Bangunan Sekolah Berusia Puluhan Tahun Wajib Diperiksa, Ini Alasan Konstruksi Lapuk Berbahaya

Vidya Sajar Fitri • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 09:00 WIB
Pemeriksaan berkala bangunan sekolah penting untuk mendeteksi konstruksi lapuk dan mencegah risiko yang membahayakan siswa.(ILUSTRASI AI)
Pemeriksaan berkala bangunan sekolah penting untuk mendeteksi konstruksi lapuk dan mencegah risiko yang membahayakan siswa.(ILUSTRASI AI)

 

RADAR TULUNGAGUNG – Pemeriksaan berkala penting dilakukan pada bangunan sekolah berusia puluhan tahun untuk mengetahui penurunan kondisi konstruksi sebelum menimbulkan risiko bagi siswa dan guru. Bagian yang terlihat kokoh dari luar belum tentu memiliki kekuatan yang sama pada rangka, kayu penyangga, atap, maupun komponen lainnya. 

 

Pemeriksaan berkala bangunan sekolah dapat membantu menemukan material yang mulai lapuk, sambungan yang melemah, atap yang mengalami perubahan posisi, hingga dinding yang menunjukkan kerusakan.

Deteksi lebih awal memungkinkan sekolah dan pengelola sarana prasarana menentukan apakah sebuah ruangan masih aman digunakan, perlu diperbaiki, atau harus dikosongkan.

Pentingnya pemeriksaan berkala semakin besar pada bangunan sekolah yang telah digunakan selama puluhan tahun.

Sebab, usia bangunan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan, sementara kerusakan konstruksi dapat berkembang secara bertahap tanpa langsung terlihat.

Baca Juga: Atap SDN 3 Wonorejo Tulungagung Ambruk, Belasan Siswa Terpaksa Belajar di Tenda

Kenali Bagian Bangunan yang Mulai Menurun

Pemeriksaan tidak cukup hanya melihat kondisi lantai atau mengecek apakah ruangan masih dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

Bagian atas bangunan justru perlu mendapat perhatian karena kerusakan pada rangka atap dapat mengancam keselamatan orang yang berada di bawahnya.

Kayu penyangga perlu diperiksa untuk melihat apakah terdapat bagian yang lapuk, keropos, patah, atau mengalami penurunan kualitas.

Kebocoran atap juga tidak sebaiknya dianggap sebagai persoalan ringan apabila terjadi berulang karena air dapat mempercepat kerusakan material tertentu.

Dinding, plafon, kusen, serta sambungan konstruksi juga perlu diperhatikan. Retakan yang berkembang, bagian dinding yang berubah posisi, atau material yang mulai terlepas dapat menjadi tanda bahwa pemeriksaan lebih menyeluruh diperlukan.

Baca Juga: Kepala Sekolah Masih Plt, Disdik Tulungagung Akui Ada Dampak pada Kenyamanan Kerja

Bangunan Lama Perlu Mendapat Perhatian Lebih

Kasus kerusakan di SDN 3 Wonorejo, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung menjadi gambaran pentingnya memperhatikan kondisi bangunan sekolah lama. 

Atap ruang kelas III ambruk pada Senin (17/8) sekitar pukul 12.00 ketika ruangan dalam keadaan kosong sehingga tidak ada korban.

Hasil pengecekan menunjukkan bagian kayu di atas bangunan telah mengalami pelapukan. Material atap yang jatuh juga menyebabkan sebagian dinding ruang kelas ikut runtuh.

Bangunan tersebut diperkirakan merupakan bangunan lama peninggalan program SD Inpres yang dibangun pada era 1970–1980-an. Ruang kelas itu belum termasuk tiga ruang yang sedang direvitalisasi ketika kejadian berlangsung.

Kondisinya kemudian dinilai sudah tidak layak digunakan. Bangunan lama tersebut tidak diarahkan untuk direnovasi, melainkan akan dihapus dari aset dan dibongkar seluruhnya.

Peristiwa itu menunjukkan bahwa usia bangunan perlu menjadi salah satu pertimbangan ketika menentukan prioritas pemeriksaan.

Bangunan yang telah berdiri selama puluhan tahun tidak otomatis berbahaya, tetapi kondisi material dan konstruksinya perlu dipastikan secara berkala.

Baca Juga: 30 Calon Kepala Sekolah Tulungagung Sudah Masuk BKN, Pertek Ditarget Sepekan

Jangan Tunggu Sampai Kerusakan Parah

Pemeriksaan berkala bertujuan menemukan masalah sebelum kerusakan berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.

Jika ditemukan bagian konstruksi yang lapuk atau mengalami kerusakan, penggunaan ruangan dapat dievaluasi sembari menunggu pemeriksaan teknis dan penanganan yang diperlukan.

Langkah pencegahan menjadi penting karena kerusakan bangunan sekolah dapat berdampak langsung terhadap kegiatan belajar.

Setelah ruang kelas III SDN 3 Wonorejo ambruk, sekitar 10–15 siswa dari satu rombongan belajar harus mengikuti pembelajaran sementara di tenda berukuran 6 x 4 meter.

Sekolah tersebut memiliki sekitar 80–90 siswa dan sedang menjalankan sistem dua shift karena keterbatasan ruang selama proses revitalisasi.

Untuk mengurangi waktu belajar di tenda, disiapkan alternatif berupa pemanfaatan ruang lain, termasuk perpustakaan atau ruangan yang belum digunakan secara optimal.

Dengan demikian, pemeriksaan berkala bangunan sekolah bukan sekadar kegiatan administratif. Pemeriksaan menjadi langkah untuk mengetahui kondisi konstruksi, terutama pada bangunan lama, sehingga kerusakan seperti kayu lapuk dapat terdeteksi sebelum berkembang menjadi persoalan keselamatan.

Bangunan sekolah berusia puluhan tahun tetap dapat digunakan sepanjang kondisinya memenuhi persyaratan keselamatan.

Namun, pemeriksaan dan pemeliharaan harus dilakukan secara berkala, terutama terhadap komponen yang mengalami penurunan kualitas akibat usia dan penggunaan.

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
sarana prasarana sekolah pemeriksaan berkala bangunan sekolah bangunan sekolah lama konstruksi bangunan lapuk keamanan gedung sekolah