RADAR TULUNGAGUNG- Isu MasterChef settingan kembali mencuat di media sosial. Banyak warganet mempertanyakan apakah pemenang sudah ditentukan sejak awal atau bahkan ada praktik sogok-menyogok di balik layar. Menanggapi tudingan tersebut, salah satu juri paling dikenal, Chef Juna, akhirnya angkat bicara dan membantah keras semua spekulasi.
Dalam pernyataannya, Chef Juna menegaskan bahwa anggapan MasterChef settingan tidak benar. Ia menyebut tidak pernah ada arahan untuk memenangkan atau memulangkan peserta tertentu. Semua keputusan murni berdasarkan kualitas masakan yang disajikan di depan para juri.
“Apakah kita selalu sudah menentukan pemenangnya? Tidak. Apakah kita didikte untuk menangin siapa atau pulangin siapa? Tidak,” tegasnya. Pernyataan ini sekaligus menjawab keraguan publik yang selama ini menganggap kompetisi memasak tersebut penuh rekayasa.
Baca Juga: 5 Weton Berpotensi Jadi Jutawan 2026, Ramalan Primbon Jawa di Tahun Kuda Api yang Bikin Merinding
Penilaian Murni dari Kualitas Makanan
Chef Juna menegaskan bahwa tugas juri hanya satu: menilai rasa, teknik, dan presentasi makanan. Ia bahkan menyoroti bahwa faktor ekspresi atau performa saat wawancara bukan menjadi indikator utama dalam menentukan kelolosan peserta.
“Kalau pada saat interview dia kurang ekspresif, itu urusan kalian. Kita kan nilai makanan,” ujarnya.
Menurutnya, penilaian di ajang seperti MasterChef Indonesia dilakukan secara profesional. Setiap juri memiliki integritas dan reputasi yang dipertaruhkan. Karena itu, tudingan bahwa hasil kompetisi telah diatur dianggapnya tidak masuk akal.
Sebagai figur publik yang sudah lama berkecimpung di dunia kuliner, Chef Juna menilai kariernya terlalu berharga untuk dipertaruhkan hanya demi sebuah pengaturan hasil kompetisi.
Bantah Tuduhan Disogok Hingga Rp2 Miliar
Tak hanya isu settingan, Chef Juna juga menanggapi tudingan soal dugaan suap. Bahkan ada spekulasi liar yang menyebut angka fantastis hingga Rp1 miliar sampai Rp2 miliar.
Menanggapi hal itu, ia memberikan jawaban tegas dan bernada satir. “Kalau kalian menuduh saya disogok, gua nyogok berapa sih? Rp1 M? Rp2 M? Mau ngapain? Terus saya mau ngancurin karier saya di dunia F&B yang dari saya mulai tahun 1998?” katanya.
Chef Juna menilai tuduhan tersebut tidak rasional. Ia sudah membangun reputasi di industri makanan dan minuman (F&B) sejak akhir 1990-an. Menurutnya, tidak ada keuntungan yang sepadan jika harus merusak nama baik hanya demi memenangkan satu kontestan.
Pernyataan ini sekaligus memperkuat klarifikasi bahwa isu MasterChef settingan dan suap hanyalah asumsi tanpa dasar kuat.
Isu SARA dan Tuduhan Keberpihakan
Isu lain yang juga beredar adalah dugaan keberpihakan karena latar belakang etnis pemilik atau pihak tertentu yang dikaitkan dengan keturunan Tionghoa. Chef Juna secara terbuka menolak narasi tersebut.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah melihat kontestan dari latar belakang suku, agama, atau ras tertentu. Dalam proses penilaian, yang dinilai hanyalah kemampuan memasak dan kreativitas peserta.
“Di mata saya enggak ada yang begitu-begitu. Saya enggak pernah lihat kontestan mau ini mau itu,” jelasnya.
Menurutnya, membawa isu SARA ke dalam kompetisi kuliner justru merusak semangat profesionalisme. Dunia memasak adalah soal rasa dan teknik, bukan identitas personal.
Reputasi dan Integritas Dipertaruhkan
Sebagai salah satu juri paling dikenal di MasterChef Indonesia, Chef Juna menyadari bahwa popularitas acara membuatnya rentan terhadap berbagai tuduhan. Namun ia menilai, semakin besar sebuah program televisi, semakin besar pula pengawasan publik terhadapnya.
Justru karena sorotan tersebut, menurutnya, tidak mungkin ada praktik manipulasi yang bisa dengan mudah ditutupi. Setiap episode disaksikan jutaan penonton, dan proses penilaian dilakukan secara transparan di hadapan kamera.
Isu MasterChef settingan memang bukan hal baru dalam dunia reality show. Banyak program kompetisi di berbagai negara kerap diterpa tuduhan serupa. Namun Chef Juna menegaskan bahwa kredibilitas juri dan produksi menjadi taruhan utama yang tidak bisa dianggap remeh.
Ia berharap publik bisa lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial. Tanpa bukti yang jelas, tudingan dapat merugikan banyak pihak, termasuk para peserta yang telah berjuang keras menampilkan kemampuan terbaiknya.
Pada akhirnya, Chef Juna kembali menegaskan bahwa penilaian dalam kompetisi tersebut murni berdasarkan kualitas hidangan. “Kita nilai makanan,” tegasnya lagi.
Dengan klarifikasi ini, publik diharapkan mendapat gambaran lebih jelas bahwa tudingan MasterChef settingan dan praktik suap hanyalah asumsi yang belum terbukti kebenarannya.
Baca Juga: 5 Weton Berpotensi Jadi Jutawan 2026, Ramalan Primbon Jawa di Tahun Kuda Api yang Bikin Merinding