Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Gerhana Bulan 3 Maret 2026, Fenomena Langit yang Memukau dan Mitos Kuno yang Tak Pernah Hilang

Vidya Sajar Fitri • Selasa, 3 Maret 2026 | 16:19 WIB

 

Fenomena gerhana bulan total 3 Maret 2026 dipastikan akan kembali menghiasi langit Indonesia.(freepik.com/wirestock)
Fenomena gerhana bulan total 3 Maret 2026 dipastikan akan kembali menghiasi langit Indonesia.(freepik.com/wirestock)

RADAR TULUNGAGUNG - Gerhana bulan adalah peristiwa langit yang selalu berhasil menarik perhatian manusia.

Fenomena ini terjadi ketika bulan bergerak melalui bayangan bumi, menghasilkan cahaya yang memerah di permukaan bulan.

Pada 3 Maret 2026, gerhana bulan total ini akan terjadi, memunculkan perdebatan antara penjelasan ilmiah dan mitos-mitos kuno yang berkembang di berbagai peradaban.

Apa yang terjadi saat bulan terlihat berubah warna menjadi merah? Apa maknanya bagi kita di era modern ini?

Gerhana bulan terjadi ketika posisi matahari, bumi, dan bulan sejajar, dan bulan berada dalam fase purnama.

Namun, meskipun bulan sering berada dalam posisi berlawanan dengan matahari, tidak setiap malam purnama akan menyaksikan gerhana.

Perpotongan antara orbit bulan dan orbit bumi menciptakan dua titik simpul yang menjadi tempat terjadinya gerhana. Ketika bulan berada pada salah satu titik ini, gerhana dapat terjadi.

Salah satu hal menarik dari fenomena ini adalah bagaimana bumi memproyeksikan cahaya matahari melalui atmosfer, menghasilkan warna merah yang dikenal sebagai "bulan darah".

Padahal, bulan sebenarnya tidak berubah warna, melainkan hanya tampak merah akibat efek refraksi cahaya.

Tidak seperti gerhana matahari yang hanya bisa dilihat di wilayah tertentu, gerhana bulan dapat disaksikan hampir di seluruh dunia yang berada dalam fase malam.

Durasi gerhana bulan pun lebih lama, bisa mencapai hampir dua jam, sedangkan gerhana matahari hanya berlangsung beberapa menit.

Yang lebih menarik lagi, gerhana bulan dapat dilihat dengan mata telanjang tanpa alat pelindung. Peristiwa ini benar-benar fenomena yang mudah dijangkau oleh banyak orang.

Pada gerhana bulan total 3 Maret 2026, Indonesia akan menjadi salah satu lokasi terbaik untuk menyaksikan fenomena ini.

Di Indonesia bagian timur, bulan akan terbit lebih awal, memungkinkan pengamat untuk menyaksikan keseluruhan proses gerhana sejak fase penumbra awal.

Di wilayah barat, bulan akan terbit saat fase totalitas sudah berlangsung, sementara di bagian tengah, gerhana akan dimulai saat bulan terbit.

Namun, bagi banyak peradaban kuno, fenomena ini bukan hanya soal posisi astronomi. Gerhana bulan selalu dikaitkan dengan mitos dan kepercayaan yang berkembang dalam budaya masing-masing.

Di peradaban Inca, misalnya, gerhana bulan yang memerah dipercaya sebagai tanda bulan sedang diserang oleh jaguar langit.

Masyarakat pun melakukan ritual untuk mengusir makhluk gaib tersebut agar tidak menurunkan malapetaka.

Di Mesopotamia kuno, gerhana bulan dipandang sebagai ancaman langsung bagi raja. Para ahli astronomi saat itu mampu memprediksi waktu gerhana, namun justru karena ramalan ini, raja yang berkuasa merasa terancam.

Untuk menghindari bencana, dilakukan ritual menggantikan sang raja dengan seorang pengganti, yang seolah-olah menerima nasib buruk selama gerhana.

Setelah gerhana usai, raja asli kembali ke takhta, seperti bahaya yang telah berlalu.

Namun, tidak semua pandangan tentang gerhana bulan penuh dengan rasa takut. Beberapa suku asli Amerika, seperti suku Hupa dan Luiseno di California, menganggap gerhana sebagai pertanda bulan sedang sakit.

Setelah gerhana, mereka melantunkan lagu penyembuhan untuk bulan agar kembali pulih. Begitu juga dengan masyarakat Batam Liba di Togo dan Benin, Afrika, yang memandang gerhana sebagai pertikaian antara matahari dan bulan, yang harus didamaikan oleh manusia.

Dalam budaya Islam, gerhana bulan tidak dipandang sebagai pertanda buruk. Sebaliknya, umat Islam dianjurkan untuk melakukan salat alkusuf, doa khusus saat gerhana, sebagai bentuk pemujaan dan pengagungan terhadap kebesaran Allah.

Bagi mereka, gerhana bukanlah peristiwa yang perlu ditakuti, melainkan sebuah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Kini, di era modern, kita memiliki pemahaman ilmiah yang jelas tentang gerhana bulan. Fenomena ini merupakan hasil dari pergerakan alam yang dapat diprediksi dengan akurat.

Namun, meski kita memahami proses ilmiah yang terjadi di balik gerhana, rasa kagum dan keajaiban yang ditimbulkan tetap sama.

Bagi banyak orang, menatap bulan yang memerah di langit tetap memberikan perasaan magis dan misterius.

Sama seperti dahulu, manusia kini tetap mendongak ke langit, mengagumi fenomena alam yang luar biasa ini.

Walaupun teknologi dan ilmu pengetahuan telah memberikan penjelasan yang lengkap, perasaan terpesona saat menyaksikan gerhana bulan tidak pernah pudar.

Fenomena alam ini selalu mengingatkan kita akan misteri semesta yang tak terbatas dan bagaimana manusia, dari zaman ke zaman, berusaha memahami dan memberi makna atas keajaiban langit.***

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
#bulan darah #fenomena langit #Gerhana bulan 2026 #gerhana bulan total #mitos gerhana