Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Keutamaan Lailatul Qadar di 10 Hari Terakhir Ramadan: Ulama Ingatkan Jangan Hanya Berburu Tanda, Perbanyak Ibadah dan Iktikaf

Vidya Sajar Fitri • Selasa, 10 Maret 2026 | 11:43 WIB

 

Keutamaan Lailatul Qadar di 10 hari terakhir Ramadan. Ulama ingatkan umat fokus ibadah, bukan hanya mencari tanda malam kemuliaan.(Ilustrasi Gemini AI)
Keutamaan Lailatul Qadar di 10 hari terakhir Ramadan. Ulama ingatkan umat fokus ibadah, bukan hanya mencari tanda malam kemuliaan.(Ilustrasi Gemini AI)

RADAR TULUNGAGUNG - Memasuki 10 hari terakhir Ramadan, umat Islam dianjurkan meningkatkan ibadah untuk meraih Lailatul Qadar, malam yang diyakini memiliki keutamaan lebih baik dari seribu bulan.

Para ulama mengingatkan agar umat tidak hanya fokus mencari tanda-tanda malam tersebut, tetapi lebih menekankan pada peningkatan ibadah, doa, dan perenungan diri.

Dalam sebuah kajian keislaman yang disampaikan melalui video ceramah, dijelaskan bahwa Lailatul Qadar merupakan anugerah besar yang diberikan Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW.

Malam istimewa ini diyakini memiliki pahala ibadah yang nilainya melebihi ibadah selama 1.000 bulan atau sekitar 83 tahun.

Hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar menyebutkan bahwa beberapa sahabat Nabi pernah bermimpi bertemu Lailatul Qadar pada tujuh hari terakhir Ramadan.

Ketika kabar tersebut sampai kepada Rasulullah SAW, beliau menyatakan bahwa mimpi tersebut saling menguatkan dan menganjurkan umat Islam untuk mencarinya pada malam-malam terakhir bulan Ramadan.

“Barang siapa yang ingin mencari Lailatul Qadar, maka hendaknya mencarinya di tujuh malam terakhir Ramadan,” demikian pesan Nabi dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Keutamaan Lailatul Qadar bagi Umat Nabi Muhammad

Dalam penjelasan para ulama, disebutkan bahwa umur umat Nabi Muhammad SAW relatif lebih pendek dibandingkan umat nabi sebelumnya. Sebagian umat terdahulu bahkan memiliki usia hingga ratusan tahun.

Karena itu, Allah memberikan karunia berupa Lailatul Qadar sebagai kesempatan bagi umat Islam untuk mendapatkan pahala ibadah yang sangat besar dalam waktu singkat.

Satu malam Lailatul Qadar disebut lebih baik daripada seribu bulan. Artinya, jika seseorang beribadah dengan sungguh-sungguh pada malam tersebut, pahala yang diperoleh setara dengan ibadah selama puluhan tahun.

Keistimewaan ini menjadi alasan mengapa Rasulullah SAW sangat meningkatkan ibadahnya pada 10 hari terakhir Ramadan.

Bahkan dalam berbagai riwayat disebutkan, Nabi juga membangunkan keluarga beliau agar ikut menghidupkan malam-malam terakhir bulan suci tersebut.

Jangan Terlalu Sibuk Mencari Tanda

Sebagian masyarakat sering kali mencari tanda-tanda tertentu untuk memastikan datangnya Lailatul Qadar, seperti malam yang terasa sejuk, langit cerah, atau matahari yang terbit dengan sinar lembut pada pagi harinya.

Namun para ulama menegaskan bahwa tanda-tanda tersebut tidak selalu muncul secara pasti. Karena itu, umat Islam diimbau untuk tidak terjebak hanya menunggu tanda, melainkan fokus memperbanyak ibadah.

“Yang harus dicari adalah Lailatul Qadar, bukan sekadar tanda-tandanya,” demikian pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut.

Analogi sederhana pun disampaikan. Tanda hanyalah petunjuk, bukan tujuan utama. Karena itu, jika seseorang terlalu sibuk mencari tanda, justru bisa melewatkan kesempatan beribadah pada malam yang penuh kemuliaan.

Malam Ganjil Lebih Diutamakan

Dalam sejumlah hadis, Lailatul Qadar disebut lebih besar kemungkinan terjadi pada malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadan, seperti malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29.

Beberapa sahabat memiliki pengalaman berbeda terkait malam tersebut. Ada yang meyakini malam ke-27 sebagai Lailatul Qadar, sementara riwayat lain menyebut malam ke-21 atau malam ganjil lainnya.

Perbedaan ini justru menjadi hikmah agar umat Islam tidak hanya beribadah pada satu malam tertentu saja. Dengan demikian, umat dianjurkan menghidupkan seluruh malam di penghujung Ramadan.

Minimal Salat Isya dan Subuh Berjamaah

Para ulama juga menyebutkan cara sederhana untuk tetap mendapatkan bagian dari Lailatul Qadar, yakni dengan melaksanakan salat Isya dan Subuh secara berjamaah.

Dalam beberapa riwayat disebutkan, seseorang yang melaksanakan dua salat tersebut secara berjamaah pada malam Lailatul Qadar telah mendapatkan bagian pahala yang besar dari malam tersebut.

Namun tentu saja, ibadah yang lebih utama adalah menghidupkan malam dengan berbagai amalan seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, serta melakukan tafakur atau perenungan diri.

Tiga Amalan Utama Menghidupkan Malam Ramadan

Dalam kajian tersebut juga dijelaskan tiga amalan utama yang dianjurkan saat menghidupkan malam di 10 hari terakhir Ramadan.

Pertama adalah memperbanyak ibadah seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, dan zikir.

Kedua adalah tafakur atau merenungkan diri, termasuk mengingat dosa, nikmat yang diberikan Allah, serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Ketiga adalah memperbanyak doa kepada Allah. Salah satu doa yang dianjurkan Rasulullah SAW ketika bertemu Lailatul Qadar adalah:

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”

Doa tersebut berarti memohon ampun kepada Allah yang Maha Pengampun.

Dengan berbagai keutamaan tersebut, umat Islam diimbau memanfaatkan 10 hari terakhir Ramadan dengan sebaik-baiknya.

Sebab kesempatan meraih Lailatul Qadar hanya datang sekali dalam setahun, dan belum tentu setiap orang dapat bertemu kembali dengan Ramadan di tahun berikutnya.***

Editor : Vidya Sajar Fitri
#iktikaf ramadan #lailatul qadar #ibadah malam Ramadan #10 hari terakhir ramadan #keutamaan lailatul qadar