Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Korosi Masih Menjadi Tantangan Industri Logam dan Manufaktur, Bahan-bahan Berikut Bisa Mencegah Karatan

Dharaka R. Perdana • Senin, 17 November 2025 | 06:02 WIB

Ada beberapa bahan alami yang bisa menghambat korosi. (FREEPIK)
Ada beberapa bahan alami yang bisa menghambat korosi. (FREEPIK)

RADAR TULUNGAGUNG - Korosi alias karatan masih menjadi salah satu tantangan terbesar di dunia konstruksi dan industri logam.

Karena korosi bisa menurunkan kualitas logam, merusak struktur, hingga kerugian ekonomi dalam jumlah besar.

Beberapa hasil riset menunjukan bahwa ekstrak kulit buah kelengkeng, kulit buah naga, tembakau, daun talas, dan daun teh mampu menghambat proses korosi.

Baca Juga: Terkesan Jadi Sampah, Namun Besi Tenggelam di Laut Justru Menjadi Rumah Baru bagi Ikan, Ini Faktanya

Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Metalurgi (PRM) Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Gadang Priyotomo mengatakan, korosi merupakan proses alamiah yang dapat terjadi karena adanya reaksi reduksi dan oksidasi antara logam dengan udara dan air.

"Oksidasi dengan melepaskan elektron atau ion, sedangkan reduksi dengan menangkap elekron yang akan bereaksi dengan oksigen dan air,” ungkapnya 

Gadang menggambarkan konsep radikal bebas di bidang medis disamakan dengan proses elektrokimia  korosi seperti reaksi reduksi oksidasi yang sama-sama melibatkan pelepasan ion atau elektron bebas. 

Baca Juga: Jangan Anggap Remeh! Ini 10 Gejala Tubuh Kekurangan Zat Besi yang Perlu Diwaspadai

Berdasarkan pemikiran tersebut, metode mitigasi korosi dapat dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan alami yang bersifat antioksidan.

"Pendekatan ini dinilai sebagai solusi alami untuk memperpanjang umur material logam, tanpa bergantung pada bahan kimia sintetis yang dapat mencemari lingkungan,” tegasnya.

Gadang mengatakan, zat antioksidan berbasis senyawa polifenol dapat digunakan sebagai zat anti korosi yang akan berikatan secara adsorpsi dengan logam. Tentunya untuk membentuk lapisan pelindung di permukaan logam.

Baca Juga: Emas Antam Melemah Tajam Akibat Tekanan Global dan Fluktuasi Harga Logam Mulia di Pasar Internasional

“Logam yang teroksidasi akan ditangkap oleh gugus hidroksil senyawa antioksidan sehingga terbentuk lapisan pelindung,” ujar Gadang.

Ia mengungkapkan,  Indonesia yang kaya keanekaragaman hayati baik di terestrial dan lautan berpotensi dieksplor lebih lanjut untuk dijadikan zat aktif korosi.

“Indonesia memiliki sumber daya alam biasa yang dapat kita eskplorasi. Kita kaji dan teliti untuk dikembangkan menjadi ekstrak zat anti korosi,” jelas Gadang.

Menurut Gadang, korosi tidak dapat dicegah sepenuhnya namun hanya dapat dapat dikendalikan agar umur pakai komponen logam menjadi lebih panjang.

“Korosi tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, namun bisa dikendalikan dan diperlambat. Dengan teknologi berbasis tumbuhan, kita tidak hanya memperlambat korosi, tetapi juga menjaga lingkungan dari paparan bahan kimia berbahaya,” tambahnya.

Baca Juga: Petualangan ke Perkampungan Pandai Besi di Tulungagung Menyaksikan Api, Besi, dan Karya Tangan Terampil

Ia juga menyebutkan, senyawa antioksidan yang biasa digunakan dalam kosmetik ternyata efektif sebagai penghambat korosi. 

“Salah satunya adalah kombinasi asam askorbat dan ekstrak ubi ungu yang telah diuji dan menunjukkan hasil positif dalam menekan laju korosi,” tutupnya. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#industri logam #Korosi #karatan #konstruksi