Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Asal Usul Imlek dari Mitos dan Rasa Takut: Legenda Nian, Angpao, hingga Kaligrafi Hoki Terbalik yang Penuh Makna

Dyah Wulandari • Senin, 16 Februari 2026 | 21:05 WIB

Asal usul Imlek dari mitos Nian, angpao, hingga kaligrafi hoki terbalik. Simak sejarah dan tradisinya di sini.
Asal usul Imlek dari mitos Nian, angpao, hingga kaligrafi hoki terbalik. Simak sejarah dan tradisinya di sini.

JAKARTA - Banyak orang merayakan Tahun Baru Imlek dengan lampion merah, petasan, dan angpao tanpa benar-benar memahami asal usul Imlek dari mitos yang melatarbelakanginya. Di balik kemeriahan Spring Festival atau Festival Musim Semi, tersimpan kisah tentang rasa takut, monster legendaris, hingga simbol-simbol keberuntungan yang terus diwariskan lintas generasi.

Asal usul Imlek dari mitos berakar pada legenda kuno di Tiongkok tentang makhluk buas bernama Nian. Dalam bahasa Mandarin, kata “nian” juga berarti tahun. Konon, monster bertanduk ini tinggal di dasar laut dan muncul setiap akhir tahun untuk memangsa ternak serta manusia. Wujudnya disebut sebagai perpaduan singa dan naga, menyerupai makhluk kimera dalam mitologi.

Setiap menjelang akhir tahun, penduduk desa memilih mengungsi ke lereng pegunungan demi menghindari teror Nian. Rumah-rumah ditinggalkan kosong karena ketakutan telah menjadi rutinitas tahunan.

Baca Juga: Legenda Nian dan Barongsai di Balik Imlek: Asal-Usul Tradisi Merah dan Petasan yang Masih Bertahan Hingga Kini

Pengemis Tua dan Rahasia Warna Merah

Suatu ketika, datang seorang pengemis tua yang meminta izin bermalam di sebuah rumah. Tak ada warga yang peduli karena mereka sibuk menyelamatkan diri. Hanya seorang nenek renta yang bersedia menerimanya. Sang pengemis berjanji akan mengusir Nian.

Ia kemudian menghias pintu rumah dengan kertas merah dan menyalakan api dari bambu yang menimbulkan suara ledakan keras. Saat tengah malam, Nian muncul dan hendak menyerang. Namun, monster itu terkejut melihat warna merah menyala dan mendengar suara bising. Ia pun ketakutan dan melarikan diri.

Baca Juga: Jokowi Tegaskan Proses Hukum Kasus Fitnah Ijazah Harus Berlanjut, Pintu Maaf Terbuka tapi Pengadilan Jadi Kunci Pembuktian

Sejak saat itu, masyarakat percaya bahwa Nian takut pada warna merah, api, dan suara keras. Tradisi memasang dekorasi merah, menyalakan petasan, serta menabuh genderang menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Imlek.

Angpao dan Mitos Setan Sui

Selain Nian, ada pula legenda tentang setan bernama Sui yang dipercaya mengganggu anak-anak saat tidur di malam pergantian tahun. Konon, jika Sui menyentuh kepala anak, mereka bisa jatuh sakit hingga mengalami gangguan mental.

Baca Juga: Kasus Ijazah Joko Widodo Kembali Menghangat, Ahli Hukum Sebut Transparansi Bisa Buka Borok Banyak Pejabat

Untuk melindungi anak-anak, orang tua menyalakan lilin dan begadang semalaman. Dalam salah satu kisah, seorang pejabat memberi delapan koin kepada anaknya agar tetap terjaga. Koin tersebut dimasukkan ke dalam amplop merah dan diletakkan di bawah bantal. Saat Sui datang, koin-koin itu bersinar dan delapan dewa yang dikenal sebagai Ba Xian atau Eight Immortals muncul mengusirnya.

Dari sinilah muncul tradisi angpao atau hongbao, yang juga disebut sebagai uang penolak bala. Amplop merah bukan sekadar hadiah uang, tetapi simbol perlindungan dan doa keberuntungan.

Syair di Pintu dan Dewa Penjaga

Tradisi lain dalam asal usul Imlek dari mitos adalah menempelkan syair atau puisi di kusen pintu. Awalnya, nama dua dewa penjaga gerbang alam gaib dipahat pada kayu pohon persik untuk menangkal roh jahat. Pada masa Dinasti Song, tradisi itu berkembang menjadi penulisan syair di atas kertas merah.

Baca Juga: Kasus Ijazah Joko Widodo Kembali Menghangat, Ahli Hukum Sebut Transparansi Bisa Buka Borok Banyak Pejabat

Syair tersebut dipercaya membawa perlindungan sekaligus harapan baik untuk tahun mendatang. Hingga kini, tempelan puisi merah masih menjadi ciri khas rumah-rumah saat Imlek.

Kaligrafi Hoki Terbalik

Simbol populer lainnya adalah huruf “Fu” yang berarti keberuntungan atau hoki. Menariknya, kaligrafi ini sering ditempel terbalik. Legenda dari masa Dinasti Ming menyebutkan seorang kaisar memerintahkan setiap rumah memasang simbol hoki. Ada satu rumah yang menempelkannya terbalik dan hampir dihukum mati.

Baca Juga: Kasus Ijazah Palsu Joko Widodo Memanas, Relawan Klaim Ini Kemenangan Rakyat dan Tantang Pembuktian di Pengadilan

Namun, sang permaisuri menjelaskan bahwa kata “terbalik” dalam bahasa Mandarin terdengar seperti kata “tiba”. Artinya, keberuntungan telah tiba. Penjelasan itu menyelamatkan keluarga tersebut dan sejak saat itu tradisi menempel huruf Fu secara terbalik menjadi simbol hoki datang ke rumah.

Lebih dari Sekadar Perayaan

Imlek yang kini dikenal sebagai Festival Musim Semi pada dasarnya adalah perayaan pergantian musim dan tahun baru lunar. Namun, asal usul Imlek dari mitos menunjukkan bahwa tradisi ini lahir dari upaya manusia mengatasi rasa takut dengan kreativitas dan kebersamaan.

Baca Juga: Ramalan Bencana 2026 Menggemparkan, Sebut Gunung Meletus hingga Banjir Besar di Banten dan Sulawesi

Warna merah, petasan, angpao, hingga kaligrafi hoki bukan sekadar ornamen. Semuanya berakar pada cerita tentang perlindungan, harapan, dan doa agar tahun baru membawa keberuntungan.

Di era modern, Imlek mungkin dirayakan dengan cara berbeda. Namun pesan utamanya tetap sama: keberanian menghadapi ketakutan dan keyakinan bahwa setiap tahun baru adalah awal yang lebih baik.

Editor : Dyah Wulandari
#imlek #angpao #barongsai #asal usul imlek #festival musim semi