Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pengakuan Mencekam Pencari Pesugihan Ngujang Tulungagung: Ritual Tengah Malam, Nazar Nyawa, hingga Usaha Tetap Bangkrut

Dyah Wulandari • Senin, 9 Februari 2026 | 16:30 WIB

Pengakuan pria Bengkulu soal pesugihan Ngujang Tulungagung: ritual makam, nazar tumbal, uang kembali, tapi usaha tetap bangkrut
Pengakuan pria Bengkulu soal pesugihan Ngujang Tulungagung: ritual makam, nazar tumbal, uang kembali, tapi usaha tetap bangkrut

JAKARTA - Pesugihan Ngujang Tulungagung kembali menjadi sorotan setelah seorang pria asal Bengkulu membongkar pengalaman pahitnya mencari jalan pintas kekayaan lewat ritual mistik. Alih-alih bangkit, usaha yang ia jalani justru semakin terpuruk, sementara ancaman nazar dan tumbal terus menghantui kehidupannya.

Pria bernama Rio Raharjo itu mengaku mulai terjerumus ke dunia pesugihan Ngujang Tulungagung setelah bengkel motor miliknya mengalami penurunan drastis sejak 2019. Padahal, sejak berdiri pada 2017, usaha tersebut sempat mencatat omzet tinggi untuk ukuran bengkel desa.

“Dua tahun pertama sangat bagus. Tapi setelah itu anjlok terus, tidak masuk akal,” kata Rio dalam pengakuannya di sebuah kanal YouTube bertema ekspedisi mistik.

Baca Juga: Ribuan Peserta Meriahkan Bank Tulungagung Runiversary, Sekaligus Jadi Puncak HUT Ke-32

Awal Mula Terjerat Pesugihan

Rio menuturkan, penurunan usaha membuatnya curiga ada unsur nonlogis. Ia kemudian mendatangi beberapa paranormal hingga ustaz. Jawaban yang ia terima hampir seragam: usahanya diduga ‘diserang’ secara gaib oleh pesaing.

Kondisi semakin memburuk ketika utang kepada agen suku cadang menumpuk. Dalam posisi terdesak, Rio mendapat rekomendasi dari temannya untuk menemui seorang kerabat di Malang yang disebut bisa mengantarkannya ke tempat pesugihan Ngujang Tulungagung.

Baca Juga: HUT Ke-18 Partai Gerindra, DPC Gerindra Tulungagung Perkuat Soliditas dan Konsolidasi Kader

“Katanya kalau Ngujang tidak berhasil, ada alternatif ‘uang kembali’,” ujarnya.

Dengan modal sekitar Rp3 juta, Rio pun berangkat dari Bengkulu ke Malang, lalu melanjutkan perjalanan ke Ngujang, Tulungagung.

Ritual di Kompleks Makam

Pesugihan Ngujang Tulungagung dikenal masyarakat sekitar sebagai pesugihan monyet atau kesugihan petek. Lokasinya berada di area pemakaman umum di selatan Sungai Brantas, yang dipercaya sebagai tempat bersemayam makhluk gaib.

Baca Juga: BMKG Ungkap Ancaman Gempa Megathrust Selat Sunda: Jangan Tunggu Sirene, Warga Pesisir Diminta Paham Aturan 20-20-20

Rio mengaku ritual dilakukan malam hari di sebuah ruangan makam yang ditutup tirai. Kuncen setempat memimpin prosesi dengan membakar kemenyan, dupa, serta menyajikan sesaji berupa kopi, rokok, pisang, dan bunga.

“Kami diminta menyebut identitas lengkap dan niat usaha,” ucap Rio.

Dalam ritual itu, ia diminta mengucapkan nazar. Jika usahanya pulih, ia berjanji akan menyembelih dua ekor kambing. Namun kuncen mengingatkan, jika nazar dilanggar, risikonya bisa menimpa anak atau istri.

Baca Juga: Epstein Files Terbesar Dirilis AS: Jutaan Dokumen Seret Nama Elite Dunia, Dari Politisi hingga Selebriti Global

Nazar, Sesaji, dan Mantra Rutin

Usai ritual, Rio diberi sebuah kantong kain putih berisi bunga dan kemenyan serta secarik kertas berisi mantra. Ia diwajibkan melakukan ritual lanjutan setiap malam Jumat di rumah selama empat kali berturut-turut, lengkap dengan sesaji nginang, dupa, kopi, teh, air putih, dan bunga telon.

“Kantong itu diasapi sambil membaca mantra, lalu ditinggal sampai subuh,” tuturnya.

Baca Juga: Epstein Files Kembali Viral, Isu Rekayasa Covid-19 dan Kepatuhan Massal Disebut sebagai Agenda Global

Ritual tersebut bahkan berlanjut hampir satu tahun. Namun hasilnya nihil. Bengkel tetap sepi, utang tak berkurang, dan tekanan mental semakin berat.

Uang Kembali yang Tak Pernah Kembali

Selain pesugihan Ngujang Tulungagung, Rio juga mencoba ritual “uang kembali” yang disebut-sebut mampu melipatgandakan modal. Ia diminta menunggu 40 hari sebelum membuka sebuah kardus kecil.

Baca Juga: Agenda Elit Global 2030 Dibongkar Darma Pangrekun: Dari MBG, Smart Farming, Vaksin hingga Prediksi Krisis Pekerjaan Massal

Di dalamnya, hanya terdapat uang receh dari berbagai pecahan, beras kuning, dan minyak. Ia diarahkan untuk menaburkan beras kuning di persimpangan jalan dan mengolesi uang dengan minyak sebelum disimpan di laci kas.

“Katanya cuma bisa dipakai 10 kali. Sisanya jadi ‘bibit uang’,” kata Rio.

Namun praktik tersebut juga tak membawa perubahan apa pun.

Baca Juga: Gempa Megathrust Pacitan Magnitudo 6,4 Guncang Jawa, BMKG Ungkap Mekanisme Naik dan Catatan Tsunami 1840

Pelajaran dari Jalan Pintas

Kini, Rio mengaku menyesali keputusannya. Selain kehilangan uang dan waktu, ia hidup dalam ketakutan akan nazar yang pernah diucapkannya.

Kisah ini menjadi gambaran gelap di balik pesugihan Ngujang Tulungagung yang selama ini dikenal penuh mitos kekayaan instan. Jalan pintas yang dijanjikan, justru membawa jebakan panjang tanpa kepastian hasil.

Baca Juga: Agenda Elit Global 2030 Dibongkar Darma Pangrekun: Dari MBG, Smart Farming, Vaksin hingga Prediksi Krisis Pekerjaan Massal

Editor : Dyah Wulandari
#ritual pesugihan #uang pesugihan #Pesugihan Tulungagung #kisah mistis jawa timur #Pesugihan Monyet di Ngujang