Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pengakuan Mengerikan Pesugihan Nyai Roro Kembang Sore: Ritual Seks di Gunung Bolo, Janin Jadi Tumbal, Uang Rp1,5 Miliar Muncul Sekejap

Dyah Wulandari • Senin, 9 Februari 2026 | 16:20 WIB

Pengakuan pesugihan Nyai Roro Kembang Sore: ritual seks di Gunung Bolo, janin jadi tumbal, uang Rp1,5 miliar muncul sekejap.
Pengakuan pesugihan Nyai Roro Kembang Sore: ritual seks di Gunung Bolo, janin jadi tumbal, uang Rp1,5 miliar muncul sekejap.

JAKARTA – Kisah pesugihan Nyai Roro Kembang Sore kembali menggemparkan publik setelah seorang penyiar radio bernama samaran Teh Tata membeberkan pengalaman kelamnya. Ia mengaku pernah menjalani ritual pesugihan ekstrem di kawasan Gunung Bolo, Tulungagung, yang menuntut tumbal paling mengerikan: janin yang dikandungnya sendiri.

Pengakuan itu disampaikan Teh Tata dalam sebuah wawancara di kanal YouTube bertema horor dan kisah mistis. Cerita tersebut sontak menyedot perhatian karena menggambarkan praktik pesugihan Nyai Roro Kembang Sore secara detail, vulgar, dan penuh konsekuensi tragis.

Terpuruk, Hamil, dan Kehilangan Pekerjaan

Semua bermula pada 2017, saat Teh Tata berada di puncak karier sebagai penyiar radio dan MC di Bandung. Hubungan asmara dengan seorang pria berujung pahit setelah terungkap sang kekasih telah beristri. Konflik itu berbuntut panjang: gosip menyebar, kariernya runtuh, dan ia dipecat dari radio.

Baca Juga: Ribuan Peserta Meriahkan Bank Tulungagung Runiversary, Sekaligus Jadi Puncak HUT Ke-32

Di tengah tekanan berat tersebut, Teh Tata mendapati dirinya hamil. Tanpa pekerjaan, tanpa pemasukan, dan diliputi depresi, ia pulang ke Tulungagung untuk mencari ketenangan. Di sanalah titik balik hidupnya terjadi.

Ditawari Jalan Pintas: Pesugihan Nyai Roro Kembang Sore

Kepada seorang kerabat, Teh Tata mengaku ingin kembali kaya demi menghidupi keluarga. Jawaban yang datang justru menyeretnya ke jalan gelap: pesugihan Nyai Roro Kembang Sore.

Baca Juga: Abad Kedua NU sebagai Lokomotif Peradaban Dunia

Ia dibawa menemui kuncen Gunung Bolo dan seorang dukun. Ritual ditetapkan berlangsung pada malam Kamis Kliwon. Syaratnya berupa sesajen, uang ratusan ribu rupiah, dan kesiapan mental menerima risiko besar.

Ritual Seksual dan Penampakan Nyai

Ritual inti pesugihan ini disebut dilakukan dengan cara berhubungan badan dengan pria asing yang sama-sama menjadi “pasien”. Prosesi dilakukan di hadapan dukun, diiringi mantra dan suara gamelan gaib.

Baca Juga: IKA Unair Tulungagung dan Komunitas Peduli Lingkungan Hijaukan Bukit Dondong di Tanggunggunung, Berharap Masyarakat Turut Menjaga

Teh Tata mengaku melihat sosok perempuan cantik berpakaian kemben hijau dengan aksen emas dan mahkota, yang diyakini sebagai Nyai Roro Kembang Sore. Sosok tersebut menyaksikan ritual hingga selesai.

“Setelah ritual selesai, saya diberi satu kantong koin emas sebagai hadiah,” ujar Teh Tata.

Janin Gugur, Koin Berubah Jadi Uang

Namun hadiah itu datang dengan harga mahal. Salah satu syarat yang telah disepakati adalah penukaran janin dalam kandungan. Setibanya di rumah orang tuanya, Teh Tata mengalami keguguran tanpa rasa sakit.

Baca Juga: COVID-19 Disebut Awal Perang Dunia Ketiga, Dokumen Lock Step Rockefeller Kembali Diperdebatkan

Janin yang masih kecil itu dibungkus dan dibawa bersamanya. Pada saat bersamaan, koin emas yang diterimanya berubah menjadi uang tunai di dalam lemari. Totalnya mencapai sekitar Rp1,5 miliar.

Hidup Berubah Drastis

Dengan uang hasil pesugihan Nyai Roro Kembang Sore, Teh Tata membeli rumah secara tunai, mobil, serta memenuhi gaya hidup mewah. Ia juga berhasil kembali bekerja di radio setelah melakukan klarifikasi.

Baca Juga: BMKG Ungkap Ancaman Gempa Megathrust Selat Sunda: Jangan Tunggu Sirene, Warga Pesisir Diminta Paham Aturan 20-20-20

Namun di balik kemewahan, rasa bersalah terus menghantui. “Satu sisi senang ekonomi stabil, satu sisi hancur karena kehilangan anak,” ucapnya.

Konsekuensi Panjang dan Ritual Lanjutan

Pesugihan tersebut ternyata tidak berhenti di satu ritual. Teh Tata diwajibkan kembali ke Gunung Bolo setiap Jumat Pon untuk melakukan ritual lanjutan, termasuk menyantap kambing mentah di area makam.

Ia juga mengaku mengalami gangguan saat hendak beribadah. Setiap berniat salat atau bersedekah, tubuhnya mendadak sakit.

Baca Juga: Epstein Files Terbesar Dirilis AS: Jutaan Dokumen Seret Nama Elite Dunia, Dari Politisi hingga Selebriti Global

Dalam pengakuan lanjutan, Teh Tata menyebut perjanjian pesugihan tersebut memakan banyak tumbal lain dalam hidupnya, termasuk pasangan dan anak di masa depan

Editor : Dyah Wulandari
#ritual pesugihan #roro kembang sore #pesugihan gunung bolo #tumbal pesugihan #Gunung Bolo Tulungagung