BANDA ACEH - Harga emas di Aceh mengalami lonjakan drastis dalam sebulan terakhir dan membuat warga serta pedagang sama-sama terkejut. Di sejumlah daerah, kenaikan bahkan terjadi dalam hitungan jam, memicu perbincangan luas karena dinilai “tak masuk akal” dan jauh lebih cepat dibanding tren normal sebelumnya.
Kondisi ini membuat harga emas di Aceh menjadi salah satu topik paling ramai dibicarakan masyarakat. Pasalnya, lonjakan harga tidak hanya terjadi pada emas perhiasan, tetapi juga emas dengan kadar tinggi yang selama ini menjadi pilihan investasi favorit warga.
Di Kota Langsa, harga emas kadar 99,5 persen saat ini disebut sudah menembus Rp10.200.000 per manyam. Angka ini menjadi salah satu level tertinggi yang tercatat dalam beberapa waktu terakhir. Sementara itu, emas kadar 97 persen juga ikut meroket hingga berada di kisaran Rp9.950.000 per manyam.
Baca Juga: Bersolidaritas Terhadap Guru Korban Kekerasan
Tak hanya Langsa, Banda Aceh juga mengalami fenomena serupa. Para pedagang menilai kenaikan harga emas di ibu kota provinsi itu bergerak sangat cepat dan sulit diprediksi. Bahkan dalam kurun waktu satu hari, harga emas disebut melonjak Rp700.000 per manyam hingga menyentuh angka Rp9.900.000 per manyam, belum termasuk ongkos pembuatan.
Harga Emas di Langsa Naik Dua Kali Sehari
Pengelola Toko Emas Jasa Sejahtera di Kota Langsa, Fakrul Razi, menyebut pergerakan harga emas dalam beberapa hari terakhir terasa sangat agresif. Ia mengaku, dalam sehari harga emas bisa mengalami kenaikan hingga dua kali.
Menurut Fakrul, tren kenaikan ini sudah terlihat sejak awal tahun baru, namun makin terasa tajam dalam beberapa pekan terakhir. Ia menyebut harga emas yang sebelumnya berada di kisaran Rp8,5 juta per manyam, kini melonjak dan menembus angka di atas Rp10 juta.
“Harga emas cukup tinggi dari pekan awal tahun baru sampai sekarang naiknya tinggi. Dari harga Rp8.500 sekarang sudah mencapai Rp10.250. Pagi tadi di angka Rp10.100, sekarang sudah naik jadi Rp10.200.000,” ujarnya.
Lonjakan drastis ini membuat banyak pihak terkejut, baik masyarakat yang ingin membeli maupun pedagang yang harus menyesuaikan harga jual setiap saat.
Banda Aceh Tembus Rp9,9 Juta per Manyam, Naik Rp700 Ribu Sehari
Di Banda Aceh, seorang pedagang emas bernama Dafa menyampaikan bahwa harga emas per manyam pada 29 Januari 2026 diperdagangkan di angka Rp9.900.000 per manyam. Ia menegaskan angka tersebut belum termasuk ongkos pembuatan, yang biasanya berbeda tergantung model perhiasan.
Dafa menyebut kenaikan harga emas terjadi sangat cepat. Dalam satu hari saja, harga emas melonjak dari sekitar Rp9.200.000 menjadi Rp9.900.000 per manyam, atau naik sekitar Rp700.000.
Menurutnya, salah satu faktor yang memanaskan pasar adalah konflik geopolitik yang terus berkembang. Ia menilai konflik antara Amerika Serikat dan Iran ikut memicu ketidakstabilan dan mendorong harga emas terus naik.
“Penyebab harga emas mengalami kenaikan sangat fantastis karena konflik antara AS dan Iran terus memanaskan, sehingga harga emas tidak stabil. Prediksi ke depan mungkin harga akan terus naik,” kata Dafa.
Daya Beli Warga Tetap Tinggi, 95 Persen Masih Memilih Beli
Meski harga emas naik tajam, aktivitas transaksi di toko emas ternyata masih ramai. Di Banda Aceh, Dafa menyebut mayoritas konsumen tetap melakukan pembelian.
Ia memperkirakan sekitar 95 persen konsumen masih membeli emas, baik untuk investasi maupun kebutuhan pribadi. Sedangkan 5 persen lainnya memilih menjual emas, biasanya untuk memenuhi kebutuhan mendesak.
Fenomena ini menunjukkan emas masih dianggap sebagai instrumen investasi yang aman. Warga memilih mengamankan nilai aset mereka di tengah kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi, sekaligus memanfaatkan emas sebagai tabungan jangka panjang.
Mahar Pernikahan Tetap Ada, Tapi Jumlah Manyam Turun
Selain investasi, emas juga masih menjadi pilihan utama untuk kebutuhan mahar pernikahan. Namun, pedagang mengakui jumlah manyam yang diberikan cenderung menurun karena harga sudah terlalu tinggi.
Dafa menjelaskan, dulu uang Rp10 juta masih bisa mendapatkan belasan hingga puluhan manyam. Kini situasinya berbeda. Dengan harga di atas Rp10 juta per manyam, 10 manyam saja sudah lebih dari Rp100 juta, belum termasuk ongkos pembuatan.
Akibatnya, mahar yang sebelumnya lazim di angka 20–30 manyam, kini banyak turun menjadi 6–10 manyam, menyesuaikan kemampuan calon pengantin.
Pedagang menilai, tingginya minat beli emas saat ini dipengaruhi oleh kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan keinginan menjaga nilai uang. Namun mereka juga mengimbau warga agar lebih cermat, karena harga emas masih berpotensi bergerak naik turun sewaktu-waktu.
Editor : Natasha Eka Safrina