Radar Tulungagung – Kisah tentang Dewa Candra dalam mitologi Hindu menjadi salah satu cerita kuno yang masih dipercaya dan diceritakan hingga kini. Dalam berbagai kitab suci Hindu, Candra dikenal sebagai dewa bulan yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam, siklus kehidupan, hingga fenomena gerhana bulan.
Cerita mengenai Dewa Candra tidak hanya berkaitan dengan keindahan cahaya bulan di malam hari, tetapi juga mengandung banyak simbolisme spiritual. Dalam sejumlah kitab Purana, kelahiran Candra disebut sebagai peristiwa luar biasa yang berkaitan langsung dengan penciptaan alam semesta oleh Dewa Brahma.
Menurut kisah yang tertulis dalam berbagai teks kuno, Brahma menciptakan alam semesta melalui kekuatan pikiran yang suci. Dari proses tersebut lahir berbagai makhluk ilahi, termasuk sosok yang kemudian dikenal sebagai Soma atau Dewa Candra, yang melambangkan kesejukan, ketenangan, dan kemurnian.
Asal Usul Dewa Candra dalam Kitab Purana
Dalam beberapa versi cerita yang terdapat di kitab seperti Matsya Purana dan Agni Purana, kelahiran Candra memiliki kisah yang unik. Salah satu cerita menyebutkan bahwa Brahma menciptakan sosok Candra dari kekuatan pikirannya yang suci.
Sosok tersebut digambarkan sebagai laki-laki tampan yang memancarkan cahaya lembut. Cahaya inilah yang kemudian menerangi malam dan memberikan kesejukan bagi dunia.
Setelah diciptakan, Candra ditempatkan di langit di antara bintang-bintang sebagai simbol kehormatan dan kemurnian. Kehadirannya diyakini membawa keseimbangan alam serta memengaruhi berbagai aspek kehidupan di bumi.
Dalam kisah lain yang tercatat dalam Skanda Purana, Dewa Candra juga muncul saat peristiwa Samudra Manthan atau pengadukan lautan susu oleh para dewa dan asura. Dari proses tersebut muncul 14 benda berharga, dan salah satunya adalah Candra yang kemudian menjadi simbol kesejahteraan bagi para dewa.
Pengaruh Candra terhadap Alam dan Kehidupan
Dalam kepercayaan Hindu, Candra tidak hanya berfungsi sebagai penerang malam. Ia juga dipercaya memiliki pengaruh besar terhadap berbagai fenomena alam.
Sinar bulan dianggap berperan dalam mengatur pasang surut air laut melalui gaya gravitasi bulan terhadap bumi. Selain itu, siklus bulan juga dipercaya memengaruhi pertumbuhan tanaman, waktu panen, hingga ritme kehidupan manusia.
Dalam sistem pengobatan tradisional Ayurveda, cahaya bulan bahkan diyakini memiliki kekuatan penyembuhan. Banyak ritual dan praktik kesehatan tradisional yang terinspirasi oleh energi yang diyakini berasal dari sinar bulan.
Candra juga memiliki peran penting dalam astrologi Hindu. Pergerakan bulan dipercaya memengaruhi perjalanan hidup manusia dan berkaitan dengan 12 zodiak serta 27 konstelasi bintang yang dikenal sebagai naksatra.
Kisah Kutukan Daksa kepada Candra
Salah satu cerita paling terkenal tentang Dewa Candra berkaitan dengan kutukan dari Daksa Prajapati.
Dalam mitologi tersebut, Candra menikahi 27 putri Daksa yang melambangkan 27 naksatra atau rasi bintang. Namun, Candra diketahui lebih menyayangi salah satu istrinya, yaitu Rohini.
Sikap pilih kasih tersebut menimbulkan kecemburuan di antara istri-istrinya. Daksa Prajapati yang mengetahui hal itu kemudian murka dan menjatuhkan kutukan kepada Candra.
Kutukan tersebut membuat cahaya Candra perlahan melemah. Dalam mitologi Hindu, perubahan cahaya ini dipercaya sebagai asal mula munculnya fase bulan, mulai dari purnama hingga bulan baru.
Kisah ini sering dimaknai sebagai pelajaran tentang pentingnya menjaga keseimbangan dan keadilan dalam kehidupan.
Legenda Rahu dan Ketu dalam Gerhana Bulan
Selain kisah kutukan Daksa, mitologi Hindu juga menjelaskan fenomena gerhana bulan melalui legenda Rahu dan Ketu.
Cerita ini bermula saat para dewa dan asura mengaduk lautan susu untuk mendapatkan Amrita, cairan keabadian. Dalam proses tersebut, salah satu asura bernama Rahu menyamar sebagai dewa agar bisa meminum Amrita.
Namun, penyamarannya diketahui oleh Dewa Surya dan Dewa Candra yang kemudian melaporkannya kepada Dewa Vishnu. Vishnu segera bertindak dengan memenggal kepala Rahu.
Meski tubuhnya terpisah, Rahu tetap hidup karena telah meminum Amrita. Bagian tubuh lainnya kemudian dikenal sebagai Ketu.
Dalam mitologi, Rahu dan Ketu digambarkan sebagai kekuatan yang secara berkala mencoba menelan matahari dan bulan sebagai bentuk balas dendam. Peristiwa inilah yang dipercaya sebagai penyebab terjadinya gerhana matahari dan gerhana bulan.
Makna Filosofis Gerhana Bulan
Bagi sebagian masyarakat Hindu, gerhana bulan bukan sekadar fenomena astronomi, tetapi juga memiliki makna spiritual.
Gerhana sering dianggap sebagai momen ketika energi negatif meningkat. Oleh karena itu, beberapa orang memilih melakukan ritual khusus seperti berpuasa, mandi suci, atau melafalkan mantra selama gerhana berlangsung.
Meski demikian, dalam ilmu astronomi modern, gerhana bulan dijelaskan secara ilmiah sebagai peristiwa ketika bumi berada di antara matahari dan bulan sehingga bayangan bumi menutupi permukaan bulan.
Perpaduan antara penjelasan ilmiah dan cerita mitologis tersebut menunjukkan bagaimana manusia sejak dahulu mencoba memahami misteri alam semesta melalui berbagai sudut pandang.
Editor : Auliya Nur'Aini Khafadzoh