KEDIRI - Kabupaten Kediri di Jawa Timur dikenal luas sebagai salah satu sentra penghasil tebu terbesar dengan potensi luar biasa. Selain menyuplai pabrik gula skala besar, komoditas tebu di wilayah ini juga diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi berupa gula merah tebu. Melalui liputan mendalam Tanilink TV, pemirsa diajak melihat langsung cara membuat gula merah cetak berbahan nira tebu murni. Pengolahan tradisional ini berpusat di Desa Selumbung, Kecamatan Ngadiluwih, yang menjadi jantung industri lokal tersebut.
Salah satu produsen yang menjadi pionir di kawasan ini adalah UD Putra Tunggal milik pengusaha muda bernama Mas Hafid. Unit usaha pengolahan nira tebu ini merupakan bisnis keluarga legendaris yang telah eksis selama puluhan tahun di Kediri. Profil usahanya yang populer di Google Maps menarik perhatian karena konsistensi produksi dan kualitasnya yang terjaga. Untuk memahami lebih dalam, berikut ulasan lengkap mengenai sejarah, proses produksi harian, hingga tantangan operasionalnya.
Seluruh tahapan pengolahan di pabrik ini masih mempertahankan metode tradisional demi menjaga cita rasa alami yang autentik. Namun, manajemen usaha yang diterapkan sudah sangat profesional dalam memenuhi permintaan pasar yang terus berdatangan setiap hari. Bagi para pelaku usaha pertanian, ulasan profil pabrik ini menyajikan data konkret mengenai potensi bisnis gula merah. Mari kita bedah bagaimana usaha legendaris ini mampu bertahan di tengah perubahan zaman.
Sejarah Panjang 40 Tahun UD Putra Tunggal Kediri
UD Putra Tunggal didirikan pertama kali pada tahun 1980-an oleh generasi terdahulu keluarga Mas Hafid sebelum diteruskan olehnya. Hingga tahun 2026 ini, pabrik pengolahan gula merah tebu tersebut tercatat telah beroperasi selama kurang lebih 40 tahun lamanya. Konsistensi selama empat dekade membuktikan bahwa kebutuhan pasar akan produk gula merah dari tebu selalu stabil dan menjanjikan. Usaha ini berawal dari industri rumahan sederhana yang kemudian berkembang menjadi salah satu penopang ekonomi warga lokal.
Kecamatan Ngadiluwih, khususnya di daerah Selumbung, saat ini dihuni oleh sekitar 20 hingga 30 produsen gula merah serupa. Kehadiran puluhan unit usaha ini secara otomatis menjadikan Selumbung sebagai sentra utama penghasil gula merah tebu di Kediri. Mas Hafid menjelaskan bahwa keahlian mengolah nira tebu ini diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Hal inilah yang membuat kualitas rasa manis dari produk Selumbung memiliki ciri khas tersendiri yang sulit ditiru.
Keberadaan sentra industri ini juga didukung oleh melimpahnya lahan pertanian tebu di wilayah Kabupaten Kediri dan sekitarnya. Saat melakukan perjalanan menuju lokasi, pemandangan kebun tebu yang membentang luas di kanan-kiri jalan menjadi pemandangan yang mendominasi. Ketersediaan bahan baku yang melimpah sepanjang tahun menjadi faktor utama yang menjamin keberlangsungan operasional pabrik. Relasi yang erat antara petani tebu dan produsen gula merah juga menjadi kunci sukses ekosistem bisnis ini.
Karakteristik Bahan Baku dan Jenis Tebu Unggulan
Untuk memproduksi gula merah berkualitas tinggi, UD Putra Tunggal menggunakan jenis tebu pilihan yang dipasok langsung dari lahan pertanian. Ada dua jenis varietas tebu utama yang paling sering digunakan dalam proses pengolahan harian di pabrik ini. Varietas pertama yang sangat populer adalah jenis tebu tipe 62 yang biasa dikenal warga lokal dengan sebutan tebu hijau. Karakteristik tebu hijau ini memiliki kadar air yang pas dan sangat cocok untuk diolah menjadi gula merah.
Jenis tebu kedua yang sering diproses di dalam pabrik adalah tebu berwarna agak keunguan yang disebut tebu jernih atau tebu bening. Kedua varietas tebu ini dipilih karena menghasilkan kualitas nira yang manis, harum, dan memiliki warna cerah saat dikristalkan. Mas Hafid sendiri juga melakukan budidaya tanaman tebu secara mandiri untuk membantu menyuplai sebagian kecil dari kebutuhan operasional pabrik. Namun, sebagian besar kebutuhan bahan baku utama tetap diperoleh dari hasil pembelian langsung kepada para petani mitra.
Dalam kondisi normal atau saat musim panen raya tiba, kebutuhan tebu dapat dipenuhi dari kebun petani di sekitar Kediri. Namun, ketika pasokan tebu lokal mulai menipis di luar musim panen, pabrik harus mendatangkan bahan baku dari luar daerah. Petani pencari tebu dari UD Putra Tunggal bahkan harus berburu bahan baku berkualitas hingga ke pelosok Kabupaten Tulungagung. Upaya ini dilakukan demi memastikan proses produksi harian tidak berhenti akibat kekosongan bahan baku tebu.
Proses Penggilingan dan Penyaringan Nira Tebu
Proses pembuatan gula merah tebu ini dilakukan setiap hari dengan jadwal libur hanya satu kali dalam dua minggu, tepatnya pada hari Minggu. Dalam satu hari operasional, pabrik ini mampu menghasilkan produk jadi berupa gula merah cetak rata-rata sebanyak 1 ton. Untuk menghasilkan 1 ton gula merah siap konsumsi, pabrik membutuhkan pasokan bahan baku tebu segar sebanyak 10 ton. Rasio konversi bahan baku ini menunjukkan perbandingan 10 banding 1 antara tebu mentah dan produk akhir.
Dari perbandingan tersebut, dapat disimpulkan bahwa sekitar 90 persen dari struktur fisik batang tebu adalah air dan ampas kulit. Proses pengolahan dimulai setelah tebu hasil tebangan dari lahan diangkut menggunakan armada truk dan diturunkan di area pabrik. Langkah pertama yang dilakukan oleh para pekerja adalah memasukkan batang-batang tebu segar ke dalam mesin penggilingan khusus. Mesin penggilingan bertekanan tinggi ini berfungsi untuk memeras seluruh kandungan cairan manis yang ada di dalam batang tebu.
Cairan hasil perasan pertama yang disebut air nira tebu kemudian dialirkan menuju wadah penampungan khusus yang bersih. Air nira tebu tersebut wajib melalui proses penyaringan tahap pertama untuk memisahkan sisa-sisa ampas halus hasil gilingan. Aliran nira kemudian diteruskan lagi menuju saringan tahap kedua demi menjamin tingkat kebersihan cairan sebelum masuk tahap memasak. Proses filtrasi ganda ini sangat penting untuk mencegah adanya kotoran fisik yang dapat merusak kualitas fisik gula merah.
Tahap Perebusan dan Teknik Homogenisasi Warna
Setelah proses penyaringan selesai, air nira bersih dialirkan masuk ke dalam kawah atau wajan besi raksasa di atas tungku. Proses memasak nira cair ini dilakukan di atas tungku pembakaran tradisional dengan menggunakan bahan bakar berupa kayu. Cairan tebu terus dipanaskan pada suhu tinggi hingga kandungan airnya menguap dan tekstur cairan berubah menjadi kental pekat. Setelah mencapai kekentalan tertentu, adonan gula panas tersebut dipindahkan ke dalam wadah putaran khusus untuk proses homogenisasi.
Proses pemutaran adonan gula di wadah khusus ini memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan kualitas tampilan visual produk. Tujuan utama dari proses pemutaran yang konstan ini adalah untuk mencampur warna adonan secara merata agar hasilnya seragam. Selain meratakan warna coklat alami, proses pengadukan cepat ini juga berfungsi untuk mempercerah tampilan akhir dari produk gula. Gelembung udara yang terperangkap selama proses pemutaran akan membuat tekstur gula menjadi lebih renyah saat digigit nanti.
Tahap pemutaran adonan ini dilakukan oleh pekerja terampil yang sudah berpengalaman dalam membaca tingkat kematangan gula merah tebu. Pekerja harus memastikan adonan diputar pada kecepatan konstan agar suhu panasnya menurun secara bertahap namun tidak cepat mengeras. Setelah warna adonan terlihat cerah merata dan konsistensinya dirasa sudah pas, adonan siap untuk dicetak. Proses pemindahan adonan dari wadah putaran ke alat cetak harus dilakukan secara cepat dan presisi.
Pencetakan Tradisional Menggunakan Batok Kelapa
Untuk mencetak gula merah tebu ini, UD Putra Tunggal masih setia menggunakan peralatan cetak tradisional yang sangat ramah lingkungan. Alat cetak yang digunakan adalah potongan batok kelapa alami atau tempurung kelapa yang telah dibersihkan secara khusus. Mas Hafid menjelaskan bahwa penggunaan batok kelapa ini memberikan bentuk kubah yang estetis dan disukai oleh para konsumen setia. Meskipun menggunakan alat ukur tradisional, berat bersih dari setiap butiran gula yang dicetak tetap dipantau agar seragam.
Sistem penjualan produk gula merah cetak dari pabrik ini menggunakan sistem timbangan kiloan saat didistribusikan ke para pedagang. Ukuran batok kelapa atau cetakan yang digunakan di pabrik ini memiliki ukuran diameter yang tergolong cukup besar. Standar berat yang diterapkan pabrik diatur sedemikian rupa sehingga dalam setiap 1 kilogram berisi sebanyak 6 butir gula. Pengemasan dengan ukuran isi 6 butir per kilogram ini memudahkan konsumen dalam menghitung kebutuhan penggunaan harian mereka.
Proses pengisian adonan panas ke dalam deretan cetakan batok kelapa dilakukan secara manual satu per satu menggunakan gayung khusus. Para pekerja dituntut untuk selalu fokus dan menerapkan aspek keselamatan kerja yang sangat tinggi selama proses pengisian ini. Pekerja diimbau untuk sangat berhati-hati agar cairan gula panas bersuhu tinggi tidak menetes atau mengenai kulit bagian tubuh. Hal ini karena adonan tersebut baru saja diangkat dari kawah pemanas yang dimasak menggunakan api besar yang menyala konstan.
Manajemen Limbah Ramah Lingkungan (Zero Waste)
Salah satu hal yang paling menarik dari operasional pabrik UD Putra Tunggal adalah penerapan konsep zero waste atau bebas limbah. Pabrik ini berhasil mengolah seluruh sisa hasil produksi secara kreatif sehingga tidak ada satu pun bahan yang terbuang sia-sia. Bagian ampas tebu kering yang melimpah dari hasil penggilingan dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar tambahan pada tungku memasak. Penggunaan ampas tebu kering ini sangat menghemat biaya operasional pembelian kayu bakar harian bagi operasional pabrik.
Selain ampas tebu, sisa pelepah kayu dan abu sisa pembakaran di dalam tungku juga dikumpulkan secara berkala setelah dingin. Abu pembakaran tersebut kemudian dicampur dengan cairan tetes tebu yang merupakan sisa saringan atau limbah cair dari proses pengolahan gula. Hasil pencampuran antara abu tungku dan cairan tetes tebu ini menghasilkan produk pupuk organik berkualitas tinggi untuk pertanian. Pupuk organik hasil olahan limbah ini kemudian diaplikasikan kembali ke lahan perkebunan tebu milik pabrik dan petani mitra.
Dengan sistem pengolahan limbah yang mutar ini, ekosistem pertanian tebu di sekitar pabrik menjadi tetap terjaga kelestariannya. Siklus pemanfaatan limbah ini membuktikan bahwa industri tradisional juga dapat dijalankan dengan prinsip berkelanjutan yang modern. Petani tidak perlu mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli pupuk kimia sintetis karena pasokan pupuk organik selalu tersedia. Hal ini menjadi nilai tambah yang sangat positif bagi keberadaan pabrik gula merah di tengah pemukiman warga.
Siklus Musiman dan Fluktuasi Harga Pasar
Kelancaran proses produksi gula merah tebu di Kabupaten Kediri ini sangat dipengaruhi oleh perubahan siklus musim setiap tahunnya. Musim panen tebu yang ideal biasanya dimulai pada bulan kedua atau Februari ketika kadar rendemen tebu sudah optimal. Pada bulan-bulan kemarau, kualitas nira sangat baik sehingga konversi dari 10 ton tebu dapat menghasilkan 1 ton gula utuh. Namun, tantangan besar akan muncul ketika musim penghujan tiba, biasanya mulai memasuki bulan November hingga Desember.
Pada musim hujan, air hujan yang masuk ke dalam batang tanaman tebu akan menurunkan kualitas konsentrasi manis pada air nira. Akibatnya, efisiensi produksi menurun karena 10 ton tebu yang digiling sering kali hanya menghasilkan sekitar 9 kuintal gula merah. Penurunan hasil produksi sebesar 10 persen ini tentu memengaruhi margin keuntungan harian yang diperoleh oleh pihak pengelola pabrik. Selain itu, proses pengeringan gula di ruang terbuka juga membutuhkan waktu yang relatif lebih lama saat cuaca mendung.
Fluktuasi harga jual produk gula merah di pasaran juga mengikuti siklus hari besar keagamaan dan volume panen raya tebu. Mas Hafid menyebutkan bahwa harga rata-rata gula merah tebu di tingkat produsen berada di kisaran Rp10.000 per kilogram. Harga ini biasanya akan mengalami tren penurunan setelah melewati Hari Raya Idul Fitri karena pasokan tebu di pasar sangat melimpah. Namun, harga akan kembali merangkak naik menjelang Hari Raya Idul Adha dan puncaknya pada bulan Oktober saat pasokan tebu mulai menipis.
Pemasaran dan Peluang Kemitraan Distributor
Pemasaran produk gula merah hasil produksi UD Putra Tunggal saat ini telah menjangkau berbagai wilayah dari kota ke kota. Konsumen terbesar dari produk gula cetak batok ini mayoritas berada di wilayah Provinsi Jawa Tengah sebagai pelanggan setia. Para pelaku industri kuliner, pembuat kecap, hingga pedagang pasar tradisional di Jawa Tengah telah menjalin kemitraan sejak lama. Pengiriman produk dilakukan secara rutin menggunakan armada truk ekspedisi untuk menjaga kesegaran produk saat tiba di tujuan.
Bagi masyarakat atau pelaku usaha di luar Pulau Jawa yang tertarik menjadi distributor, Mas Hafid membuka peluang kemitraan terbuka. Pengiriman produk ke luar pulau seperti Kalimantan atau Sulawesi dapat dilayani tanpa adanya batasan atau kuota pesanan minimum. Namun, pihak pabrik menegaskan bahwa mereka tidak dapat melakukan kontrak harga tetap dalam jangka panjang dengan pihak pembeli. Hal ini dikarenakan harga bahan baku tebu dan harga pasar gula merah yang selalu fluktuatif mengikuti kondisi musim.
Pihak distributor diharapkan dapat menyesuaikan transaksi pembelian dengan kondisi musim panen raya tebu yang sedang berlangsung di Kediri. Sistem fleksibel ini diterapkan demi menjaga keadilan bisnis dan keberlangsungan operasional pabrik agar tetap sehat secara finansial. Bagi pembaca yang tertarik untuk belajar atau memesan produk, kunjungan langsung ke Desa Selumbung sangat dipersilakan. Potensi agribisnis pengolahan tebu di Kabupaten Kediri ini membuktikan bahwa bisnis sektor pertanian tidak akan pernah mati.
Editor : Natasha Eka Safrina