JAKARTA - Sejarah Imlek dan tradisi perayaannya menjadi bagian penting dari perjalanan budaya masyarakat Tionghoa di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Perayaan Tahun Baru Imlek tidak hanya dimaknai sebagai pergantian tahun semata, tetapi juga sarat nilai sejarah, filosofi, serta tradisi yang diwariskan secara turun-temurun sejak ribuan tahun lalu.
Sejarah Imlek dan tradisi perayaannya berakar dari sistem penanggalan Tiongkok atau kalender lunar. Berbeda dengan kalender Masehi, kalender lunar mengikuti pergerakan bulan dan matahari sehingga tanggal perayaan Imlek selalu berubah setiap tahunnya. Meski begitu, makna perayaannya tetap sama, yakni menyambut tahun baru dengan harapan keberuntungan, kesehatan, dan kemakmuran.
Sejarah Imlek Berawal dari Tradisi Agraris
Mengutip jurnal Universitas Sumatera Utara berjudul Mitos Tradisi Perayaan Tahun Baru Imlek, Imlek atau yang juga dikenal dengan Sin Cia awalnya merupakan tradisi masyarakat agraris di Tiongkok kuno. Perayaan ini dilakukan para petani untuk menyambut datangnya musim semi, masa yang dianggap penting bagi keberlangsungan hasil panen.
Baca Juga: Ribuan Peserta Meriahkan Bank Tulungagung Runiversary, Sekaligus Jadi Puncak HUT Ke-32
Seiring waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi perayaan Tahun Baru Imlek karena bertepatan dengan awal tahun dalam kalender Cina. Dari sinilah sejarah Imlek dan tradisi perayaannya mulai dikenal luas dan terus bertahan hingga sekarang.
Legenda Nian, Asal Usul Warna Merah dan Petasan
Dalam sejarah Imlek, terdapat legenda populer tentang makhluk buas bernama Nian. Konon, Nian adalah monster pemakan manusia yang muncul setiap akhir musim dingin, bertepatan dengan pergantian tahun. Makhluk ini merusak panen, memangsa ternak, bahkan mengancam keselamatan warga desa.
Suatu hari, penduduk desa menyadari bahwa Nian takut pada warna merah, cahaya terang, dan suara bising. Sejak saat itu, warga mengenakan pakaian merah, memasang hiasan merah di rumah, serta menyalakan petasan dan kembang api. Tradisi inilah yang kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Imlek hingga kini.
Sejarah Imlek di Indonesia
Sejarah Imlek dan tradisi perayaannya di Indonesia tidak terlepas dari kedatangan pedagang Tiongkok ke Asia Tenggara. Selain membawa komoditas dagang, mereka juga memperkenalkan budaya dan tradisi Imlek ke Nusantara.
Pada masa Presiden Soekarno, masyarakat Tionghoa diberikan kebebasan untuk mengekspresikan identitas budaya, termasuk merayakan Imlek secara terbuka. Namun, pada era Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto, perayaan Imlek dibatasi dan hanya boleh dilakukan di lingkungan tertutup.
Perubahan besar terjadi saat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjabat Presiden. Imlek kembali diakui dan dirayakan secara terbuka. Puncaknya, pada tahun 2003, Imlek resmi ditetapkan sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2002 yang ditandatangani Presiden Megawati Soekarnoputri.
Tradisi Imlek yang Tetap Dilestarikan
Sejarah Imlek dan tradisi perayaannya juga tercermin dalam berbagai ritual yang masih dijalankan hingga kini. Salah satunya adalah tradisi bersih-bersih rumah sehari sebelum Imlek. Membersihkan rumah pada hari Imlek justru dihindari karena dipercaya dapat mengusir keberuntungan.
Selain itu, rumah juga didekorasi dengan lampion, kertas bertuliskan doa, dan ornamen bernuansa merah. Warna merah dipercaya membawa energi positif, perlindungan, serta kesejahteraan.
Makanan Khas Imlek Sarat Makna
Hidangan Imlek tidak hanya berfungsi sebagai santapan, tetapi juga simbol harapan. Biasanya disajikan 12 jenis makanan yang melambangkan 12 shio. Ayam utuh melambangkan kemakmuran keluarga, mi panjang melambangkan umur panjang, sedangkan kue lapis legit bermakna rezeki yang berlapis-lapis. Kue keranjang dan jeruk juga menjadi sajian wajib saat Imlek.
Baca Juga: Abad Kedua NU sebagai Lokomotif Peradaban Dunia
Angpau, Barongsai, dan Sembahyang Leluhur
Tradisi bagi-bagi angpau menjadi momen yang paling dinanti. Angpau berisi uang diberikan kepada anak-anak dan orang tua sebagai simbol berbagi rezeki. Angka genap dan bukan angka empat menjadi aturan penting karena diyakini membawa keberuntungan.
Sementara itu, pertunjukan barongsai hadir sebagai simbol kebahagiaan dan penolak bala. Tak ketinggalan, sembahyang leluhur juga dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu, dengan menyalakan dupa dan menyajikan persembahan.
Perayaan Imlek akhirnya menjadi momentum kebersamaan, refleksi diri, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.
Editor : Dyah Wulandari