Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Imlek Penuh Mitos dan Legenda: Dari Monster Nian, Angpau Penolak Hantu, hingga Bait Sajak Musim Semi

Dyah Wulandari • Senin, 9 Februari 2026 | 16:00 WIB

Sejarah Imlek penuh mitos dan legenda, dari monster Nian, angpau penolak hantu Sui, hingga bait sajak musim semi di pintu
Sejarah Imlek penuh mitos dan legenda, dari monster Nian, angpau penolak hantu Sui, hingga bait sajak musim semi di pintu

JAKARTA - Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan warna merah, petasan, angpau, dan berbagai hidangan khas. Namun di balik kemeriahan tersebut, sejarah Imlek ternyata berakar dari mitos, rasa takut, serta harapan masyarakat Tiongkok kuno dalam menyambut pergantian tahun. Tradisi yang kini dirayakan lintas generasi itu menyimpan kisah panjang tentang monster, hantu, dan simbol perlindungan diri.

Secara etimologi, kata Imlek berasal dari dialek Hokkian. “Im” berarti bulan, sementara “Lek” merujuk pada penanggalan. Jika digabung, Imlek bermakna kalender bulan. Dalam bahasa Mandarin, Imlek juga dikenal sebagai Chun Jie atau Festival Musim Semi, karena awalnya merupakan perayaan menyambut datangnya musim semi setelah musim dingin yang panjang.

Dalam sejarahnya, musim semi disambut dengan sukacita karena menjadi tanda dimulainya kembali aktivitas bercocok tanam. Oleh sebab itu, Imlek sejak awal bukan sekadar hari raya keagamaan, melainkan perayaan budaya yang bisa dirayakan oleh masyarakat Tionghoa tanpa memandang agama.

Baca Juga: Ribuan Peserta Meriahkan Bank Tulungagung Runiversary, Sekaligus Jadi Puncak HUT Ke-32

Legenda Monster Nian dan Asal Warna Merah

Salah satu kisah paling populer dalam sejarah Imlek adalah legenda monster Nian. Nian digambarkan sebagai makhluk buas yang hidup di dasar laut dan hanya muncul pada malam Tahun Baru untuk memangsa manusia serta hewan ternak. Setiap akhir tahun, penduduk desa memilih mengungsi ke pegunungan demi menghindari teror monster tersebut.

Suatu ketika, seorang pria tua misterius memilih tinggal di desa. Ia menempelkan kertas merah di pintu rumah, menyalakan lilin, mengenakan pakaian merah, dan membakar bambu hingga menimbulkan suara ledakan keras. Ternyata, suara bising dan warna merah membuat Nian ketakutan dan melarikan diri.

Baca Juga: Epstein Files Terbesar Dirilis AS: Jutaan Dokumen Seret Nama Elite Dunia, Dari Politisi hingga Selebriti Global

Sejak peristiwa itu, masyarakat percaya bahwa Nian takut pada warna merah, api, dan suara keras. Tradisi menghias rumah dengan warna merah, menyalakan petasan, serta memasang lentera merah pun lahir dan diwariskan hingga kini sebagai simbol perlindungan dan keberuntungan.

Angpau Berasal dari Mitos Hantu Sui

Selain monster Nian, sejarah Imlek juga berkaitan dengan mitos hantu bernama Sui. Konon, Sui sering muncul pada malam tahun baru untuk menakut-nakuti anak-anak saat tidur. Jika disentuh, anak tersebut bisa mengalami demam tinggi dan trauma.

Baca Juga: IKA Unair Tulungagung dan Komunitas Peduli Lingkungan Hijaukan Bukit Dondong di Tanggunggunung, Berharap Masyarakat Turut Menjaga

Untuk melindungi anak-anak, orang tua biasanya begadang sambil menyalakan lilin. Dalam sebuah legenda, seorang pejabat memberikan delapan keping koin kepada anaknya agar tetap terjaga. Koin itu dibungkus dengan kertas merah dan diletakkan di bawah bantal. Saat hantu Sui datang, koin tersebut memancarkan cahaya terang hingga mengusirnya.

Sejak saat itu, uang yang dibungkus kertas merah dipercaya membawa perlindungan dan keberuntungan. Tradisi ini kemudian dikenal sebagai angpau atau hongbao, yang hingga kini dibagikan kepada anak-anak dan mereka yang belum menikah.

Bait Sajak Musim Semi di Pintu Rumah

Dekorasi Imlek tak lengkap tanpa bait sajak musim semi atau kuplet merah yang ditempel di pintu rumah. Tradisi ini berawal dari kepercayaan terhadap kayu persik sebagai penolak bala. Dalam legenda, terdapat pohon persik raksasa di dunia roh yang dijaga dua dewa bernama Shentu dan Yulei. Keduanya dikenal sebagai penjaga yang ditakuti para hantu.

Baca Juga: BMKG Ungkap Ancaman Gempa Megathrust Selat Sunda: Jangan Tunggu Sirene, Warga Pesisir Diminta Paham Aturan 20-20-20

Awalnya, nama kedua dewa itu dipahat di kayu persik dan digantung di pintu rumah. Pada masa Dinasti Song, masyarakat mulai menggantinya dengan dua baris puisi keberuntungan. Seiring waktu, kayu persik diganti dengan kertas merah yang melambangkan kebahagiaan dan kesejahteraan.

Rangkaian Perayaan Imlek hingga Cap Go Meh

Menurut sejarah, perayaan Imlek dimulai sejak tanggal 30 bulan ke-12 dalam penanggalan Tiongkok dengan sembahyang kepada Tian atau Tuhan Langit. Rangkaian ini berlangsung hingga hari ke-15 yang dikenal sebagai Cap Go Meh, sebagai penutup sekaligus ungkapan rasa syukur.

Baca Juga: Gempa Megathrust Pacitan Magnitudo 6,4 Guncang Jawa, BMKG Ungkap Mekanisme Naik dan Catatan Tsunami 1840

Imlek juga berkaitan dengan legenda balapan 12 hewan yang menjadi asal-usul shio dalam kalender Tiongkok. Kisah ini kerap diceritakan kepada anak-anak sebagai pengenalan budaya sejak dini.

Pada akhirnya, sejarah Imlek menunjukkan bahwa perayaan ini bukan hanya soal pesta dan hiburan, melainkan refleksi perjalanan manusia menghadapi ketakutan, merawat harapan, dan menjaga tradisi kebersamaan dari generasi ke generasi.

Editor : Dyah Wulandari
#tradisi tahun baru #Monster Nian #angpau imlek #sejarah imlek