Pola Tanam Palawija Musim Kemarau, Pilih Tanaman Sesuai Kebutuhan Air agar Irigasi Tak Terbebani

Vidya Sajar Fitri • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 11:00 WIB
Pola tanam palawija musim kemarau perlu disesuaikan kebutuhan air agar risiko kekeringan dan gangguan irigasi dapat ditekan.(ILUSTRASI AI)
Pola tanam palawija musim kemarau perlu disesuaikan kebutuhan air agar risiko kekeringan dan gangguan irigasi dapat ditekan.(ILUSTRASI AI)

 

RADAR TULUNGAGUNG - Pola tanam palawija musim kemarau perlu disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan air tanaman.

Langkah ini penting ketika pasokan irigasi berpotensi terbatas, seperti kondisi jaringan pengairan yang mendapat tambahan debit dari Dam Pacar.

Pola tanam palawija musim kemarau yang tepat dapat membantu petani menekan risiko tanaman mengalami kekurangan air. Sebab, setiap komoditas memiliki kebutuhan air dan tingkat toleransi terhadap kekeringan yang berbeda.

Di Tulungagung, kondisi tersebut menjadi perhatian karena Dam Pacar mengalami kerusakan. Namun, aliran menuju jaringan sekunder Lodoyo tetap dipertahankan melalui penanganan darurat menggunakan jumbo bag.

Tambahan debit dari Sungai Kalidawir melalui Dam Pacar sebelumnya mendukung pengairan hingga sekitar 925 hektare pada jaringan sekunder tersebut.

Baca Juga: Pasca Dam Pacar Ambrol, BBWS Brantas Siapkan Jumbo Bag untuk Mempertahankan Tambahan Debit Air Menuj

Pilih Palawija Sesuai Ketersediaan Air

Saat memasuki musim kemarau, petani sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan nilai jual komoditas ketika menentukan tanaman. Ketersediaan air perlu menjadi salah satu dasar dalam memilih jenis palawija yang akan ditanam.

Palawija secara umum membutuhkan air lebih sedikit dibandingkan padi. Namun, bukan berarti tanaman palawija dapat tumbuh tanpa pasokan air yang cukup.

Penelitian Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi Kementerian Pertanian menunjukkan tanaman palawija tetap rentan terhadap kekeringan, terutama ketika ditanam pada periode dengan curah hujan rendah.

Karena itu, lahan dengan suplai irigasi terbatas lebih aman diarahkan untuk komoditas yang sesuai dengan kondisi air dan waktu tanam.

Jagung, kedelai, kacang tanah, serta komoditas palawija lain dapat menjadi pilihan, tetapi waktu tanam dan kondisi lahannya tetap harus diperhitungkan.

Penentuan waktu tanam juga tidak bisa dilepaskan dari karakteristik tanah. Kajian Kementan dan IPB menunjukkan tekstur tanah memengaruhi lama periode tanam karena kemampuan tanah menahan air berbeda-beda.

Tanah berpasir, misalnya, lebih cepat mengalami cekaman air dibandingkan tanah yang memiliki kemampuan menahan air lebih baik.

Baca Juga: Dam Pacar Tulungagung Ambrol, Pengairan Sawah Perlu Penanganan Segera

Perhatikan Fase Pertumbuhan Tanaman

Pemilihan tanaman saja belum cukup. Petani juga perlu memperhatikan fase pertumbuhan ketika kebutuhan air tanaman meningkat.

Pada palawija seperti jagung, kedelai, dan kacang tanah, kekurangan air pada fase tertentu dapat berdampak terhadap hasil.

Data penelitian Kementan menunjukkan defisit air dapat terjadi pada fase vegetatif hingga pengisian hasil, sedangkan ketika memasuki fase pematangan, kebutuhan air tanaman cenderung menurun.

Artinya, pola tanam palawija musim kemarau sebaiknya disesuaikan dengan perkiraan ketersediaan air sepanjang umur tanaman, bukan hanya kondisi air ketika benih pertama kali ditanam.

Petani juga perlu menghindari keputusan menanam hanya berdasarkan kebiasaan musim sebelumnya. Perubahan curah hujan, kondisi sumber air, karakteristik tanah, dan kemampuan jaringan irigasi dapat membuat kebutuhan pengairan berbeda pada setiap musim.

Baca Juga: Kerusakan Struktur Bangunan Picu Dam Pacar Ambrol, Pengairan Lima Desa Berpotensi Terdampak

Atur Jadwal Tanam agar Air Lebih Efisien

Ketika suplai air terbatas, pengaturan waktu tanam dapat menjadi bagian penting dari strategi mengurangi risiko kekeringan. Penyesuaian pola tanam bahkan menjadi salah satu langkah mitigasi yang didorong pemerintah dalam menghadapi musim kemarau 2026.

Petani dapat mempertimbangkan jadwal tanam yang memperhitungkan ketersediaan air sejak awal hingga akhir pertumbuhan tanaman. Lahan dengan sumber air lebih terbatas juga perlu mendapat perhatian lebih dalam menentukan komoditas dan waktu tanam.

Pengelolaan air tidak selalu berarti menambah volume irigasi. Efisiensi pemberian air juga penting agar pasokan yang tersedia dapat menjangkau lebih banyak lahan.

Penelitian Kementan mengenai pengelolaan air pada palawija menunjukkan teknologi dan metode irigasi dapat disesuaikan dengan jenis tanaman, kondisi tanah, serta sumber air.

Dalam konteks Tulungagung, tambahan debit dari Sungai Kalidawir tetap memiliki arti penting karena dapat membantu mengurangi penggunaan air dari Bendungan Wlingi.

Penanganan sementara Dam Pacar dengan jumbo bag juga dilakukan agar air tetap dapat masuk menuju saluran sekunder Lodoyo sembari perbaikan infrastruktur disiapkan.

Dengan demikian, pola tanam palawija musim kemarau sebaiknya tidak ditentukan hanya berdasarkan jenis tanaman yang dianggap tahan kering. Petani perlu melihat kebutuhan air, fase pertumbuhan, karakteristik tanah, waktu tanam, serta kepastian suplai irigasi.

Strategi tersebut penting untuk mengurangi risiko kekurangan air sekaligus menjaga produktivitas lahan. Pemerintah sendiri pada musim kemarau 2026 juga mendorong penguatan irigasi, sumber air alternatif, pompanisasi, dan penyesuaian pola tanam sebagai bagian dari mitigasi kekeringan.

Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
pola tanam palawija musim kemarau kebutuhan air tanaman palawija irigasi musim kemarau tanaman tahan kekeringan pola tanam petani tulungagung