JAKARTA – Kisah pesugihan Nyai Roro Kembang Sore kembali menggemparkan publik setelah seorang penyiar radio bernama samaran Teh Tata membeberkan pengalaman kelamnya. Ia mengaku pernah menjalani ritual pesugihan ekstrem di kawasan Gunung Bolo, Tulungagung, yang menuntut tumbal paling mengerikan: janin yang dikandungnya sendiri.
Pengakuan itu disampaikan Teh Tata dalam sebuah wawancara di kanal YouTube bertema horor dan kisah mistis. Cerita tersebut sontak menyedot perhatian karena menggambarkan praktik pesugihan Nyai Roro Kembang Sore secara detail, vulgar, dan penuh konsekuensi tragis.
Terpuruk, Hamil, dan Kehilangan Pekerjaan
Semua bermula pada 2017, saat Teh Tata berada di puncak karier sebagai penyiar radio dan MC di Bandung. Hubungan asmara dengan seorang pria berujung pahit setelah terungkap sang kekasih telah beristri. Konflik itu berbuntut panjang: gosip menyebar, kariernya runtuh, dan ia dipecat dari radio.
Baca Juga: Ribuan Peserta Meriahkan Bank Tulungagung Runiversary, Sekaligus Jadi Puncak HUT Ke-32
Di tengah tekanan berat tersebut, Teh Tata mendapati dirinya hamil. Tanpa pekerjaan, tanpa pemasukan, dan diliputi depresi, ia pulang ke Tulungagung untuk mencari ketenangan. Di sanalah titik balik hidupnya terjadi.
Ditawari Jalan Pintas: Pesugihan Nyai Roro Kembang Sore
Kepada seorang kerabat, Teh Tata mengaku ingin kembali kaya demi menghidupi keluarga. Jawaban yang datang justru menyeretnya ke jalan gelap: pesugihan Nyai Roro Kembang Sore.
Baca Juga: Abad Kedua NU sebagai Lokomotif Peradaban Dunia
Ia dibawa menemui kuncen Gunung Bolo dan seorang dukun. Ritual ditetapkan berlangsung pada malam Kamis Kliwon. Syaratnya berupa sesajen, uang ratusan ribu rupiah, dan kesiapan mental menerima risiko besar.
Ritual Seksual dan Penampakan Nyai
Ritual inti pesugihan ini disebut dilakukan dengan cara berhubungan badan dengan pria asing yang sama-sama menjadi “pasien”. Prosesi dilakukan di hadapan dukun, diiringi mantra dan suara gamelan gaib.
Teh Tata mengaku melihat sosok perempuan cantik berpakaian kemben hijau dengan aksen emas dan mahkota, yang diyakini sebagai Nyai Roro Kembang Sore. Sosok tersebut menyaksikan ritual hingga selesai.
“Setelah ritual selesai, saya diberi satu kantong koin emas sebagai hadiah,” ujar Teh Tata.
Janin Gugur, Koin Berubah Jadi Uang
Namun hadiah itu datang dengan harga mahal. Salah satu syarat yang telah disepakati adalah penukaran janin dalam kandungan. Setibanya di rumah orang tuanya, Teh Tata mengalami keguguran tanpa rasa sakit.
Baca Juga: COVID-19 Disebut Awal Perang Dunia Ketiga, Dokumen Lock Step Rockefeller Kembali Diperdebatkan
Janin yang masih kecil itu dibungkus dan dibawa bersamanya. Pada saat bersamaan, koin emas yang diterimanya berubah menjadi uang tunai di dalam lemari. Totalnya mencapai sekitar Rp1,5 miliar.
Hidup Berubah Drastis
Dengan uang hasil pesugihan Nyai Roro Kembang Sore, Teh Tata membeli rumah secara tunai, mobil, serta memenuhi gaya hidup mewah. Ia juga berhasil kembali bekerja di radio setelah melakukan klarifikasi.
Namun di balik kemewahan, rasa bersalah terus menghantui. “Satu sisi senang ekonomi stabil, satu sisi hancur karena kehilangan anak,” ucapnya.
Konsekuensi Panjang dan Ritual Lanjutan
Pesugihan tersebut ternyata tidak berhenti di satu ritual. Teh Tata diwajibkan kembali ke Gunung Bolo setiap Jumat Pon untuk melakukan ritual lanjutan, termasuk menyantap kambing mentah di area makam.
Ia juga mengaku mengalami gangguan saat hendak beribadah. Setiap berniat salat atau bersedekah, tubuhnya mendadak sakit.
Dalam pengakuan lanjutan, Teh Tata menyebut perjanjian pesugihan tersebut memakan banyak tumbal lain dalam hidupnya, termasuk pasangan dan anak di masa depan
Editor : Dyah Wulandari