JAKARTA - Legenda Nian dan barongsai menjadi cerita yang tak terpisahkan dari perayaan Tahun Baru Imlek. Di balik kemeriahan lampion merah, dentuman petasan, serta tarian barongsai yang menghiasi perayaan Imlek setiap tahun, tersimpan kisah kuno tentang ketakutan, kecerdikan, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Legenda Nian dan barongsai berasal dari cerita rakyat Tiongkok kuno yang telah diwariskan secara turun-temurun. Dalam kisah tersebut, Nian digambarkan sebagai makhluk buas bertubuh besar dengan cakar tajam dan gigi runcing. Setiap menjelang pergantian tahun, makhluk ini muncul dari gunung atau dasar laut untuk meneror desa, memangsa ternak, merusak hasil panen, bahkan mengancam keselamatan penduduk.
Kehadiran Nian membuat warga hidup dalam ketakutan. Menjelang Tahun Baru, desa selalu diliputi kecemasan karena tidak ada yang mampu melawan makhluk tersebut. Warga hanya bisa bersembunyi dan berharap Nian segera pergi setelah melampiaskan amarahnya.
Baca Juga: Ribuan Peserta Meriahkan Bank Tulungagung Runiversary, Sekaligus Jadi Puncak HUT Ke-32
Kakek Tua dan Rahasia Mengusir Nian
Legenda Nian dan barongsai kemudian memasuki titik balik saat seorang kakek tua muncul di desa. Ia mengungkapkan bahwa Nian sebenarnya memiliki kelemahan. Makhluk tersebut takut pada warna merah, api, dan suara keras. Awalnya, warga ragu mempercayai ucapan sang kakek, namun mereka akhirnya memutuskan untuk mencoba demi keselamatan bersama.
Pada malam sebelum Tahun Baru, seluruh desa bersiap. Warga menggantung kain dan kertas berwarna merah di rumah-rumah mereka. Obor dinyalakan, gong disiapkan, dan petasan dikumpulkan. Saat Nian datang, warga serempak menyalakan petasan, membunyikan alat musik, serta mengibarkan dekorasi merah.
Baca Juga: HUT Ke-18 Partai Gerindra, DPC Gerindra Tulungagung Perkuat Soliditas dan Konsolidasi Kader
Hasilnya mengejutkan. Nian panik, ketakutan oleh cahaya api, warna merah, dan suara bising yang menggema di seluruh desa. Makhluk itu pun kabur dan tidak pernah kembali lagi. Sejak saat itulah, warga desa terbebas dari teror tahunan.
Awal Mula Tradisi Warna Merah dan Petasan
Legenda Nian dan barongsai inilah yang diyakini menjadi asal mula tradisi menghias rumah dengan warna merah saat Imlek. Warna merah dianggap sebagai simbol perlindungan, keberanian, dan keberuntungan. Petasan dan kembang api juga dipercaya mampu mengusir energi negatif dan membawa awal baru yang lebih baik.
Baca Juga: Wujudkan Keindahan Kota, DLH Tulungagung Kosek Jalan dan Trotoar Alun-Alun Libatkan Puluhan Personel
Tradisi tersebut kemudian menyebar luas dan menjadi bagian penting dari perayaan Tahun Baru Imlek di berbagai negara, termasuk Indonesia. Hingga kini, warna merah selalu mendominasi perayaan Imlek, mulai dari dekorasi rumah, pakaian, hingga amplop angpau.
Hubungan Legenda Nian dan Barongsai
Legenda Nian dan barongsai juga berkaitan erat dengan kehadiran pertunjukan barongsai dalam perayaan Imlek. Barongsai dipercaya sebagai simbol makhluk suci yang membawa kebahagiaan, keberuntungan, dan kemakmuran. Gerakan dinamis barongsai, diiringi tabuhan drum dan gong, melambangkan kekuatan yang mampu mengusir roh jahat.
Suara keras dari alat musik barongsai memiliki makna simbolis yang sama dengan petasan, yakni menakut-nakuti makhluk jahat seperti Nian. Karena itu, pertunjukan barongsai hampir selalu hadir dalam perayaan Imlek, baik di klenteng, pusat perbelanjaan, hingga lingkungan permukiman.
Makna Filosofis di Balik Legenda
Lebih dari sekadar cerita rakyat, legenda Nian dan barongsai mengandung pesan filosofis. Kisah ini mengajarkan bahwa ketakutan bisa dikalahkan dengan pengetahuan, keberanian, dan kebersamaan. Warga desa tidak melawan Nian dengan kekuatan fisik, melainkan dengan kecerdikan dan kerja sama.
Nilai-nilai tersebut masih relevan hingga saat ini. Perayaan Imlek menjadi momen refleksi untuk meninggalkan hal-hal buruk di tahun sebelumnya dan menyambut tahun baru dengan optimisme, persatuan, serta harapan akan rezeki dan keselamatan.
Hingga kini, legenda Nian dan barongsai tetap hidup dalam setiap perayaan Imlek. Dentuman petasan, warna merah yang mendominasi, dan tarian barongsai bukan sekadar hiburan, melainkan simbol kemenangan manusia atas ketakutan dan awal baru yang penuh harapan.
Editor : Dyah Wulandari