RADAR TULUNGAGUNG – Pertanyaan tentang kapan sebenarnya malam Lailatul Qadar dan Nuzulul Quran sering muncul setiap bulan Ramadan.
Banyak umat Islam meyakini malam tersebut terjadi pada tanggal tertentu, seperti 17 atau 27 Ramadan.
Namun, dai kondang Ustad Abdul Somad (UAS) menegaskan bahwa Lailatul Qadar sengaja dirahasiakan oleh Allah SWT.
Hal itu disampaikan UAS dalam ceramahnya di Masjid Darussalam Kota Wisata, Cibubur, yang dihadiri ratusan jemaah dan disiarkan melalui kanal YouTube resminya.
Menurut UAS, kerahasiaan malam Lailatul Qadar memiliki hikmah besar bagi umat Islam. Jika malam tersebut disebutkan secara pasti dalam Al-Qur’an, maka umat Islam hanya akan beribadah pada malam itu saja.
“Kalau disebutkan misalnya Lailatul Qadar malam 21, maka malam 21 saja orang ramai. Setelah itu sepi,” jelas UAS.
Ia menambahkan, bahkan saat ini saja banyak umat Islam lebih ramai beribadah pada malam ke-27 Ramadan karena dianggap paling kuat sebagai malam Lailatul Qadar.
Padahal, lanjutnya, malam tersebut tetap dirahasiakan agar umat Islam terus meningkatkan ibadah sepanjang Ramadan, terutama pada sepuluh malam terakhir.
Pendapat Ulama tentang Malam Nuzulul Quran
Dalam ceramahnya, UAS juga menjelaskan perbedaan pendapat ulama mengenai malam Nuzulul Quran, yaitu malam turunnya Al-Qur’an.
Ia mengutip penjelasan dari kitab tafsir karya Ibnu Katsir yang memuat berbagai pendapat ulama mengenai waktu turunnya Al-Qur’an.
Ada ulama yang menyebut malam pertama Ramadan, malam ketiga, hingga malam kesembilan. Sementara di Indonesia, peringatan Nuzulul Quran sering dilakukan pada malam 17 Ramadan.
Menurut UAS, penetapan malam 17 Ramadan salah satunya dikaitkan dengan peristiwa Perang Badar, yang terjadi pada tanggal tersebut.
“Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan ayat yang berkaitan dengan hari bertemunya dua pasukan. Itu merujuk pada Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadan,” jelasnya.
Karena itu, sebagian ulama dari mazhab Syafi’i berpendapat malam 17 Ramadan berkaitan dengan peristiwa turunnya Al-Qur’an.
Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut hanya salah satu pendapat, bukan kesepakatan seluruh ulama.
Lailatul Qadar Dicari di 10 Malam Terakhir
UAS juga mengingatkan bahwa Nabi Muhammad SAW menganjurkan umat Islam mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya malam ganjil.
Malam tersebut antara lain malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadan.
Meski begitu, tidak ada yang benar-benar mengetahui kapan tepatnya malam Lailatul Qadar terjadi.
“Allah merahasiakan supaya kita selalu berharap dan takut. Takut tidak mendapatkannya, tapi juga berharap mudah-mudahan Ramadan ini kita mendapatkannya,” ujar UAS.
Tanda Orang Mendapatkan Lailatul Qadar
Menurut UAS, seseorang yang mendapatkan Lailatul Qadar biasanya menunjukkan perubahan positif setelah Ramadan berakhir.
Perubahan tersebut bisa terlihat dari sikap, akhlak, hingga kebiasaan ibadah yang menjadi lebih baik.
Ia mencontohkan perubahan sederhana, seperti seseorang yang sebelumnya pelit menjadi lebih gemar bersedekah atau yang sebelumnya kasar menjadi lebih lembut dalam berbicara.
“Ciri orang yang mendapatkan Lailatul Qadar itu ada perubahan dalam hidupnya,” katanya.
Karena itu, UAS mengajak umat Islam untuk memanfaatkan Ramadan sebaik mungkin dengan memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur’an, serta memperbaiki akhlak.
Hikmah Ramadan bagi Umat Islam
Dalam kesempatan itu, UAS juga menegaskan bahwa Ramadan menjadi momentum untuk memperbaiki diri dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Ia mengutip sebuah pesan bahwa orang yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung. Sebaliknya, jika seseorang tidak mengalami perubahan apa pun, maka ia termasuk orang yang merugi.
“Ramadan harus membuat kita berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya,” tegasnya.
Ia berharap umat Islam dapat menjadikan Ramadan sebagai sarana memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an dan meningkatkan kualitas ibadah.
Dengan demikian, setiap muslim memiliki peluang lebih besar untuk meraih malam Lailatul Qadar, malam yang disebut lebih baik dari seribu bulan.***
Editor : Vidya Sajar Fitri