RADAR TULUNGAGUNG - Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, kue keranjang kembali menjadi salah satu hidangan wajib bagi masyarakat etnis Tionghoa.
Kue bercita rasa manis dengan tekstur lengket dan kenyal ini bukan sekadar sajian tradisional, tetapi juga memiliki makna filosofis yang kuat serta memberi dampak nyata pada perputaran ekonomi jelang Imlek.
Selain disajikan dalam ritual sembahyang, kue keranjang juga menjadi simbol kebersamaan keluarga dan harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.
Tak heran permintaan kue keranjang selalu meningkat signifikan setiap mendekati perayaan Imlek.
Baca Juga: Legenda Nian dan Barongsai: Asal Usul Warna Merah, Petasan, dan Tradisi Imlek yang Penuh Makna
Filosofi Kue Keranjang dalam Tradisi Imlek
Kue keranjang dikenal juga dengan nama nian gao, yang secara harfiah berarti “kue tahun”.
Makna di balik nama tersebut adalah doa dan harapan agar kehidupan di tahun yang baru menjadi lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Tekstur kue yang lengket dan kenyal melambangkan eratnya hubungan antaranggota keluarga agar tetap rukun dan bersatu.
Bentuk kue keranjang yang bulat juga memiliki arti tersendiri. Bulat dipercaya melambangkan persatuan, keharmonisan, dan cinta kasih dalam keluarga.
Filosofi ini sejalan dengan nilai kebersamaan yang dijunjung tinggi dalam budaya Tionghoa, di mana momen Imlek dimaknai sebagai waktu berkumpul dan mempererat hubungan keluarga.
Secara tradisional, kue keranjang dibuat dari tepung beras ketan, gula, dan air dengan proses pengolahan yang cukup panjang, bahkan bisa memakan waktu lebih dari 15 jam.
Nama “kue keranjang” sendiri berasal dari kebiasaan masyarakat Tionghoa zaman dahulu yang mencetak kue ini menggunakan wadah berbentuk keranjang dari bambu, yang juga melambangkan kekuatan dalam kebersamaan.
Permintaan Kue Keranjang Dongkrak Usaha Jelang Imlek
Dari sisi ekonomi, kue keranjang menjadi salah satu produk musiman yang paling dicari saat Imlek.
Setiap mendekati hari raya imlek produsen kue ini akan mendapatlan banyak pesanan dari konsumen.
Lonjakan pesanan biasanya mulai terasa satu minggu sebelum Imlek.
Selain digunakan sebagai sesaji sembahyang, kue keranjang juga dibagikan kepada sanak saudara dan tetangga sebagai simbol berbagi kebahagiaan.
Tradisi ini menjadikan kue keranjang tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga berperan penting dalam menggerakkan roda ekonomi masyarakat jelang Imlek.***
Editor : Vidya Sajar Fitri