JAKARTA - Harga beras yang terus meningkat memunculkan pertanyaan di masyarakat: apakah zakat fitrah boleh dibayarkan dengan uang saja? Fenomena ini semakin relevan di era modern, ketika masyarakat ingin menyesuaikan zakat dengan kebutuhan sehari-hari dan ketersediaan bahan pokok.
Seorang ustaz menjelaskan bahwa zakat fitrah pada dasarnya harus menggunakan makanan pokok yang dikonsumsi sehari-hari. Di Indonesia, beras menjadi makanan pokok mayoritas masyarakat, sehingga ukuran standar zakat fitrah adalah sekitar 2,5 hingga 2,8 kilogram beras per orang.
Satu sok beras setara dengan empat mud, dan satu mud sekitar 6 hingga 7 ons. Dengan demikian, berat zakat fitrah berkisar antara 2,4 hingga 3 kilogram.
Meski demikian, hukum membayar zakat fitrah dengan uang tetap diperbolehkan menurut Mazhab Abu Hanifah. Dalam pandangan ini, uang yang dibayarkan harus senilai dengan harga beras yang dijadikan ukuran zakat fitrah.
Artinya, jika harga beras naik, maka jumlah uang yang dikeluarkan juga menyesuaikan nilai beras, bukan sebaliknya. Misalnya, jika 2,5 kilogram beras saat ini setara dengan Rp60.000, maka zakat fitrah dengan uang harus sebesar Rp60.000, bukan mengikuti nominal tetap dari tahun sebelumnya.
Mengapa Uang Bisa Digunakan
Praktik zakat fitrah dengan uang dapat mempermudah distribusi, terutama di daerah di mana beras sudah tersedia di rumah atau di antara tetangga. Misalnya, jika seorang tetangga memberikan beras, sementara tetangga lain memberikan uang, penerima dapat membeli lauk dan kebutuhan tambahan lain yang lebih bermanfaat.
Pendekatan ini mengikuti prinsip Mazhab Hanafi yang fleksibel, sehingga zakat tetap sah sekaligus memenuhi kebutuhan mustahik secara praktis.
Ustaz menekankan bahwa yang menjadi ukuran zakat tetap makanan pokok, bukan jumlah uang. Artinya, masyarakat tidak boleh sembarangan menentukan nominal uang tanpa menyesuaikan harga beras saat itu. Hal ini penting agar zakat fitrah tetap sah secara syariat.
Praktik Zakat Fitrah di Era Modern
Di zaman sekarang, banyak panitia zakat menerima pembayaran zakat fitrah melalui transfer bank, e-wallet, atau sistem digital lain. Uang yang diterima kemudian digunakan untuk membeli beras sesuai jumlah yang disyaratkan, sebelum disalurkan kepada fakir miskin.
Dengan metode ini, pembayaran menggunakan uang tetap memenuhi ketentuan zakat fitrah berbentuk makanan pokok.
Pendekatan ini juga membantu menghindari kebingungan jika ada variasi antara pemberian beras dan uang dari tetangga. Misalnya, jika satu tetangga memberikan beras dan tetangga lain memberikan uang, penerima dapat mengkombinasikan keduanya untuk memenuhi kebutuhan pokok dan lauk sehari-hari.
Tips Agar Zakat Fitrah Sah
-
Tentukan ukuran zakat berdasarkan makanan pokok, misalnya 2,5 kilogram beras per orang.
-
Jika membayar dengan uang, hitung nominal sesuai harga beras pada saat itu.
-
Gunakan uang hanya untuk membeli makanan pokok agar disalurkan kepada mustahik.
-
Pastikan panitia zakat bertindak sebagai wakil yang membeli beras dari uang pembayaran, bukan menjual uang atau beras secara ganda.
-
Utamakan kemudahan dan manfaat bagi penerima zakat, sambil tetap mengikuti ketentuan syariat.
Dengan mengikuti panduan ini, pembayaran zakat fitrah menjadi lebih mudah, tepat sasaran, dan tetap sah menurut syariat. Masyarakat dapat menyesuaikan cara pembayaran dengan kondisi lokal, harga beras, dan kebutuhan mustahik, sambil memastikan rukun zakat tetap terpenuhi.
Editor : Novica Satya Nadianti