Nama Sumiran Karsodiwiryo dikenal luas sebagai pendiri Pabrik Rokok Reco Pentung. Ia lahir dari keluarga miskin pada 9 September 1921 di Tulungagung. Sejak kecil hidupnya ditempa kerja keras. Ayahnya hanya buruh lapangan, sementara Sumiran kecil sudah terbiasa menggali tanah dan menimba air sepulang sekolah. Dari latar inilah, kisah suksesnya kemudian berkembang bukan hanya sebagai sejarah ekonomi, tetapi juga cerita mistis.
Dari Kerja Keras hingga Tuduhan Pesugihan
Setelah menikah pada 1941, Sumiran memulai usaha kecil-kecilan. Puncaknya terjadi pada Mei 1946 saat ia merintis produksi rokok kretek kelobot rumahan. Dari dapur sederhana, rokok buatannya dipasarkan sendiri dari pasar ke pasar. Tidak ada mesin, tidak ada modal besar. Namun usaha itu tumbuh pesat dan menjadi cikal bakal Reco Pentung.
Baca Juga: Ribuan Peserta Meriahkan Bank Tulungagung Runiversary, Sekaligus Jadi Puncak HUT Ke-32
Ketika Belanda kembali menduduki Tulungagung pada 1948 dan merobohkan patung Reco Pentung, Sumiran justru menjadikan nama itu sebagai simbol perlawanan. Tahun 1949, merek Reco Pentung resmi diluncurkan. Sejak saat itu, pabrik rokok tersebut berkembang pesat dan menyerap ribuan tenaga kerja.
Kesuksesan yang terlampau besar inilah yang kemudian memunculkan cerita pesugihan Tulungagung. Sebagian warga mengaitkan kejayaan Reco Pentung dengan kedekatan Sumiran terhadap kawasan Pantai Popoh, wilayah pesisir selatan yang sejak lama lekat dengan mitos Nyi Roro Kidul.
Pantai Popoh dan Mitos Laut Selatan
Sumiran diketahui ikut mengembangkan kawasan wisata Pantai Popoh melalui PT Sutera Bina Samudra sejak 1972. Aktivitasnya di kawasan laut selatan, termasuk kabar semedi dan penghormatan terhadap tradisi Jawa, memunculkan tafsir liar di tengah masyarakat.
Baca Juga: HUT Ke-18 Partai Gerindra, DPC Gerindra Tulungagung Perkuat Soliditas dan Konsolidasi Kader
Konon, kedekatan itu dipercaya membawa “berkah” yang membuat usaha rokoknya melesat. Cerita tersebut berkembang dari mulut ke mulut, menjadi bagian dari narasi pesugihan yang hingga kini masih dibicarakan secara diam-diam oleh warga Tulungagung.
Namun keluarga besar Sumiran menepis tegas anggapan tersebut. Cucu Sumiran, Deni Darko, menyebut kakeknya adalah seorang muslim yang taat di masa tuanya dan tidak pernah melakukan praktik pesugihan. Menurutnya, Sumiran hanya menghormati budaya Jawa dan menyediakan tempat bagi masyarakat yang masih memegang kepercayaan tradisional, tanpa ikut menjalankan ritual gaib.
Antara Mitos dan Realitas Bisnis
Secara faktual, perjalanan Reco Pentung menunjukkan pola jatuh bangun usaha yang lazim. Pada 1960-an, pabrik sempat terpuruk akibat gejolak politik nasional pasca G30S PKI. Ribuan pekerja dirumahkan. Namun Sumiran bangkit lewat inovasi dan peluncuran produk baru.
Kejayaan kembali mencapai puncak pada awal 1990-an dengan jumlah karyawan mencapai 4.500 orang. Reco Pentung bersaing dengan merek-merek besar nasional. Tetapi perubahan zaman tak terelakkan. Industri rokok dikuasai perusahaan bermodal triliunan, cukai meningkat, dan teknologi modern membuat pabrik semi-manual sulit bertahan.
Sekitar 1995, Pabrik Rokok Reco Pentung berhenti beroperasi. Aset pabrik disengketakan dan dilelang. Ribuan buruh kehilangan pekerjaan. Kejatuhan itu menjadi penanda bahwa kesuksesan Reco Pentung tidak bersifat supranatural, melainkan tunduk pada hukum ekonomi.
Pesugihan sebagai Cara Masyarakat Menafsirkan Kesuksesan
Kisah pesugihan Tulungagung dalam legenda Reco Pentung menunjukkan bagaimana masyarakat sering menafsirkan keberhasilan besar melalui lensa mistis. Bagi keluarga Sumiran, keberhasilan itu adalah hasil kerja keras, ketekunan, dan keberanian mengambil risiko.
Kini, bangunan tua Pabrik Rokok Reco Pentung masih berdiri di Tulungagung. Sebagian terbengkalai, sebagian beralih fungsi. Namun namanya tetap hidup, berdiri di antara sejarah nyata dan mitos pesugihan yang terus berpelukan dalam ingatan warga
Editor : Dyah Wulandari