Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Strategi Edukatif Membangunkan Anak Sahur, Akademisi Tekankan Disiplin Pola Tidur dan Pendekatan Psikologis

Rinto Wahyu Hidayat • Senin, 23 Februari 2026 | 11:46 WIB

Perlu strategi edukatif untuk membangunkan anak untuk bangun sahur.(freepik.com)
Perlu strategi edukatif untuk membangunkan anak untuk bangun sahur.(freepik.com)

RADAR TULUNGAGUNG - Membangunkan anak untuk makan sahur kerap menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua.

Situasi semakin kompleks ketika anak menunjukkan resistensi, bahkan melakukan “Gerakan Tutup Mulut dan Mata” (GTMM) sebagai bentuk penolakan halus saat dibangunkan.

Dalam konteks ini, pendekatan persuasif dan edukatif dinilai jauh lebih efektif dibandingkan pemaksaan.

Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UMSURA, Elmi Tri Yuliandari, menegaskan bahwa kunci utama keberhasilan membiasakan anak sahur terletak pada pengelolaan pola tidur dan komunikasi yang tepat antara orang tua dan anak.

Menurut Elmi, langkah fundamental yang harus diperhatikan adalah memastikan anak memperoleh waktu istirahat yang cukup.

Pola tidur yang terjaga akan memengaruhi kesiapan fisik dan psikologis anak saat dibangunkan dini hari.

“Jangan sampai si kecil tidur terlalu larut malam, hal ini akan membuat anak susah untuk bangun ketika waktunya makan sahur. Jangan lupa juga untuk membangunkan anak paling tidak 30 menit sebelum waktu imsak agar anak-anak bisa melaksanakan jama'ah sholat shubuh dengan orang tua,” ujarnya.

Ia menilai, pengaturan ritme tidur bukan sekadar persoalan teknis, melainkan bagian dari pembentukan disiplin sejak dini.

Selain aspek fisik, pendekatan kognitif juga menjadi perhatian. Orang tua dianjurkan memberikan pemahaman sederhana mengenai urgensi sahur.

Penjelasan tentang manfaat sahur sebagai sumber energi selama menjalankan ibadah puasa akan membantu anak membangun kesadaran intrinsik.

Ketika anak memahami alasan di balik suatu kebiasaan, kepatuhan tidak lagi bersifat koersif, melainkan tumbuh dari kesadaran personal. Dalam perspektif pendidikan karakter, pola ini lebih berkelanjutan.

Strategi berikutnya adalah menghadirkan menu sahur yang sesuai dengan preferensi anak tanpa mengabaikan prinsip gizi seimbang.

Komunikasi ringan sebelum tidur mengenai pilihan makanan dapat meningkatkan antusiasme anak saat bangun.

“Hal ini akan membuat nafsu makan anak bertambah dan lebih semangat ketika dibangunkan waktu makan sahur,” imbuh Elmi.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya membangun atmosfer sahur yang hangat dan partisipatif. Makan bersama keluarga menciptakan rasa kebersamaan dan solidaritas dalam menjalankan ibadah.

Interaksi berupa percakapan ringan mengenai aktivitas harian dinilai mampu mengurangi kesan sahur sebagai rutinitas yang melelahkan.

Pada tahap akhir, motivasi dan afirmasi positif menjadi instrumen penting dalam penguatan perilaku.

Pujian yang proporsional akan menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus mempererat relasi emosional antara orang tua dan anak.

“Tentu hal ini akan membuat anak merasa dihargai dan mendapatkan dukungan dari kedua orang tuanya,” pungkasnya.

Dalam praktiknya, setiap anak memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, fleksibilitas pendekatan menjadi keniscayaan.

Keteladanan orang tua dalam menjalankan ibadah puasa dan menjaga konsistensi perilaku religius turut menjadi faktor determinan dalam membentuk kebiasaan sahur anak secara berkelanjutan.

Dengan kombinasi disiplin, komunikasi efektif, dan suasana keluarga yang kondusif, sahur tidak sekadar menjadi kewajiban ritual, melainkan sarana pendidikan karakter yang substantif selama bulan Ramadhan.(rin)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#Edukatif #bangunkan anak sahur #strategi #GTM #makan sahur