Cara Menghemat Air Irigasi saat Musim Kemarau, 5 Langkah agar Tanaman Tetap Terairi

Vidya Sajar Fitri • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 11:10 WIB

Cara menghemat air irigasi saat musim kemarau agar tanaman tetap mendapat pasokan tanpa pemborosan, terutama saat debit terbatas.(ILUSTRASI AI)

Cara menghemat air irigasi saat musim kemarau agar tanaman tetap mendapat pasokan tanpa pemborosan, terutama saat debit terbatas.(ILUSTRASI AI)

 

RADAR TULUNGAGUNG - Cara menghemat air irigasi saat musim kemarau menjadi penting ketika pasokan air tambahan tidak selalu tersedia dalam jumlah yang sama. Petani perlu mengatur pemberian air agar kebutuhan tanaman tetap terpenuhi tanpa menggunakan air secara berlebihan.

Cara menghemat air irigasi saat musim kemarau bukan berarti mengurangi air secara sembarangan. Kebutuhan air harus disesuaikan dengan jenis tanaman, kondisi tanah, fase pertumbuhan, serta ketersediaan pasokan di jaringan irigasi.

Cara menghemat air irigasi saat musim kemarau juga relevan bagi petani di Tulungagung. Kerusakan Dam Pacar sempat mengganggu fungsi bangunan tersebut sebagai penambah debit dari Sungai Kalidawir menuju saluran sekunder Lodoyo.

Untuk mempertahankan aliran, BBWS Brantas menyiapkan penanganan sementara menggunakan jumbo bag.

Baca Juga: Pasca Dam Pacar Ambrol, BBWS Brantas Siapkan Jumbo Bag untuk Mempertahankan Tambahan Debit Air Menuj

Sesuaikan Jadwal Pengairan dengan Kebutuhan Tanaman

Langkah pertama adalah menghindari pemberian air berdasarkan jadwal yang sama untuk semua tanaman. Kebutuhan air berbeda menurut komoditas dan fase pertumbuhan sehingga pengairan sebaiknya mengikuti kondisi tanaman.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menyebut penjadwalan irigasi sebagai salah satu kunci konservasi air karena memungkinkan pemberian air pada waktu dan jumlah yang lebih tepat. Pengaturan tersebut juga perlu mempertimbangkan kondisi tanah dan kebutuhan tanaman. 

Petani juga perlu memperhatikan tanda-tanda tanaman mengalami kekurangan air. Jika tanah masih memiliki kelembapan yang cukup, pemberian air tambahan secara berlebihan justru tidak diperlukan.

Prinsipnya, air diberikan ketika tanaman membutuhkannya, bukan sekadar karena sudah memasuki jadwal pengairan. Cara ini membantu mengurangi pemborosan sekaligus menjaga tanaman tetap memperoleh suplai yang diperlukan.

Baca Juga: Dam Pacar Tulungagung Ambrol, Pengairan Sawah Perlu Penanganan Segera

Kurangi Kehilangan Air di Lahan

Air yang sudah dialirkan ke lahan tidak seluruhnya langsung dimanfaatkan tanaman. Sebagian dapat hilang melalui penguapan, rembesan, atau pemberian air yang terlalu banyak.

FAO merekomendasikan sejumlah langkah untuk meningkatkan efisiensi irigasi, antara lain mengurangi kehilangan air pada saluran, menghindari pengairan berlebihan, mengendalikan gulma, serta memberikan air dalam jumlah yang sesuai kebutuhan tanaman.

Karena itu, kondisi saluran menuju lahan juga perlu diperhatikan. Kebocoran atau kerusakan saluran dapat membuat air yang seharusnya sampai ke tanaman justru hilang di perjalanan.

Pada lahan yang memiliki fasilitas dan kondisi sesuai, metode irigasi seperti tetes atau sprinkler dapat menjadi pilihan.

FAO mencatat metode tersebut umumnya memiliki efisiensi aplikasi air lebih tinggi dibandingkan irigasi permukaan ketika air tersedia dalam jumlah terbatas, meski pemilihannya tetap harus disesuaikan dengan kondisi setempat dan kemampuan petani. 

Baca Juga: Kerusakan Struktur Bangunan Picu Dam Pacar Ambrol, Pengairan Lima Desa Berpotensi Terdampak

Manfaatkan Air Secara Efisien Saat Suplai Terbatas

Kondisi suplai air di jaringan irigasi perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan penggunaan air di tingkat lahan.

Di Tulungagung, tambahan debit dari Sungai Kalidawir melalui Dam Pacar sebelumnya membantu jaringan sekunder Lodoyo mengairi sekitar 925 hektare.

Tambahan debit tersebut bukan merupakan sumber utama pengairan, melainkan suplesi untuk menambah pasokan menuju saluran sekunder.

Keberadaannya tetap penting karena dapat membantu menghemat penggunaan air dari Bendungan Wlingi, terutama saat musim kemarau.

Penanganan darurat dengan jumbo bag dilakukan agar air tetap dapat masuk ke jaringan sekunder Lodoyo sembari perbaikan Dam Pacar disiapkan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pengelolaan air tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber, tetapi juga bagaimana pasokan yang ada digunakan secara efisien.

FAO menekankan bahwa pengelolaan air pertanian yang baik diperlukan untuk meningkatkan produktivitas air sekaligus mengurangi kerentanan terhadap perubahan iklim dan ketidakpastian pasokan.

Petani juga dapat mempertimbangkan pemanfaatan kelembapan tanah dan pengelolaan lahan untuk mengurangi kebutuhan penyiraman tambahan.

Pengelolaan kelembapan tanah, penyesuaian waktu tanam, serta pemilihan tanaman yang sesuai dengan ketersediaan air termasuk pendekatan yang direkomendasikan dalam pengelolaan pertanian menghadapi keterbatasan air. 

Di Tulungagung sendiri, sebagian besar tanaman saat ini memasuki musim palawija yang kebutuhan airnya relatif tidak sebesar padi. Kondisi tersebut membuat dampak keterbatasan tambahan debit air dinilai masih relatif terkendali.

Meski demikian, efisiensi tetap penting karena kebutuhan air untuk tanaman tidak berhenti selama musim kemarau.

Dengan mengatur jadwal pengairan, mencegah kehilangan air, menyesuaikan metode irigasi, serta memperhatikan kebutuhan tanaman, pasokan yang terbatas dapat dimanfaatkan lebih optimal.

Dengan demikian, cara menghemat air irigasi saat musim kemarau bukan sekadar mengurangi jumlah air yang diberikan.

Kuncinya adalah memastikan air sampai ke tanaman pada waktu dan jumlah yang tepat, sehingga produktivitas lahan tetap terjaga meski pasokan tambahan sedang terbatas.

Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari: infopublik.id
kebutuhan air tanaman palawija cara menghemat airr irigasi saat musim kemarau tips hemat air untuk petani efisiensi air irigasi pengelolaan irigasi musim kemarau