Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Legenda Tahun Baru Imlek 2022: Asal Usul Angpao, Monster Nian, hingga Makna Warna Merah yang Dipercaya Bawa Hoki

Dyah Wulandari • Senin, 16 Februari 2026 | 21:09 WIB

Legenda Tahun Baru Imlek 2022, kisah monster Nian, asal usul angpao, dan makna warna merah pembawa hoki.
Legenda Tahun Baru Imlek 2022, kisah monster Nian, asal usul angpao, dan makna warna merah pembawa hoki.

JAKARTA - Legenda Tahun Baru Imlek selalu menjadi cerita menarik yang diwariskan turun-temurun di kalangan masyarakat Tionghoa. Di balik kemeriahan petasan, dekorasi serba merah, hingga tradisi berbagi angpao, tersimpan kisah-kisah mitos yang sarat makna. Tahun Baru Imlek 2022 sendiri jatuh pada 1 Februari 2022 dan dikenal sebagai Tahun Macan Air menurut zodiak Cina.

Legenda Tahun Baru Imlek tak hanya sekadar dongeng pengantar tidur. Kisah-kisah tersebut membentuk tradisi yang masih dijalankan hingga kini. Mulai dari penggunaan warna merah, menyalakan petasan, hingga kebiasaan memberi angpao kepada anak-anak.

Secara etimologi, kata Imlek berasal dari dialek Hokkian. “Im” berarti bulan dan “Lek” berarti penanggalan. Jika digabungkan, Imlek berarti kalender bulan. Dalam bahasa Mandarin, perayaan ini disebut “Chun Jie” atau Festival Musim Semi karena awalnya merupakan perayaan menyambut datangnya musim semi setelah musim dingin berlalu.

Baca Juga: Asal Usul Imlek dari Mitos dan Rasa Takut: Legenda Nian, Angpao, hingga Kaligrafi Hoki Terbalik yang Penuh Makna

Kisah Monster Nian dan Asal Usul Warna Merah

Salah satu legenda Tahun Baru Imlek yang paling terkenal adalah kisah monster Nian. Dalam cerita rakyat, Nian digambarkan sebagai monster buas yang hidup di dasar laut dan hanya muncul pada malam tahun baru untuk memangsa manusia serta hewan ternak.

Setiap menjelang tahun baru, warga desa ketakutan dan memilih mengungsi ke pegunungan. Hingga suatu hari, seorang pria tua misterius datang dan menolak bersembunyi. Ia justru menempelkan kertas merah di pintu rumahnya, mengenakan pakaian merah, serta membakar bambu hingga menimbulkan suara ledakan keras.

Baca Juga: Kasus Fitnah Ijazah Jokowi Memanas, Jokowi Tegaskan Proses Hukum Harus ke Pengadilan Meski Pintu Maaf Terbuka

Ternyata, monster Nian takut pada warna merah dan suara gaduh. Sejak saat itu, warga desa mengikuti cara tersebut. Mereka memasang lentera merah, menyalakan petasan, dan menghias rumah dengan ornamen merah. Tradisi ini terus berlangsung dan menjadikan warna merah identik dengan keberuntungan serta penolak bala dalam perayaan Imlek.

Asal Mula Tradisi Angpao dan Hantu Sui

Selain kisah Nian, legenda Tahun Baru Imlek juga mengenal sosok hantu bernama Sui. Konon, hantu ini muncul pada malam tahun baru dan menakut-nakuti anak-anak yang sedang tidur. Jika disentuh, anak tersebut bisa mengalami demam tinggi.

Baca Juga: Legenda Nian dan Barongsai di Balik Imlek: Asal-Usul Tradisi Merah dan Petasan yang Masih Bertahan Hingga Kini

Dalam cerita yang berkembang, seorang pejabat memberikan delapan keping uang logam kepada anaknya agar tetap terjaga di malam tahun baru. Uang tersebut dibungkus kertas merah dan dimainkan sang anak hingga tertidur. Ketika hantu Sui datang, uang logam itu memancarkan cahaya terang dan membuatnya ketakutan.

Sejak saat itu, delapan keping koin dipercaya membawa perlindungan dan keberuntungan. Tradisi membungkus uang dalam kertas merah lalu memberikannya kepada anak-anak berkembang menjadi budaya angpao atau yasui qian, yang berarti uang penolak roh jahat.

Bait Sajak Musim Semi dan Simbol Keberuntungan

Dekorasi merah bertuliskan huruf Cina yang sering ditempel di pintu rumah saat Imlek disebut sebagai bait sajak musim semi atau kuplet. Tradisi ini sudah ada sejak sekitar 1.000 tahun lalu.

Baca Juga: Jokowi Tegaskan Proses Hukum Kasus Fitnah Ijazah Harus Berlanjut, Pintu Maaf Terbuka tapi Pengadilan Jadi Kunci Pembuktian

Awalnya, masyarakat menggantung kayu persik bertuliskan nama dua penjaga dunia roh, Sentu dan Yulei, yang dipercaya mampu mengusir hantu. Pada masa Dinasti Song, kebiasaan itu berubah menjadi menuliskan dua bait puisi keberuntungan di atas kayu persik. Seiring waktu, kayu diganti dengan kertas merah sebagai simbol kebahagiaan dan kesejahteraan.

Kuplet berisi doa dan harapan baik untuk tahun yang baru. Tradisi ini mencerminkan semangat optimisme, mirip dengan kebiasaan menuliskan resolusi tahun baru.

Rangkaian Perayaan hingga Cap Go Meh

Menurut sejarah, perayaan Imlek dimulai sejak hari ke-30 bulan ke-12 dalam penanggalan lunar. Umat Tionghoa biasanya melakukan sembahyang kepada leluhur dan Tian (Tuhan). Rangkaian perayaan berlangsung hingga hari ke-15 yang dikenal sebagai Cap Go Meh.

Baca Juga: Kubu Roy Suryo Minta Polisi Hentikan Penyidikan Kasus Ijazah Palsu Joko Widodo, Pakar Hukum Ingatkan Proses Tetap Jalan

Cap Go Meh menjadi penutup perayaan sekaligus wujud rasa syukur. Di berbagai daerah, perayaan ini diramaikan dengan festival lampion dan berbagai pertunjukan budaya.

Legenda Tahun Baru Imlek pada akhirnya bukan sekadar mitos. Ia menjadi fondasi budaya yang membentuk tradisi, simbol, dan nilai kebersamaan. Di tengah modernitas, kisah monster Nian, hantu Sui, hingga makna angpao tetap hidup dan diwariskan sebagai pengingat akan pentingnya harapan, perlindungan, serta keberuntungan di tahun yang baru.

Editor : Dyah Wulandari
#cap go meh #angpao #Monster Nian #tahun baru imlek