JAKARTA - Legenda Tahun Baru Imlek selalu menjadi cerita menarik yang diwariskan turun-temurun di kalangan masyarakat Tionghoa. Di balik kemeriahan petasan, dekorasi serba merah, hingga tradisi berbagi angpao, tersimpan kisah-kisah mitos yang sarat makna. Tahun Baru Imlek 2022 sendiri jatuh pada 1 Februari 2022 dan dikenal sebagai Tahun Macan Air menurut zodiak Cina.
Legenda Tahun Baru Imlek tak hanya sekadar dongeng pengantar tidur. Kisah-kisah tersebut membentuk tradisi yang masih dijalankan hingga kini. Mulai dari penggunaan warna merah, menyalakan petasan, hingga kebiasaan memberi angpao kepada anak-anak.
Secara etimologi, kata Imlek berasal dari dialek Hokkian. “Im” berarti bulan dan “Lek” berarti penanggalan. Jika digabungkan, Imlek berarti kalender bulan. Dalam bahasa Mandarin, perayaan ini disebut “Chun Jie” atau Festival Musim Semi karena awalnya merupakan perayaan menyambut datangnya musim semi setelah musim dingin berlalu.
Kisah Monster Nian dan Asal Usul Warna Merah
Salah satu legenda Tahun Baru Imlek yang paling terkenal adalah kisah monster Nian. Dalam cerita rakyat, Nian digambarkan sebagai monster buas yang hidup di dasar laut dan hanya muncul pada malam tahun baru untuk memangsa manusia serta hewan ternak.
Setiap menjelang tahun baru, warga desa ketakutan dan memilih mengungsi ke pegunungan. Hingga suatu hari, seorang pria tua misterius datang dan menolak bersembunyi. Ia justru menempelkan kertas merah di pintu rumahnya, mengenakan pakaian merah, serta membakar bambu hingga menimbulkan suara ledakan keras.
Ternyata, monster Nian takut pada warna merah dan suara gaduh. Sejak saat itu, warga desa mengikuti cara tersebut. Mereka memasang lentera merah, menyalakan petasan, dan menghias rumah dengan ornamen merah. Tradisi ini terus berlangsung dan menjadikan warna merah identik dengan keberuntungan serta penolak bala dalam perayaan Imlek.
Asal Mula Tradisi Angpao dan Hantu Sui
Selain kisah Nian, legenda Tahun Baru Imlek juga mengenal sosok hantu bernama Sui. Konon, hantu ini muncul pada malam tahun baru dan menakut-nakuti anak-anak yang sedang tidur. Jika disentuh, anak tersebut bisa mengalami demam tinggi.
Dalam cerita yang berkembang, seorang pejabat memberikan delapan keping uang logam kepada anaknya agar tetap terjaga di malam tahun baru. Uang tersebut dibungkus kertas merah dan dimainkan sang anak hingga tertidur. Ketika hantu Sui datang, uang logam itu memancarkan cahaya terang dan membuatnya ketakutan.
Sejak saat itu, delapan keping koin dipercaya membawa perlindungan dan keberuntungan. Tradisi membungkus uang dalam kertas merah lalu memberikannya kepada anak-anak berkembang menjadi budaya angpao atau yasui qian, yang berarti uang penolak roh jahat.
Bait Sajak Musim Semi dan Simbol Keberuntungan
Dekorasi merah bertuliskan huruf Cina yang sering ditempel di pintu rumah saat Imlek disebut sebagai bait sajak musim semi atau kuplet. Tradisi ini sudah ada sejak sekitar 1.000 tahun lalu.
Awalnya, masyarakat menggantung kayu persik bertuliskan nama dua penjaga dunia roh, Sentu dan Yulei, yang dipercaya mampu mengusir hantu. Pada masa Dinasti Song, kebiasaan itu berubah menjadi menuliskan dua bait puisi keberuntungan di atas kayu persik. Seiring waktu, kayu diganti dengan kertas merah sebagai simbol kebahagiaan dan kesejahteraan.
Kuplet berisi doa dan harapan baik untuk tahun yang baru. Tradisi ini mencerminkan semangat optimisme, mirip dengan kebiasaan menuliskan resolusi tahun baru.
Rangkaian Perayaan hingga Cap Go Meh
Menurut sejarah, perayaan Imlek dimulai sejak hari ke-30 bulan ke-12 dalam penanggalan lunar. Umat Tionghoa biasanya melakukan sembahyang kepada leluhur dan Tian (Tuhan). Rangkaian perayaan berlangsung hingga hari ke-15 yang dikenal sebagai Cap Go Meh.
Cap Go Meh menjadi penutup perayaan sekaligus wujud rasa syukur. Di berbagai daerah, perayaan ini diramaikan dengan festival lampion dan berbagai pertunjukan budaya.
Legenda Tahun Baru Imlek pada akhirnya bukan sekadar mitos. Ia menjadi fondasi budaya yang membentuk tradisi, simbol, dan nilai kebersamaan. Di tengah modernitas, kisah monster Nian, hantu Sui, hingga makna angpao tetap hidup dan diwariskan sebagai pengingat akan pentingnya harapan, perlindungan, serta keberuntungan di tahun yang baru.
Editor : Dyah Wulandari