JAKARTA - Bahaya riya dalam Islam menjadi peringatan serius bagi umat Muslim agar selalu menjaga keikhlasan dalam beribadah. Sebab, amal yang dilakukan hanya demi pujian manusia dapat kehilangan nilainya di hadapan Allah SWT.
Dalam sebuah ceramah keagamaan, seorang ulama menjelaskan bahwa menghindari riya bukanlah perkara mudah. Hal itu karena hati manusia secara alami cenderung menyukai sanjungan dan pujian dari orang lain.
Namun dalam ibadah kepada Allah, keinginan untuk mendapatkan pujian justru menjadi sesuatu yang harus dihindari. Jika amal dilakukan untuk mencari sanjungan manusia, maka amal tersebut tidak memiliki nilai di sisi Allah.
“Amal ibadah yang dilakukan dengan tujuan mendapatkan pujian atau sanjungan tidak ada nilainya di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala,” jelasnya.
Karena itu, memahami bahaya riya dalam Islam menjadi penting agar umat Muslim tidak terjebak pada kesalahan yang dapat merusak pahala amal ibadah.
Amal Riya Tidak Mendapat Pahala
Ulama tersebut menjelaskan bahwa seseorang yang rajin beribadah, seperti bersedekah, berzakat, atau melakukan amal sosial, bisa saja kehilangan seluruh pahala jika amal itu dilakukan karena riya.
Orang yang melakukan amal dengan tujuan pamer atau mencari pujian manusia kelak akan menghadapi konsekuensi di akhirat.
Pada Hari Kiamat, orang-orang yang beramal dengan riya akan meminta balasan pahala kepada Allah atas semua amal ibadah yang pernah mereka lakukan di dunia.
Namun Allah akan menolak permintaan tersebut karena amal itu tidak dilakukan dengan niat yang ikhlas.
Dalam gambaran ceramah tersebut, Allah akan memerintahkan orang-orang yang riya untuk mencari balasan dari manusia yang dulu mereka jadikan tujuan saat beramal.
“Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu kalian pameri amal kalian di dunia. Mintalah balasan kepada mereka,” demikian makna peringatan tersebut.
Tentu saja manusia tidak memiliki kemampuan untuk memberikan pahala di akhirat. Akibatnya, orang yang beramal dengan riya tidak mendapatkan balasan apa pun dari amalnya.
Perumpamaan Amal Riya dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an memberikan gambaran yang sangat jelas mengenai nasib amal yang dilakukan dengan riya. Perumpamaan ini menunjukkan betapa sia-sianya amal yang tidak dilandasi keikhlasan.
Amal riya diibaratkan seperti tumpukan tanah yang diletakkan di atas batu besar yang licin. Ketika hujan turun atau angin bertiup, tanah tersebut akan hilang dan tidak meninggalkan bekas apa pun.
Begitulah kondisi amal yang dilakukan karena riya. Sekilas terlihat banyak dan besar, namun pada akhirnya hilang tanpa meninggalkan pahala sedikit pun.
Perumpamaan tersebut menjadi pengingat bahwa nilai amal tidak hanya ditentukan oleh besar kecilnya perbuatan, tetapi oleh niat yang melatarbelakanginya.
Baca Juga: Bocoran Soal TKA SMP 2026 Viral di YouTube, Ini 6 Model Soal yang Wajib Dikuasai Siswa Sebelum Ujian
Keikhlasan Menjadi Kunci Amal
Dalam ajaran Islam, keikhlasan menjadi kunci utama agar amal ibadah diterima oleh Allah SWT. Tanpa niat yang tulus, amal sebesar apa pun bisa menjadi sia-sia.
Karena itu, umat Muslim dianjurkan untuk selalu menjaga niat sebelum melakukan amal kebaikan. Niat harus ditujukan semata-mata untuk mencari ridha Allah, bukan untuk mendapatkan pengakuan dari manusia.
Selain itu, penting juga bagi seseorang untuk tidak terlalu memikirkan penilaian orang lain terhadap amal yang ia lakukan.
Fokus utama seorang Muslim seharusnya adalah bagaimana amal tersebut diterima oleh Allah.
Dengan menjaga keikhlasan, amal ibadah seperti sedekah, zakat, wakaf, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya dapat memberikan pahala yang besar di sisi Allah SWT.
Sebaliknya, jika amal dilakukan dengan niat riya, maka semua usaha yang dilakukan di dunia bisa berakhir tanpa balasan di akhirat.
Oleh karena itu, umat Islam diingatkan agar senantiasa membersihkan hati dari keinginan untuk dipuji manusia. Dengan begitu, setiap amal yang dilakukan dapat bernilai ibadah yang diterima oleh Allah.
Baca Juga: Terima Uang Miliaran per Tahun, Kapan Wajib Bayar Zakat Mal? Ini Cara Menghitungnya Menurut Ustaz
Editor : Novica Satya Nadianti