Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cara Membuat Gula Merah Kelapa Tradisional ala Pak Sup Wonosobo Banyuwangi, Tetap Stabil Hasilkan Cuan Melimpah

Natasha Eka Safrina • Jumat, 17 Juli 2026 | 19:40 WIB
Pak Sup, penderes asal Banyuwangi bagikan cara membuat gula merah kelapa. Simak rahasia nira melimpah dan harga gula merah dari petani terbaru. (Pinterest)
Pak Sup, penderes asal Banyuwangi bagikan cara membuat gula merah kelapa. Simak rahasia nira melimpah dan harga gula merah dari petani terbaru. (Pinterest)

 

BANYUWANGI - Menjadi seorang penderes kelapa merupakan profesi yang menjanjikan stabilitas ekonomi harian bagi sebagian masyarakat pedesaan. Pak Sup, seorang penderes kelapa senior, membagikan rahasia serta cara membuat gula merah kelapa langsung dari area perkebunan. Di sela kesibukannya, ia menjelaskan teknik penyadapan nira yang efektif di Desa Wonosobo, Kecamatan Jerono, Kabupaten Banyuwangi. Melalui wawancara di kanal YouTube Jaringan Usaha (JUS), ia membeberkan perjalanan hidupnya mengolah hasil bumi.

Profesi sebagai penyadap nira kelapa ini telah menjadi sandaran hidup utama bagi keluarganya selama belasan tahun. Pak Sup mengakui bahwa penghasilan dari menderes jauh lebih pasti dibandingkan dengan sektor pertanian tanaman pangan. Kepastian pendapatan harian inilah yang membuat profesi penderes kelapa sangat dihargai oleh lembaga keuangan lokal. Kestabilan hasil harian tersebut menjadi daya tarik utama bagi warga yang ingin mencoba peruntungan usaha ini.

Untuk menghasilkan produk pemanis yang berkualitas, penderes harus memahami karakteristik pohon kelapa yang dikelolanya dengan baik. Setiap pohon kelapa memiliki tingkat produktivitas nira yang bervariasi tergantung kesuburan tanah dan kondisi cuacanya. Langkah awal pemrosesan dimulai dengan penyadapan bagian bunga kelapa atau mancung secara konsisten setiap harinya. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai teknik pengelolaan nira hingga taktik penjualan yang diterapkan oleh Pak Sup.

Baca Juga: KUR BRI Cair Berapa Lama? Ini Estimasi Proses Pencairan Dana Setelah Survei Menurut Penjelasan Video

Perjalanan Karir dan Kepastian Penghasilan Penderes

Pak Sup mengawali kariernya sebagai penderes nira kelapa sejak dirinya baru saja membina bahtera rumah tangga. Hingga kini, ia tercatat telah menekuni profesi penuh tantangan ini selama kurang lebih 13 tahun. Sebelum menetap di Banyuwangi, ia sempat merantau ke berbagai daerah seperti Bali, Sumatera, hingga Sulawesi. Berbagai pekerjaan kasar mulai dari buruh bangunan, penjual es, hingga pengelola kebun kopi telah ia coba.

Namun, dari sekian banyak pekerjaan tersebut, ia merasa hanya profesi menderes yang memberikan hasil paling stabil. Bekerja di perantauan sering kali memberikan ketidakpastian upah karena sistem pembayaran yang kerap kali mengalami keterlambatan. Sementara dalam dunia penderesan nira kelapa, prinsip perdagangan yang berlaku sangat sederhana, yakni ada barang ada uang. Kestabilan finansial harian inilah yang akhirnya membuat Pak Sup mantap kembali ke kampung halaman untuk menderes.

Bahkan, ia menceritakan pengalaman menarik mengenai kepercayaan pihak lembaga keuangan terhadap profesi penderes kelapa tradisional ini. Petugas dealer bank bahkan tidak ragu menawarkan kredit kendaraan bermotor secara langsung kepada para penderes kelapa lokal. Hal ini karena mereka mengetahui bahwa penderes memiliki pemasukan tunai yang pasti setiap harinya dari menyadap. Berbeda dengan petani padi di sawah yang pendapatannya sangat bergantung pada musim panen yang tidak menentu.

Baca Juga: KUR BRI Cair Bisa Ditolak? Simak Penjelasan Pengaruh SPinjam dan SPayLater terhadap Pengajuan

Produktivitas 28 Pohon Kelapa Lokal di Banyuwangi

Saat ini, Pak Sup mengelola sebanyak 28 pohon kelapa lokal yang tumbuh di area perkebunan Wonosobo. Pohon-pohon kelapa yang digarapnya tersebut sebagian besar masih memiliki ukuran batang yang relatif pendek dan rendah. Karena sebagian pohon masih dalam tahap belajar berbuah, kemunculan mancung bunga kelapa belum merata seluruhnya. Hal ini membuat produktivitas harian nira di kebun kelolaannya masih belum mencapai titik paling stabil.

Untuk hasil rata-rata, Pak Sup mengumpulkan nira kelapa selama dua hari sekali demi mendapatkan volume optimal. Dalam siklus dua hari tersebut, ia biasa memperoleh hasil sekitar 27 hingga 28 kilogram gula merah. Namun, angka produksi ini tidak bersifat mutlak karena sangat dipengaruhi oleh kondisi perubahan cuaca harian. Jika cuaca sedang bersahabat dan cerah, hasil sadapan nira kelapa tentu akan mengalami peningkatan yang signifikan.

Tingkat kesuburan tanah di wilayah Wonosobo Banyuwangi ini juga dinilai sangat mendukung pertumbuhan optimal pohon kelapa. Karakteristik tanahnya tidak terlalu berpasir dan tidak dipenuhi oleh bebatuan tajam layaknya area perbukitan tinggi. Keberadaan sumber air bawah tanah yang melimpah membuat tanaman kelapa lokal tumbuh dengan sangat subur dan hijau. Kondisi lingkungan yang kaya air ini merangsang pohon untuk memproduksi air nira dalam jumlah melimpah.

Analisis Kualitas Nira Berdasarkan Jenis Kelapa

Dalam menentukan pohon kelapa yang layak dideres, penderes harus jeli melihat ciri fisik tanaman tersebut. Tidak semua pohon kelapa yang tumbuh di kebun mampu menghasilkan air nira dalam jumlah yang memuaskan. Ada beberapa pohon kelapa yang terpaksa dihentikan proses penderesannya karena tidak mengeluarkan nira sama sekali. Pak Sup menyebutkan bahwa jenis kelapa lokal mendominasi kebunnya dengan persentase mencapai 98 persen.

Varietas kelapa kecil seperti genjah entok sebenarnya juga bisa dideres dengan hasil yang cukup baik di lapangan. Keunggulan kelapa genjah entok terletak pada ukuran pohonnya yang pendek sehingga sangat memudahkan proses penderesan harian. Namun, untuk produktivitas jangka panjang, kelapa lokal tetap menjadi pilihan utama masyarakat Banyuwangi karena batangnya kokoh. Kualitas tanah subur yang banyak mengandung air menjadi faktor penentu utama melimpahnya produksi nira kelapa lokal.

Durasi penyadapan nira pada satu mancung kelapa sangat bergantung pada ukuran panjang atau pendeknya mancung tersebut. Mancung kelapa yang berukuran panjang dan subur dapat dideres secara terus-menerus selama kurang lebih 2 bulan penuh. Sementara untuk mancung yang berukuran lebih pendek, durasi penderesannya biasanya hanya bertahan selama 1 bulan 10 hari. Rata-rata setiap pohon kelapa lokal yang subur di kebunnya mampu menghasilkan hingga tiga mancung nira.

Baca Juga: KUR BRI 2026 Juli Dibuka? Simak Syarat Pengajuan, Bunga, Agunan, dan Limit Pinjaman Terbaru

Pengaruh Musim Terhadap Kadar Pati Gula

Fenomena alam yang cukup unik terjadi pada perbedaan kualitas air nira saat musim kemarau dan musim hujan. Menurut pengalaman Pak Sup, cuaca panas yang terik justru menghasilkan kualitas nira terbaik untuk pembuatan gula merah. Meskipun volume air nira yang menetes tampak sedikit, namun kadar pati atau sari gulanya sangat tinggi. Hal ini membuat proses pengentalan adonan gula menjadi lebih cepat dan menghasilkan bobot gula yang padat.

Sebaliknya, pada saat musim hujan tiba, volume air nira yang tertampung di dalam jerigen memang terlihat banyak. Namun, kandungan air hujan yang tinggi membuat kadar pati atau sari gula di dalam nira menjadi sangat sedikit. Akibatnya, sebagian besar volume nira tersebut akan menguap sia-sia menjadi uap air selama proses perebusan berlangsung. Hasil akhir gula merah yang diperoleh pada musim hujan cenderung lebih sedikit meskipun air niranya melimpah.

Secara rata-rata harian, satu pohon kelapa yang subur mampu menghasilkan air nira sebanyak kurang lebih 5 liter. Jika dikalikan dengan 28 pohon kelolaannya, volume nira yang terkumpul setiap harinya sudah sangat menjanjikan untuk diproduksi. Pemahaman mengenai fluktuasi kadar pati nira ini sangat membantu penderes dalam mengatur durasi pembakaran di dapur. Pengaturan suhu api yang tepat menjadi kunci utama agar nira tidak mengalami kegosongan saat dimasak.

Proses Memasak Nira Hingga Menjadi Gula Merah

Proses pengolahan air nira kelapa menjadi produk gula merah siap cetak membutuhkan waktu yang cukup panjang. Di dapur produksi, proses perebusan nira kelapa ini umumnya memakan waktu sekitar 6 jam setiap harinya. Pak Sup biasanya memulai aktivitas memasak nira sejak pagi hari hingga selesai sekitar pukul 15.00 sore. Durasi memasak ini sangat bergantung pada tingkat kekeringan bahan bakar kayu yang digunakan di dalam tungku.

Jika kayu bakar yang digunakan berada dalam kondisi benar-benar kering, maka suhu panas tungku akan cepat stabil. Proses penguapan air nira pun berjalan dengan sangat cepat sehingga adonan gula dapat segera mengental dengan matang. Namun, jika kayu bakar yang tersedia agak basah, proses pematangan adonan akan berjalan lambat dan memakan waktu. Semua proses pematangan adonan manis ini memang sangat bergantung pada stabilitas nyala api tungku tradisional.

Selama proses perebusan, nira harus terus diaduk secara berkala agar matang merata dan tidak pecah teksturnya. Setelah adonan mengental dan berwarna coklat keemasan pekat, adonan hangat tersebut siap dicetak menggunakan wadah khusus. Cetakan tradisional yang bersih digunakan untuk membentuk gula merah kelapa menjadi bulatan-bulatan yang kokoh saat dingin. Setelah mengeras sepenuhnya, gula merah kelapa tradisional beraroma harum ini sudah siap untuk dikemas dan dipasarkan.

Sistem Penjualan dan Harga Gula Merah di Petani

Dalam hal pemasaran produk, Pak Sup memilih untuk menjual seluruh hasil produksinya secara langsung kepada pihak pengepul. Saat ini, harga gula merah dari petani di tingkat juragan atau pengepul Banyuwangi berada di angka Rp14.300 per kilogram. Nominal harga Rp14.300 ini dinilai sudah cukup stabil dan memberikan margin keuntungan yang layak bagi para penderes harian. Penjualan melalui sistem pengepul dirasa jauh lebih praktis dibandingkan jika harus menjual produknya sendiri ke pasar.

Menjual gula merah secara eceran langsung ke pasar tradisional atau toko-toko memang menawarkan harga yang sedikit lebih tinggi. Namun, risiko penolakan produk sangat besar jika kualitas fisik gula merah mengalami kerusakan atau menjadi masam (ngesem). Jika gula merah mengalami kerusakan tekstur, para pedagang pasar biasanya tidak akan mau menerima produk tersebut dari petani. Hal ini tentu akan menyulitkan posisi penderes karena harus mencari pembeli lain dalam waktu cepat.

Dengan menyalurkan produk ke pengepul, segala kondisi kualitas gula merah, baik yang bagus maupun yang rusak, tetap diterima. Meskipun harga gula yang rusak akan mengalami sedikit penurunan, namun penderes tetap mendapatkan kepastian pembayaran tunai secara langsung. Sistem penjualan instan ini sangat membantu menjaga kelancaran arus kas harian untuk memenuhi kebutuhan operasional rumah tangga. Dedikasi Pak Sup dalam menderes kelapa membuktikan bahwa ketekunan mengolah potensi lokal Banyuwangi mampu menghadirkan stabilitas finansial.

Editor : Natasha Eka Safrina
cara membuat gula merah kelapa nira kelapa penderes kelapa harga gula merah dari petani banyuwangi