JAKARTA - Nama Denny Darko kembali jadi perbincangan publik setelah sebuah cuplikan podcast viral di media sosial. Dalam tayangan tersebut, Denny Darko mengakui bahwa dirinya memang memiliki latar belakang keluarga yang jarang diketahui orang, yakni berasal dari trah pemilik pabrik rokok legendaris asal Jawa Timur.
Pengakuan itu bermula ketika host membacakan sebuah artikel yang menyebut Denny Darko cucu bos rokok Reco Pentung. Banyak warganet yang terkejut karena selama ini Denny Darko dikenal sebagai entertainer sekaligus pembaca tarot, bukan sebagai figur yang memiliki keterkaitan dengan bisnis kretek besar di masa lalu.
Dalam perbincangan tersebut, Denny Darko membenarkan kabar tersebut dan menyebut bahwa Reco Pentung merupakan pabrik rokok asal Tulungagung, Jawa Timur, yang didirikan sejak era awal kemerdekaan. Ia juga menyampaikan bahwa jika perusahaan rokok itu masih bertahan hingga sekarang, kemungkinan besar dirinya tidak akan masuk ke dunia hiburan.
“Kalau di universe yang lain perusahaan rokoknya masih ada, mungkin saya enggak jadi seorang entertainer,” ujarnya sambil menggambarkan situasi tersebut sebagai semacam “multiverse”.
Berdiri Sejak 1946, Pernah Jaya dan Punya Jingle Legendaris
Denny Darko menjelaskan bahwa pabrik rokok tersebut didirikan secara resmi pada tahun 1946, meski proses produksi rumahan disebut sudah berjalan sejak era 1930-an. Pada masanya, industri kretek memang menjadi salah satu usaha yang berkembang pesat di Indonesia, bahkan sebelum filter rokok populer digunakan.
Ia juga menyebut bahwa kakeknya memiliki relasi baik dengan pendiri pabrik rokok besar lainnya, termasuk Gudang Garam yang berlokasi di Kediri, wilayah yang bertetangga dengan Tulungagung.
Menariknya, Reco Pentung disebut memiliki jingle ikonik berbahasa Jawa yang masih diingat masyarakat Tulungagung lintas generasi. Menurut Denny Darko, orang berusia sekitar 30 tahun pun masih banyak yang hafal potongan lagu iklan rokok tersebut.
Bangkrut karena Regulasi dan Mismanagement
Meski sempat berjaya, Denny Darko mengungkap bahwa perusahaan rokok keluarganya akhirnya tidak mampu bertahan. Penyebabnya, menurut dia, adalah regulasi industri rokok yang semakin ketat dan berubah mengikuti kebijakan pemerintah dari masa ke masa.
Baca Juga: SkTP Tahap 2 Terbit 26 Januari 2026, Tpg Guru Mulai Cair Dan Ini Jadwal Penting Yang Wajib Dipahami
“Regulasi untuk perusahaan rokok itu sangat ketat dan berubah-ubah. Kami enggak cepat adaptasi, ditambah mismanagement,” ungkapnya.
Akibatnya, perusahaan tersebut mengalami masalah produksi hingga keuangan dan akhirnya dipailitkan sekitar tahun 2001 atau 2002. Denny Darko menyebut hal itu sebagai sesuatu yang disayangkan karena bisnis tersebut sejatinya sudah berjalan puluhan tahun dan menjadi bagian dari sejarah kretek di daerahnya.
Bantah Pesugihan Nyi Roro Kidul, Ini Penjelasan Denny Darko
Dalam podcast itu, Denny Darko juga menanggapi isu yang sempat muncul dari konten kreator horor yang menelusuri lokasi pabrik. Ia menyebut ada narasi liar yang mengatakan bahwa keluarga pemilik pabrik rokok tersebut melakukan pesugihan dengan Nyi Roro Kidul.
Namun Denny Darko menegaskan bahwa informasi itu tidak benar. Ia menjelaskan, memang pernah ada tempat wisata di tepi pantai Tulungagung yang dibangun oleh keluarganya pada era 1970–1980-an. Di sana terdapat lukisan besar Nyi Roro Kidul sebagai bentuk penghormatan budaya masyarakat pesisir yang masih memegang mitos setempat.
Menurutnya, keberadaan lukisan tersebut sering disalahartikan sebagai praktik penyembahan atau ritual tertentu, padahal hanya bagian dari strategi sosial agar tidak memicu konflik dengan warga sekitar.
“Kalau saya, sebagai seorang muslim ada namanya lakum dinukum waliadin. Keyakinan saya untuk diri saya, keyakinan orang lain silakan,” tegasnya.
Denny Darko Tegaskan Bukan Spiritual, Tapi Knowledge
Denny Darko juga menekankan bahwa dirinya tidak bekerja dengan spiritualisme. Ia menyebut pembacaan tarot yang ia lakukan murni berbasis pengetahuan dan analisis, bukan kemampuan gaib.
Ia bahkan menegaskan bahwa kakeknya tidak memiliki kekuatan magis. Meski kakeknya pernah mendalami kejawen dan kemudian semakin mendalami Islam hingga naik haji, hal itu tidak berkaitan dengan kesuksesan bisnis rokok yang pernah dimiliki.
Di akhir obrolan, Denny Darko mengaku masih menyimpan keinginan untuk membangkitkan kembali warisan keluarga dalam bentuk bisnis rokok, meski bukan untuk mengejar kejayaan besar, melainkan menjaga nilai budaya dan legacy yang pernah ada.
Editor : Natasha Eka Safrina