Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sedekah Takut Riya? Ustadz Jelaskan Cara Mengetahui Sedekah Tanpa Riya dan Hukum Sedekah Terang-Terangan

Novica Satya Nadianti • Senin, 16 Maret 2026 | 14:10 WIB
Takut sedekah riya? Ustadz jelaskan cara mengetahui sedekah tanpa riya serta hukum sedekah terang-terangan dan niat sedekah harian.
Takut sedekah riya? Ustadz jelaskan cara mengetahui sedekah tanpa riya serta hukum sedekah terang-terangan dan niat sedekah harian.

 
JAKARTA - Kekhawatiran tentang sedekah riya kerap dirasakan oleh banyak umat Muslim, terutama ketika sedekah dilakukan melalui transfer atau perantara sehingga diketahui orang lain. Pertanyaan ini juga muncul dari seorang jamaah yang tinggal di Eropa yang merasa khawatir sedekahnya menjadi riya karena harus ada konfirmasi dari lembaga amal atau pihak penerima.

Pertanyaan tersebut dijawab oleh seorang ustadz dalam sebuah kajian keislaman. Ia menjelaskan bahwa kekhawatiran terhadap riya saat sedekah sebenarnya bisa dilihat dari niat di dalam hati masing-masing. Selama tujuan sedekah adalah mengharap pahala dari Allah SWT, bukan pujian manusia, maka hal tersebut tidak termasuk riya.

Menurutnya, Islam sendiri tidak melarang seseorang untuk bersedekah secara terang-terangan. Bahkan dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa sedekah yang dilakukan secara terbuka tetap memiliki nilai kebaikan, selama niatnya benar.

Dalam penjelasannya, ustadz tersebut merujuk pada ayat Al-Qur’an dalam Surat Al-Baqarah yang menyatakan bahwa jika seseorang menampakkan sedekahnya, maka itu adalah hal yang baik. Namun, jika sedekah dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan diberikan langsung kepada orang fakir, maka hal tersebut dinilai lebih baik lagi.

Artinya, sedekah tidak selalu harus dirahasiakan sepenuhnya. Ada kondisi tertentu di mana sedekah diketahui orang lain, misalnya ketika dilakukan melalui lembaga amal, keluarga, atau transfer bank. Hal tersebut tetap diperbolehkan dan tidak otomatis menjadikan seseorang riya.

Ustadz tersebut menjelaskan bahwa riya terjadi ketika seseorang melakukan amal dengan tujuan mencari pujian atau pengakuan dari manusia. Jika hati tetap berharap pahala dari Allah dan tidak menginginkan sanjungan orang lain, maka sedekah tersebut tetap bernilai ibadah.

“Tidak ada masalah ketika sedekah diketahui orang lain. Yang penting hati kita berharap pahala dari Allah, bukan berharap dipuji manusia,” jelasnya.

Sedekah Melalui Transfer Tetap Sah

Dalam kehidupan modern, banyak orang melakukan sedekah melalui transfer bank atau perantara lembaga sosial. Hal ini sering membuat sebagian orang merasa khawatir karena transaksi tersebut biasanya membutuhkan konfirmasi dari penerima.

Namun ustadz menjelaskan bahwa kondisi tersebut tidak perlu dikhawatirkan. Selama pemberi sedekah tidak berniat memamerkan amalnya kepada publik, maka sedekah tetap sah dan bernilai ibadah.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam konteks sedekah, terdapat beberapa tingkatan keterbukaan. Ada sedekah yang diketahui banyak orang, ada yang hanya diketahui satu orang, dan ada yang benar-benar rahasia tanpa diketahui siapa pun.

Ketiganya tetap bisa menjadi amal kebaikan selama niatnya benar.

“Kadang sedekah diketahui satu orang saja karena proses konfirmasi atau administrasi. Itu tidak masalah, selama tidak ada niat untuk pamer,” ujarnya.

Bolehkah Sedekah Sekaligus untuk Niat Harian?

Pertanyaan lain yang sering muncul adalah apakah seseorang boleh meniatkan sedekah harian tetapi menyalurkannya sekaligus dalam satu waktu, misalnya setiap awal bulan.

Dalam penjelasan ustadz tersebut, hal ini diperbolehkan. Misalnya seseorang berniat bersedekah Rp100 ribu setiap hari, tetapi karena keterbatasan waktu atau kondisi, ia menyalurkannya sekaligus sebesar Rp3 juta di awal bulan.

Jika sejak awal niatnya memang untuk sedekah harian, maka insyaAllah pahala tetap dicatat oleh Allah sesuai niat tersebut.

Hal ini merujuk pada kaidah penting dalam Islam bahwa setiap amal sangat bergantung pada niat pelakunya.

“Semua amalan tergantung niatnya. Jika niatnya sedekah setiap hari, maka semoga Allah mencatatnya seperti itu,” jelasnya.

Meski demikian, ia menambahkan bahwa sedekah yang dilakukan setiap hari secara langsung kepada orang yang membutuhkan tetap lebih utama jika memungkinkan.

Dalam sejarah Islam, banyak ulama salaf yang berusaha tidak melewatkan satu hari pun tanpa bersedekah, bahkan jika hanya dengan pemberian kecil.

Sebagai contoh sederhana, seseorang bisa membeli sayur atau makanan dalam jumlah kecil lalu memberikannya kepada tetangga atau orang yang membutuhkan. Nilai sedekah tersebut tidak diukur dari besar kecilnya, melainkan dari keikhlasan dan konsistensinya.

Namun bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu atau jarak dengan penerima sedekah, menyalurkan sedekah melalui transfer atau lembaga sosial tetap merupakan amal baik yang sangat dianjurkan.

Pada akhirnya, kunci utama agar sedekah tidak menjadi riya adalah menjaga niat tetap ikhlas hanya karena Allah.

“Yang terpenting adalah niat di hati. Jika niatnya karena Allah, maka insyaAllah amal itu diterima,” pungkasnya.

Editor : Novica Satya Nadianti
#zakat dalam Islam #sedekah riya #sedekah