, LAMP genetic, Lab-on-chip, hingga DNA metabarcoding seperti Shark-dust,” jelasnya.

Namun pengembangan teknologi ini masih menghadapi kendala, seperti mahalnya reagent, akses terbatas terhadap mesin sekuensing, kebutuhan metode cepat dan terjangkau, serta volume pemeriksaan yang tinggi. Kondisi iklim Indonesia yang lembap juga menjadi tantangan tersendiri.

Ia menegaskan, pemetaan genom serta penyusunan database referensi merupakan langkah krusial untuk mengembangkan teknik genetik yang lebih kuat ke depan.

Penguatan Konservasi dan Penegakan Hukum

Kepala PRZT BRIN, Delicia Yulita Rachman, berharap kegiatan ini dapat memperkuat kemampuan identifikasi spesies di Indonesia.

Langkah tersebut diharapkan mampu mendukung penegakan hukum terhadap praktik eksploitasi berlebih terhadap hiu dan pari.

“Kegiatan ini penting untuk memperdalam informasi tentang genetik dan konservasi, serta memberikan pengetahuan yang mendukung perlindungan sumber daya hayati di perairan nasional maupun internasional,” pungkasnya. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#Penurunan Populasi #PARI #hiu #perubahan lingkungan