JAKARTA - Apa itu riya dalam Islam sering menjadi pertanyaan banyak umat Muslim, terutama karena sifat ini dianggap sangat halus dan sulit dikenali. Dalam sebuah kajian keislaman, seorang jamaah menanyakan tentang perbedaan antara riya, ujub, sombong, hingga ikhlas kepada ulama Buya Yahya.
Pertanyaan tersebut muncul karena banyak orang merasa takut amal ibadahnya berubah menjadi riya. Bahkan sebagian orang akhirnya memilih tidak melakukan amal kebaikan karena khawatir dinilai pamer oleh orang lain.
Menjawab pertanyaan itu, Buya Yahya menjelaskan bahwa memahami apa itu riya dalam Islam sangat penting agar umat tidak salah dalam menilai diri sendiri maupun orang lain.
Menurutnya, riya adalah perbuatan menampakkan amal kebaikan dengan tujuan agar dilihat dan dipuji oleh orang lain. Dalam kondisi ini, seseorang melakukan amal bukan semata-mata karena Allah, tetapi karena ingin mendapat pengakuan dari manusia.
“Kalau riya, seseorang menampakkan amal agar disanjung orang lain,” jelasnya dalam sebuah kajian.
Perbedaan Riya dan Ujub
Buya Yahya juga menjelaskan bahwa riya berbeda dengan ujub. Meski keduanya sama-sama berkaitan dengan amal ibadah, keduanya memiliki makna yang berbeda.
Ujub adalah kondisi ketika seseorang merasa bangga dengan amal yang ia lakukan. Ia membesar-besarkan amalnya dalam pandangannya sendiri dan merasa dirinya sudah melakukan banyak kebaikan.
Sebagai contoh, seseorang bersedekah dalam jumlah besar lalu merasa sangat bangga dengan amal tersebut. Ia merasa dirinya lebih baik dibanding orang lain karena kebaikannya.
Sementara itu, riya terjadi ketika seseorang ingin amalnya diketahui oleh orang lain agar mendapat pujian.
Dengan kata lain, ujub berkaitan dengan kebanggaan dalam hati terhadap amal sendiri, sedangkan riya berkaitan dengan keinginan agar amal tersebut dilihat oleh orang lain.
Ikhlas Menjadi Kunci Utama
Dalam Islam, lawan dari riya adalah ikhlas. Ikhlas berarti melakukan amal semata-mata karena Allah tanpa berharap pujian manusia.
Orang yang ikhlas bahkan bisa saja lupa dengan amal yang pernah ia lakukan. Ia tidak terlalu memikirkan apakah orang lain mengetahui perbuatannya atau tidak.
Menurut Buya Yahya, riya merupakan penyakit hati yang sangat halus sehingga sering tidak disadari oleh manusia.
Dalam sebuah ungkapan ulama disebutkan bahwa riya lebih halus daripada langkah semut hitam yang berjalan di atas batu hitam dalam kegelapan malam.
Hal ini menggambarkan betapa sulitnya mendeteksi riya dalam diri seseorang.
Jangan Mudah Menuduh Orang Riya
Buya Yahya juga mengingatkan umat Islam agar tidak mudah menuduh orang lain riya. Sebab hanya Allah yang mengetahui isi hati seseorang.
Sering kali seseorang melihat orang lain melakukan amal secara terbuka lalu langsung menilai bahwa perbuatan tersebut riya.
Padahal bisa jadi orang tersebut memiliki niat yang berbeda, bahkan mungkin sedang berusaha melawan sifat riya dalam dirinya.
Sebagai contoh, ada seseorang yang menyumbang dana besar untuk pembangunan masjid lalu meminta agar jumlahnya diumumkan. Banyak orang mungkin langsung menganggap tindakan itu sebagai riya.
Namun belum tentu demikian. Bisa saja ia justru sedang berusaha melawan sifat riya dengan cara tetap bersedekah meskipun diketahui orang lain.
“Jangan mudah menuduh orang lain riya, karena kita tidak tahu isi hatinya,” ujar Buya Yahya.
Jangan Takut Beramal Karena Takut Riya
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah seseorang berhenti berbuat baik karena takut riya. Padahal menurut para ulama, meninggalkan amal karena takut riya justru bisa menjadi kesalahan.
Solusi terbaik adalah tetap beramal sambil memperbaiki niat agar ikhlas karena Allah.
Buya Yahya mencontohkan cara melawan riya dengan menyeimbangkan amal yang terlihat dan amal yang tersembunyi.
Misalnya, seseorang bersedekah secara terbuka dalam jumlah tertentu, lalu menambah sedekah lain secara diam-diam tanpa diketahui siapa pun.
Dalam ajaran Islam bahkan dianjurkan untuk memperbanyak amal baik dalam berbagai kondisi, baik siang maupun malam, secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.
Sebagian ulama juga mencontohkan pembagian sedekah dalam beberapa bentuk, seperti sedekah di siang hari, malam hari, secara terbuka, maupun secara rahasia.
Tujuannya agar seseorang terus melatih keikhlasan dalam beramal dan tidak terjebak pada riya.
Pada akhirnya, memahami apa itu riya dalam Islam menjadi penting agar umat tidak salah menilai diri sendiri maupun orang lain. Yang paling utama adalah terus menjaga niat agar setiap amal dilakukan hanya untuk mencari ridha Allah SWT.
Editor : Novica Satya Nadianti